Doktor Baru FKM UI Teliti Metabolit Asam Amino Tinja untuk Deteksi Dini Gangguan Pertumbuhan Bayi

Depok, 10 Februari 2026 — Upaya pencegahan stunting kembali mendapatkan penguatan dari dunia akademik. Program Studi Doktor Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), menggelar Sidang Terbuka Promosi Doktor atas nama Tonny Sundjaya.

Sidang promosi dipimpin oleh Prof. Dr. Indri Hapsari Susilowati, S.K.M., M.K.K.K. selaku Ketua Sidang, dengan Prof. Dr. Besral, S.K.M., M.Sc. sebagai Ketua Tim Penguji. Bertindak sebagai Promotor adalah Prof. Dr. dr. Asri C. Adisasmita, M.P.H., M.Phil., Ph.D., didampingi Ko-promotor Prof. Dr. dr. Ratna Djuwita, M.P.H., dan Dr. dr. Conny Tanjung, Sp.A(K). Tim penguji terdiri dari para pakar lintas disiplin, yakni Prof. dr. Muh. Nasrum Massi, Ph.D., Sp.MK(K); Drh. Safarina G. Malik, M.S., Ph.D.; dr. Bahrul Fikri, M.Kes., Sp.A(K), Ph.D.; serta dr. Fathimah Sulistyowati Sigit, M.Res., Ph.D., CertDA.

Dalam disertasinya yang berjudul “Hubungan Perubahan Metabolit Asam Amino Tinja dengan Perubahan Berat Badan pada Bayi dengan Weight Faltering: Analisis Data Sekunder,” Tonny mengangkat isu krusial dalam kesehatan anak, yakni weight faltering—kondisi perlambatan pertambahan berat badan pada bayi yang dapat menjadi fase awal menuju stunting apabila tidak ditangani secara tepat.

Tonny menjelaskan bahwa weight faltering bukan sekadar persoalan kurang asupan gizi, melainkan cerminan interaksi kompleks antara nutrisi, fungsi mukosa usus, serta ekologi mikrobiota. Salah satu pendekatan inovatif yang dikaji dalam penelitiannya adalah analisis metabolom tinja, khususnya metabolit asam amino, sebagai kandidat indikator fungsional kesehatan usus dan pemanfaatan nutrisi.

Penelitian ini merupakan analisis data sekunder dari studi kohort prospektif yang melibatkan 149 bayi usia 6–9 bulan yang mengalami weight faltering. Para bayi tersebut mendapatkan intervensi gizi selama satu bulan berupa asuhan nutrisi pediatrik, dengan atau tanpa tambahan pangan olahan khusus untuk keperluan medis.

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang bermakna secara statistik antara perubahan kadar metabolit asam amino tinja valin dan arginin dengan perubahan berat badan. Penurunan residu kedua asam amino tersebut dalam tinja berkaitan dengan peningkatan berat badan bayi setelah intervensi. Temuan ini diduga mencerminkan perbaikan absorpsi dan/atau pemanfaatan asam amino di saluran cerna.

Meski demikian, model penelitian ini hanya mampu menjelaskan sebagian variasi perubahan berat badan, sehingga menunjukkan bahwa gangguan pertumbuhan merupakan bagian dari sistem biologis yang lebih kompleks. Tonny menekankan perlunya penelitian lanjutan dengan desain yang lebih komprehensif, jumlah sampel lebih besar, serta integrasi analisis mikrobiota dan metabolomik untuk memperdalam pemahaman mekanisme biologis yang mendasari gangguan pertumbuhan pada awal kehidupan.

Temuan ini membuka peluang bahwa profil metabolit asam amino tinja, khususnya valin dan arginin, berpotensi menjadi biomarker fungsional non-invasif dalam memantau respons pertumbuhan dan efektivitas intervensi gizi pada bayi dengan weight faltering.

Sebagai rekomendasi, Tonny menekankan pentingnya penguatan pemantauan pertumbuhan bulanan pada bayi guna mendeteksi gangguan pertumbuhan sejak dini. Ia juga menggarisbawahi bahwa penanganan weight faltering tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan jumlah dan kualitas asupan makanan, tetapi juga perlu memperhatikan fungsi saluran cerna dan efisiensi penyerapan nutrisi.

Atas keberhasilan sidang promosi ini, Tonny Sundjaya resmi meraih gelar Doktor Epidemiologi dengan yudisium sangat memuaskan. Tonny adalah lulusan S3 Epidemiologi tahun 2026 ke-2, lulusan S3 Epidemiologi ke-127, lulusan S3 di FKM UI secara keseluruhan yang ke-495.

Diharapkan, hasil penelitian dari Tonny dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu epidemiologi gizi anak serta mendukung upaya percepatan pencegahan stunting di Indonesia melalui pendekatan yang lebih komprehensif dan berbasis bukti ilmiah. (Promovendus/wrk)