#DiasporaFKMUI – Menjaga yang Rentan, Merawat Harmoni: Jejak Global Alicia Nevriana dari FKM UI ke Karolinska Institutet

Kesibukannya meneliti data registri nasional Swedia tentang kesehatan mental dan risiko bunuh diri, tak menghalangi Alicia Nevriana untuk tetap meluangkan waktu memainkan viola. Bagi alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia ini, musik bukan sekadar hobi—ia adalah bagian dari cara pandang terhadap hidup, kesehatan, dan ilmu pengetahuan. 

Kini menjabat sebagai Assistant Professor di Karolinska Institutet, Swedia, Alicia dikenal sebagai epidemiolog yang meneliti kelompok-kelompok rentan: anak dengan orang tua yang mengalami gangguan mental, tenaga kesehatan dengan risiko bunuh diri, hingga pekerja dengan tekanan psikososial tinggi. Namun, benang merah antara sains dan musik dalam hidupnya sudah terajut sejak bangku kuliah S1 di FKM UI.

Skripsi tentang Musik: Ketertarikan yang Konsisten Sejak Awal

Saat menempuh studi Sarjana Kesehatan Masyarakat (peminatan Biostatistika) di FKM UI, Alicia tidak memilih topik yang lazim. Ia meneliti hubungan antara aktivitas bermusik sepanjang hidup dan fungsi kognitif pada lanjut usia.

Penelitiannya yang kemudian terbit di Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional berjudul “Lifetime Musical Activities and Cognitive Function of the Elderly” melibatkan 53 lansia di tiga panti werdha di Jakarta Timur. Dengan menggunakan instrumen Mini Mental State Examination (MMSE), ia mengevaluasi apakah keterlibatan dalam aktivitas musik—seperti bermain alat musik dan bernyanyi—berkaitan dengan fungsi kognitif.

Hasilnya menunjukkan bahwa lansia yang tidak aktif bermusik sepanjang hidupnya memiliki kemungkinan sekitar dua kali lebih besar mengalami gangguan fungsi kognitif dibandingkan mereka yang aktif bermusik, setelah dikontrol berdasarkan usia dan jenis kelamin. Meski bersifat studi awal dengan keterbatasan desain potong lintang, temuannya mengisyaratkan manfaat jangka panjang aktivitas musikal terhadap fungsi otak.

Bagi Alicia, penelitian itu bukan sekadar tugas akhir. Ia sendiri adalah musisi yang aktif—dan hingga kini tetap menekuni permainan viola. Ketertarikan personalnya pada musik mendorongnya mengajukan pertanyaan ilmiah: apakah harmoni dan ritme yang dilatih sejak muda dapat meninggalkan jejak biologis dalam proses penuaan?

“Musik melatih banyak fungsi sekaligus—motorik, kognitif, emosi. Ada kompleksitas yang menarik untuk dipahami secara ilmiah,” ungkapnya dalam sebuah kesempatan.

Dari Depok ke Stockholm: Epidemiologi dengan Perspektif Kemanusiaan

Fondasi kuat dalam biostatistika yang ia peroleh di FKM UI membawanya melanjutkan studi Magister dan Doktoral di Karolinska Institutet. Disertasinya bertajuk “Children and Adolescents with Parental Mental Illness (CAPRI)” mengkaji prevalensi serta dampak kesehatan fisik dan sosial pada anak dengan orang tua yang mengalami gangguan mental.

Sejumlah publikasinya muncul di jurnal internasional bereputasi, termasuk BMJ, Pediatrics, dan The Lancet Public Health (kolaboratif). Penelitiannya menunjukkan bahwa anak dengan paparan gangguan mental orang tua memiliki risiko lebih tinggi mengalami cedera, masalah kesehatan tertentu, hingga kerentanan sosial.

Dalam beberapa tahun terakhir, fokusnya meluas ke kesehatan mental tenaga kesehatan. Studi kohort berbasis populasi yang ia pimpin dan terbit di Acta Psychiatrica Scandinavica (2025) menemukan adanya peningkatan risiko bunuh diri dan percobaan bunuh diri pada kelompok tenaga kesehatan di Swedia. Riset ini mendapat sorotan luas media nasional dan internasional.

Melalui pendekatan epidemiologi registri berskala besar, Alicia berupaya menghadirkan bukti kuat untuk mendukung kebijakan preventif—baik dalam perlindungan anak, kesehatan pekerja, maupun kesehatan mental perempuan.

Sains dan Musik: Dua Dunia yang Saling Menguatkan

Meski karier akademiknya berkembang di panggung global, kecintaannya pada musik tetap hidup. Bermain viola menjadi ruang refleksi sekaligus penyeimbang di tengah tekanan dunia riset.

Menariknya, apa yang dahulu ia teliti sebagai mahasiswa—tentang plastisitas otak, stimulasi kognitif, dan aktivitas musikal—kini ia alami sendiri sebagai bagian dari gaya hidup. Dalam banyak literatur, aktivitas musik diketahui melibatkan koordinasi sensorimotor, pemrosesan auditori, memori, serta regulasi emosi. Semua itu selaras dengan ketertarikannya pada isu kesehatan mental dan fungsi otak sepanjang siklus hidup.

Perjalanan Alicia menunjukkan bahwa minat personal tidak harus ditinggalkan saat memasuki dunia akademik yang serius dan kompetitif. Justru, dalam kasusnya, musik menjadi pintu masuk awal menuju pertanyaan-pertanyaan ilmiah yang lebih luas tentang penuaan, kesehatan mental, dan kualitas hidup.

Diaspora FKM UI di Panggung Global

Kini, sebagai Assistant Professor dengan fokus riset di bidang epidemiologi kesehatan mental dan kesehatan kerja, Alicia juga aktif membimbing mahasiswa, menjadi penelaah di berbagai jurnal internasional seperti The Lancet Psychiatry dan JAMA Network Open, serta terlibat dalam jejaring riset Eropa.

Namun di balik daftar publikasi dan hibah penelitian, ada satu hal yang konsisten sejak masa kuliah di Depok: keyakinan bahwa kesehatan bukan hanya soal penyakit, tetapi juga tentang bagaimana manusia hidup, berkarya, dan menemukan makna—termasuk melalui musik.

Kisah Alicia Nevriana adalah potret diaspora FKM UI yang membawa kombinasi sains, empati, dan kreativitas ke tingkat global. Dari skripsi tentang aktivitas bermusik di panti werdha Jakarta Timur hingga riset registri jutaan penduduk di Swedia, ia membuktikan bahwa harmoni antara passion dan profesi bukanlah hal yang mustahil.

Dan mungkin, di antara deretan data dan analisis statistik, alunan viola itulah yang terus mengingatkannya: bahwa di balik setiap angka, selalu ada cerita manusia yang layak dipahami. (wrk)