Senin, 1 Desember 2025, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan Seminar Online (Semol) Seri 13 yang bertajuk “Golden Age Wellness: Mempersiapkan Menopause secara Holistik untuk Mencegah Osteoporosis” secara hybrid. Kegiatan tersebut menjadi sesi diskusi interaktif yang membahas kesehatan reproduksi perempuan khususnya dalam menghadapi fase menopause secara holistik dan preventif dengan menghadirkan akademisi hingga praktisi.
Prof. Fatma Lestari, S.Si., M.Si., Ph.D., Ketua Dewan Guru Besar FKM UI periode 2025-2030 menyampaikan sambutan dan tujuan dari kegiatan tersebut. “Kegiatan ini merupakan wujud komitmen kami dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan Indonesia. Tingginya angka prevalensi osteoporosis di Indonesia menunjukkan bahwa masalah tersebut bukan sekadar masalah medis, tetapi juga terkait kemandirian, kualitas hidup, dan kesejahteraan lansia. Saya berharap webinar ini menjadi wadah berbagi ilmu yang bermanfaat serta meningkatkan kesadaran bahwa menopause adalah fase menuju keseimbangan baru yang dapat dijalani secara sehat dan bermakna.”
Prof. Dr. dr. Ella Nurlaella Hadi, M.Kes., dari Kelompok Studi Kesehatan Reproduksi dan Guru Besar FKM UI menyampaikan harapan dalam terlaksananya kegiatan Semol Seri 13. “Tujuan daripada webinar ini adalah meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran masyarakat khususnya perempuan tentang pentingnya mempersiapkan masa menopause secara holistik sehingga mampu mencegah kejadian osteoporosis. Kami berharap apa yang dipaparkan oleh ketiga narasumber dapat menambah pengetahuan, sehingga kita dapat mencegah terjadinya osteoporosis,” tutur Prof. Ella.
Kegiatan Semol Seri 13 dimoderatori oleh Prof. Dr. drg. Indang Trihandini, M.Kes., Ketua Dewan Guru Besar Periode 2020-2025 dan staf pengajar Kelompok Studi Kesehatan Reproduksi FKM UI. Materi pertama disampaikan oleh Dr. dr. Helda, M.Kes., Ketua Program Studi Magister Epidemiologi, mengenai “Perubahan Fisiologis dan Hormonal pada Masa Menopause serta Kaitannya dengan Kesehatan Tulang”. Disampaikan bahwa menopause seringkali dianggap sebagai akhir dari fase reproduksi, sementara masa lansia seringkali dikaitkan dengan penurunan. Akan tetapi, berbagai studi dan program menunjukkan bahwa kedua fase ini justru dapat menjadi peluang untuk memaksimalkan kualitas hidup melalui dukungan holistik, baik dari sisi hormonal, fisik, mental, hingga sosial-komunitas.
“Perubahan yang paling signifikan yang dihadapi wanita memasuki usia 45–55 tahun adalah menopause, yakni berhentinya menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Fase ini ditandai dengan penurunan drastis kadar hormon estrogen. Penurunannya tidak hanya memicu gejala vasomotor seperti hot flashes dan keringat malam, tetapi juga mempengaruhi sistem tubuh lainnya,” tutur Dr. Helda. Selain itu, disampaikan pula bahwa pencegahan yang komprehensif sedari dini menjadi hal yang perlu dilakukan karena massa tulang puncak harus dibangun sebelum usia 30 tahun. “Setelah menopause, penting untuk memastikan asupan kalsium dan vitamin D yang memadai, termasuk melalui makanan lokal seperti tahu, tempe, dan ikan, serta deteksi dini menggunakan alat seperti FRAX (Fracture Risk Assessment Tool),” tutup Dr. Helda dalam penyampaian materinya.
Materi kedua disampaikan oleh Dr. Asti Widihastuti, MHC., Praktisi Kesehatan Masyarakat, UNFPA Indonesia, yang membahas hubungan antara menopause dan kesehatan mental. Disampaikan bahwasannya menopause bukan hanya sebagai peristiwa biologi, tetapi sebagai isu kesehatan populasi, ekonomi, dan ekuitas. Hal tersebut ternyata sejalan dengan hal yang dipromosikan oleh UNFPA (United Nations Population Fund).
“Fluktuasi hormonal di fase perimenopause sangat memengaruhi kesejahteraan mental dan emosional, sehingga seringkali menyebabkan gangguan suasana hati, kecemasan, depresi, dan sulit konsentrasi,” tutur Dr. Asti. “UNFPA menekankan bahwa menopause bukan sekadar isu kesehatan pribadi, melainkan isu kesehatan populasi, ekonomi, dan ekuitas. Untuk itu, dalam penanganannya perlu menggunakan pendekatan multisektor yang berfokus pada ekuitas, termasuk mengatasi isolasi sosial, menjamin keamanan ekonomi, dan mengurangi stigma.”
Dr. drg. Maria Margaretha, M.Si., FISQua selaku Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta, menjadi pemateri ketiga yang memaparkan bahwa dukungan sosial dan komunitas terbukti krusial dalam meningkatkan kualitas hidup lansia. Adapun DKI Jakarta mewujudkan dukungan tersebut melalui layanan panti dan bantuan di luar panti.
“Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta mengelola Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia yang menyediakan layanan komprehensif bagi Warga Binaan Sosial (WBS) lansia. Adapun program yang diberikan berupa pelayanan kesehatan, pendampingan sosial, hingga pemenuhan dasar. Selain itu, kami juga memberikan dukungan sosial yang disalurkan di luar panti melalui program rehabilitasi sosial, yakni melalui Kartu Lansia Jakarta (KLJ) dalam pemberian dana langsung sebesar Rp300.000,00 per bulan untuk menunjang pemenuhan kebutuhan dasar bagi lansia dan Bantuan ABF sebagai penyediaan alat bantu fisik seperti kursi roda dan tongkat netra melalui Suku Dinas,” tutur Dr. Maria menyampaikan komitmen Dinas Sosial DKI Jakarta terhadap pemberian dukungan bagi perempuan lansia.
Sebagai institusi yang berkomitmen pada pengembangan ilmu kesehatan masyarakat dan peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia, FKM UI melihat Semol Seri 13 sebagai bagian penting dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat literasi kesehatan perempuan lansia. Melalui kolaborasi lintas disiplin, pemaparan ilmiah berbasis bukti, serta keterhubungan dengan pemangku kepentingan di tingkat akademik, pemerintah, dan organisasi internasional, FKM UI terus mempertegas perannya dalam mendorong kebijakan dan praktik yang lebih inklusif dan holistik. Penyelenggaraan seminar ini diharapkan tidak hanya memperluas pemahaman, tetapi juga menggerakkan aksi nyata dalam mempersiapkan perempuan Indonesia menghadapi masa menopause dengan sehat, mandiri, dan bermartabat. Materi dan rekaman semol dapat diakses di fkmui.ui.ac.id. (ITM).

