Di balik deretan publikasi internasional dan kolaborasi lintas negara, perjalanan Kanya Anindya tidak dibangun dalam kondisi yang mudah. Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) angkatan 2011 ini justru menempa dirinya di tengah keterbatasan fisik yang tidak ringan. Namun, dari ruang-ruang kelas di FKM UI hingga pusat riset global di Eropa, Kanya membuktikan bahwa ketekunan, dukungan, dan kecintaan pada ilmu dapat membawa seseorang melampaui batas yang tampak mustahil.
Menekuni peminatan Biostatistika, Kanya menyelesaikan studi sarjana di FKM UI pada tahun 2015 sebagai lulusan terbaik. Ketertarikannya pada dunia riset telah tumbuh sejak masa kuliah, ketika ia menjadi asisten peneliti bagi Prof. Meiwita Budiharsana sejak 2014. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting yang mengasah kemampuannya dalam analisis data, riset kebijakan, hingga penulisan ilmiah. Ia turut terlibat dalam berbagai proyek strategis, termasuk mendukung kajian sektor kesehatan nasional.
Selepas lulus, Kanya memulai karier sebagai analis data kesehatan di Bappenas pada tahun 2016. Namun, panggilan untuk mendalami riset membawanya melanjutkan studi magister di University of Melbourne pada 2018–2019. Di sana, ia tidak hanya meraih predikat First Class Honours, tetapi juga memperluas jejaring global melalui keterlibatannya sebagai research assistant di Nossal Institute for Global Health. Kanya berkolaborasi dengan berbagai akademisi dari institusi ternama dunia, memperkuat perspektif global dalam riset kesehatan masyarakat.
Jejak internasionalnya semakin kuat ketika pada 2021 ia terlibat dalam kolaborasi dengan WHO Centre for Health Development. Dalam proyek ini, Kanya berkontribusi dalam analisis data lintas 83 negara untuk mengukur kesenjangan akses layanan kesehatan, khususnya unmet needs for health care. Hasil riset tersebut tidak hanya dipublikasikan dalam berbagai laporan WHO, tetapi juga dikutip dalam Tracking Universal Health Coverage: 2023 Global Monitoring Report, menjadikannya bagian dari referensi penting dalam diskursus kesehatan global.
Produktivitas ilmiah Kanya menjadi salah satu kekuatan utamanya. Dalam lima tahun terakhir, ia telah menghasilkan 26 artikel ilmiah di jurnal internasional bereputasi, dengan sejumlah publikasi sebagai penulis pertama. Karyanya terbit di berbagai jurnal bergengsi seperti Scientific Reports, International Journal for Equity in Health, BMJ Global Health, hingga The Lancet eClinicalMedicine. Topik yang ia angkat mencerminkan konsistensi pada isu ketimpangan kesehatan, multimorbiditas, serta akses layanan kesehatan lintas negara—mulai dari Indonesia, India, hingga kawasan Eropa dan global. Selain artikel jurnal, kontribusinya juga hadir dalam laporan strategis organisasi global, termasuk riset terkait unmet health care needs yang menjadi rujukan kebijakan di tingkat internasional.
Pada 2022, Kanya melanjutkan studi doktoral di University of Gothenburg dengan pendanaan penuh. Fokus penelitiannya berada pada ketimpangan kesehatan, faktor risiko multimorbiditas, serta analisis biostatistik dan ekonomi kesehatan. Selama masa PhD, ia tetap aktif berkolaborasi dengan WHO, khususnya dalam mengkaji kesenjangan akses layanan kesehatan di kawasan Eropa, sekaligus memperkuat rekam jejak publikasi dan hibah risetnya di tingkat global.
Langkah berikutnya akan membawanya ke salah satu institusi riset medis terkemuka dunia, Karolinska Institutet, di mana ia akan menjalani posisi sebagai Postdoctoral Researcher di bidang biostatistika mulai September 2026, dengan fokus pada penyakit hati (liver disease). Perjalanan ini menandai fase baru dalam kontribusinya terhadap pengembangan ilmu kesehatan global.
Namun, di balik capaian akademik tersebut, terdapat kisah perjuangan personal yang jarang terlihat. Selama menempuh studi di FKM UI, Kanya hidup dengan kondisi Myasthenia Gravis serta beberapa penyakit autoimun lainnya. Ia harus menjalani perkuliahan dengan bantuan tabung oksigen, bahkan sempat mengambil cuti akademik akibat kelumpuhan dan operasi besar.
“Jika bukan karena dukungan teman-teman, dosen-dosen—terutama Prof. Meiwita, Prof. Besral, Ibu Popy, Pak Iwan, Pak Pandu dan Prof. Purnawan—serta seluruh sivitas akademika FKM UI, saya tidak mungkin bisa menyelesaikan studi S1, apalagi melanjutkan ke jenjang berikutnya,” ungkap Kanya.
Bagi Kanya, FKM UI bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang yang membentuk ketahanan, empati, dan semangat untuk terus berkontribusi. Fondasi keilmuan Biostatistika yang ia peroleh di FKM UI menjadi bekal utama dalam perjalanan akademik dan profesionalnya hingga ke tingkat global.
Kisah Kanya Anindya menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses yang dapat membentuk kekuatan. Dari Depok ke Gothenburg, hingga Stockholm, langkahnya terus bergerak—membawa semangat FKM UI untuk memberi dampak nyata bagi kesehatan masyarakat dunia. (wrk)

