Bangun Kesadaran dan Resiliensi Masa Depan Kesehatan Lingkungan, FKM UI Gelar Webinar Internasional EARTH

Depok, 6 Juni 2026 – Tantangan kesehatan global saat ini tidak lagi hanya berkutat pada masalah virus atau bakteri, melainkan telah bergeser pada perubahan lingkungan yang masif dan polusi yang semakin kompleks. Menjawab tantangan kritis tersebut, Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) bersama EHA Institute menggelar webinar berskala internasional bertajuk “Environmental Awareness and Resilience for Tomorrow’s Health: Current Updates on Environmental Health”. Webinar yang diselenggarakan pada Sabtu, 6 Juni 2026 tersebut menjadi wadah penting bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi untuk bertukar gagasan, bukti ilmiah, serta solusi berbasis keberlanjutan.

Manajer Akademik, Internasionalisasi, Alumni, dan Kemahasiswaan FKM UI, Dr. Laila Fitria, S.K.M., M.K.M., dalam sambutannya menekankan bahwa kondisi kesehatan manusia sangat tidak bisa dipisahkan dari kesehatan lingkungan tempat tinggal. 

“Pertama, kita harus memperkuat kesadaran lingkungan di tingkat individu, komunitas, institusi, hingga pembuat kebijakan. Kedua, kita harus membangun resiliensi, kapasitas masyarakat, dan sistem kesehatan kita untuk mengantisipasi, beradaptasi, dan pulih dari ancaman lingkungan,” tutur Dr. Laila dalam sambutannya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan FKM UI, Dr. Zakianis, S.K.M., M.K.M., menyampaikan apresiasi dan kehormatan atas kehadiran para pakar lintas negara, khususnya dari Jepang dan Malaysia. Dr. Zakianis berharap diskusi tersebut mampu memantik kolaborasi riset yang lebih luas di masa depan demi mewujudkan dunia yang lebih hijau dan sehat.

Sesi materi pertama disampaikan oleh Ir. Ts. Dr. Dewika Naidu, selaku Associate Professor dari Sunway University, Malaysia. Materi yang bertajuk “Microplastics in Air and Health Impact” mengupas ancaman yang kini telah masuk ke dalam sistem biologis manusia, yakni mikroplastik dan nanoplastik. Partikel ini berasal dari emisi primer (seperti serat tekstil sintetis, ban kendaraan, dan microbeads kosmetik) serta emisi sekunder hasil fragmentasi sampah makro akibat radiasi UV matahari dan abrasi mekanis.

Setelah berpindah secara dinamis di udara, tanah, dan sistem akuatik, mikroplastik akhirnya menyusup ke dalam tubuh manusia melalui tiga jalur utama, yakni ingesti (makanan dan produk air minum dalam kemasan), inhalasi (udara berpolusi serat sintetis), dan dermal (kontak kulit dengan nanoplastik). Di dalam tubuh, paparan kronis dosis rendah ini memicu efek inflamasi kumulatif, penurunan fungsi paru (gejala mirip PPOK), hingga risiko disfungsi endotel pada sistem kardiovaskular. Partikel mikro/nanoplastik kini bahkan telah ditemukan dalam sampel darah, jaringan paru-paru, hingga plasenta manusia.

“Setiap keputusan individu untuk menekan penggunaan plastik sekali pakai, dapat secara langsung mengurangi laju pembentukan mikroplastik sekunder di alam,” ungkap Dr. Dewika Naidu saat menekankan pentingnya langkah preventif dari hulu masalah.

Bergeser pada paparan materi kedua, Dr. Delgama Arachchige Sachini dari Nagoya University Graduate School of Medicine, Jepang, membawa fokus pada polusi udara partikel halus PM 2.5 dan mengambil tajuk riset terbarunya, “Emerging Risk: Intranasal Tin Exacerbates Allergic Rhinitis in Humans and Mice“. Dr. Delgama mengaitkan epidemi rinitis alergi (yang diderita 50% populasi Jepang akibat serbuk sari) dengan komponen kimia spesifik di dalam polusi udara, yaitu Timah.

Melalui pendekatan epidemiologi pada manusia dan studi laboratorium pada mencit, risetnya membuktikan bahwa penderita rinitis alergi memiliki konsentrasi Timah yang jauh lebih tinggi di dalam cairan hidung dan serum darah mereka. Menariknya, partikel Timah dari PM 2.5 ini justru terperangkap dalam jumlah besar di dalam rongga hidung penderita alergi karena terikat secara fisik di dalam produksi lendir (mucin) yang berlebih. Akumulasi Timah yang tertahan lama akan menstimulasi jaringan hidung secara terus-menerus dan memperparah gejala klinis seperti bersin kronis dan gatal hebat.

“Analisis statistik menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara tingginya konsentrasi Timah di dalam cairan hidung dengan tingkat keparahan gejala klinis penderita, seperti bersin-bersin dan penyumbatan hidung,” papar Dr. Delgama dalam penjelasannya.

Sebagai pemungkas, Ir. Dr. Farhana Aziz dari Universiti Teknologi Malaysia menawarkan solusi teknologi di sektor hilir melalui proses kimiawi lanjut untuk menyisihkan kontaminan industri beracun (Phenol, Chromium, Cadmium, Mangan) di dalam air. Kontaminan-kontaminan ini bersifat persisten dan bioakumulatif, sehingga instalasi pengolahan konvensional sering kali tidak mampu menyisihkannya secara efisien.

Dr. Farhana mengenalkan kombinasi Sustainable Materials dan Advanced Materials melalui sistem UV-AOP. Melalui studi percontohan di WTP Gresik, teknologi ini terbukti sangat tangguh. Energi dari cahaya UV memutus ikatan oksidan kimia untuk menghasilkan radikal hidroksil melimpah yang menyerang cincin fenol agresif  yakni mencapai efisiensi 84,1%–100%. Sementara untuk polutan logam berat seperti Chromium dan Mangan, radikal melakukan transformasi redoks dan memaksa logam terlarut mengendap menjadi senyawa padat tidak larut agar mudah dipisahkan secara fisik.

“Penyisihan fenol dalam sistem UV-AOP dikendalikan oleh kompetisi memperebutkan radikal dan penetrasi cahaya, sehingga optimasi parameter crosslink sangat mutlak diperlukan untuk mendapatkan efisiensi tertinggi,” jelas Dr. Farhana Aziz.

Sebagai forum ilmiah yang mempertemukan perspektif global dan solusi lintas disiplin, webinar EARTH menjadi pengingat bahwa kesehatan lingkungan merupakan fondasi utama bagi keberlangsungan kesehatan manusia di masa depan. Berbagai temuan dan inovasi yang dipaparkan para narasumber menegaskan pentingnya kolaborasi antara akademisi, peneliti, praktisi, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks. Melalui kegiatan ini, FKM UI berharap dapat terus mendorong lahirnya kesadaran, riset, dan aksi nyata yang berkontribusi pada terciptanya lingkungan yang lebih sehat, tangguh, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. (ITM)