Depok, 13 Agustus 2026 — Upaya mengoptimalkan tumbuh kembang anak usia dini membutuhkan lebih dari sekadar layanan kesehatan. Kesehatan, gizi, pendidikan, pengasuhan, perlindungan anak, hingga dukungan keluarga perlu berjalan bersama-sama. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Ngabila Salama, mahasiswa Program Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), mengembangkan model integrasi lintas sektor untuk mengoptimalkan perkembangan balita di PAUD di Jakarta.
Penelitian tersebut dituangkan dalam disertasi berjudul “Pengembangan Model Integrasi Lintas Sektor untuk Optimalisasi Perkembangan Balita di PAUD di Jakarta Tahun 2025”, yang dipertahankan dalam sidang promosi doktor pada 13 Agustus 2026. Disertasi Ngabila menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung perkembangan anak pada masa golden period, ketika perkembangan fisik, bahasa, kognitif, dan sosial-emosional berlangsung sangat pesat.
Penelitian ini berangkat dari kondisi bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki berbagai program untuk mendukung tumbuh kembang anak, mulai dari layanan kesehatan dan pemantauan perkembangan, Posyandu, PAUD, program gizi, hingga program pengasuhan dan perlindungan sosial. Namun, pelaksanaannya masih cenderung berjalan sendiri-sendiri. Koordinasi antarprogram, integrasi data, pembagian peran, dan tindak lanjut di tingkat masyarakat belum optimal.
Melalui pendekatan mixed methods dan desain Research and Development (R&D), Ngabila kemudian mengembangkan model yang menghubungkan layanan kesehatan, pendidikan, pengasuhan, perlindungan anak, dan gizi melalui tata kelola berbasis kecamatan. Penelitian ini juga menghasilkan modul implementasi yang telah melalui proses validasi dan uji coba.
Dalam model yang dikembangkan, PAUD ditempatkan sebagai salah satu titik strategis untuk menghubungkan berbagai layanan karena memiliki akses langsung terhadap anak dan keluarga. Sementara itu, tingkat kecamatan dipilih sebagai ruang koordinasi lintas sektor yang mempertemukan pemerintah daerah, Puskesmas, PAUD, Posyandu, kader kesehatan, dan keluarga.
Penelitian ini mengidentifikasi 10 sektor dengan 50 program serta tiga aktor kunci, yaitu guru PAUD, tenaga kesehatan, dan kader. Hasilnya menunjukkan bahwa tantangan utama bukan kekurangan program, melainkan masih terfragmentasinya tata kelola, data, dan indikator antarprogram. Untuk menjawab persoalan tersebut, penelitian ini menghasilkan Model Tata Kelola Integrasi Perkembangan Balita dan Modul Integrasi Program bagi Guru PAUD.
Implementasi model melibatkan guru PAUD, kader Posyandu, tenaga kesehatan, dan orang tua. Hasil uji coba menunjukkan bahwa model ini dapat meningkatkan koordinasi lintas sektor sekaligus meningkatkan indikator perkembangan balita. Modul yang dikembangkan juga meningkatkan pengetahuan pengasuhan pada ibu balita serta kapasitas guru PAUD dalam melakukan stimulasi dan mendeteksi perkembangan anak secara dini.
Penelitian ini juga menghasilkan 14 kelompok dan 60 indikator integrasi, dengan 10 indikator yang dinilai berpotensi menjadi indikator utama untuk pemantauan dan evaluasi lintas sektor. Modul edukasi yang dikembangkan terbukti dapat meningkatkan pengetahuan guru PAUD dan skor KPSP dalam mendukung optimalisasi perkembangan balita.
Bagi pembangunan kesehatan masyarakat, penelitian ini relevan secara strategis karena perkembangan anak usia dini merupakan salah satu fondasi pembentukan kualitas sumber daya manusia dan memiliki kaitan erat dengan agenda pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. Model yang dikembangkan Ngabila berpotensi menjadi acuan untuk memperkuat koordinasi layanan anak usia dini, tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di wilayah perkotaan lain dengan karakteristik serupa.
Penelitian ini juga merekomendasikan penguatan kebijakan lintas sektor, termasuk penyusunan regulasi bersama, pelatihan bagi guru PAUD, tenaga kesehatan dan kader, penguatan integrasi data, serta pemanfaatan sumber pendanaan yang telah tersedia agar model dapat diterapkan secara berkelanjutan tanpa harus selalu menambah sumber daya baru.
Dalam sidang promosi doktor tersebut, Ngabila dibimbing oleh Prof. Dr. Ede Surya Darmawan, SKM, MDM selaku promotor, serta Prof. Dr. dr. Sabarinah Prasetyo, M.Sc dan Prof. Purnawan Junadi, MPH, PhD sebagai ko-promotor. Tim penguji terdiri atas Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, M.P.H sebagai ketua, serta Dr. Mariana, M.Si., Dr. Drs. Nana Mulyana, M.Kes., Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, SpA, Subsp.TKPS., dan Dr. dr. Bernie Endyarni Madise, Sp.A (K), MPH. sebagai anggota.
Melalui disertasi ini, FKM UI kembali menunjukkan peran pendidikan doktoral dalam menghasilkan penelitian yang berangkat dari persoalan nyata di masyarakat dan menawarkan solusi yang dapat diterapkan. Pengembangan model integrasi lintas sektor untuk optimalisasi perkembangan balita juga memperkuat kontribusi FKM UI dan Universitas Indonesia dalam mendorong pembangunan sumber daya manusia sejak usia dini melalui pendekatan kesehatan masyarakat yang kolaboratif dan berbasis bukti.
Selamat kepada Dr. Ngabila Salama atas pencapaian gelar doktornya. Semoga hasil penelitian ini dapat terus dikembangkan dan memberikan kontribusi bagi penguatan layanan anak usia dini serta terwujudnya generasi Indonesia yang sehat dan berkualitas. (wrk)

