Depok, 27 Desember 2025 – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) kembali menghadirkan kontribusi ilmiah yang relevan bagi penguatan layanan kesehatan primer di Indonesia. Dian Meutia Sari, mahasiswa Program Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM UI, sukses mempertahankan disertasi berjudul “Pengembangan Instrumen TAMI (insTrumen skrining PPOK pAda Masyarakat berIsiko) di Indonesia.” Melalui riset ini, Dian menghadirkan instrumen skrining yang dirancang praktis untuk membantu penemuan dini Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).
Penelitian ini berlatar belakang masalah yang masih nyata di lapangan: penemuan kasus PPOK pada tahap awal masih rendah, padahal beban PPOK sebagai penyakit kronik terus meningkat. Di sisi lain, akses pemeriksaan spirometri masih terbatas, sementara instrumen skrining yang sederhana dan benar-benar sesuai dengan karakteristik risiko masyarakat Indonesia belum tersedia secara memadai. Kondisi ini membuat banyak kasus PPOK baru terdeteksi ketika sudah berada pada fase yang lebih berat, sehingga peluang intervensi dini menjadi makin sempit.
Dian mengembangkan disertasinya dengan desain exploratory sequential mixed methods yang dilaksanakan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, ia menjalankan penelitian kualitatif melalui wawancara mendalam untuk mengidentifikasi faktor risiko PPOK yang paling relevan dalam konteks Indonesia sekaligus menyusun draf awal instrumen TAMI. Tahap kedua dilanjutkan dengan penelitian kuantitatif menggunakan desain studi kasus-kontrol yang melibatkan 200 responden masyarakat berisiko PPOK, dengan spirometri sebagai gold standard untuk menilai kinerja diagnostik instrumen.
“Instrumen TAMI saya kembangkan agar bisa dipakai secara praktis di layanan kesehatan primer untuk membantu menjaring masyarakat berisiko PPOK sejak dini, dengan tetap mempertimbangkan faktor risiko yang sesuai dengan masyarakat Indonesia,” ujar Dian Meutia Sari.
Hasil penelitian menunjukkan instrumen TAMI memiliki kinerja diagnostik yang baik, dengan area under the curve (AUC) sebesar 0,773. Studi ini juga melaporkan bahwa sensitivitas dan spesifisitas instrumen TAMI lebih baik dibandingkan instrumen PUMA (Prevalence Study and Regular Practice, Diagnosis and Treatment Among General Practitioners in Populations at Risk of COPD). PUMA merupakan instrumen yang selama ini direkomendasikan secara nasional oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia pada tahun 2022. Selain itu, nilai positive predictive value (PPV) dan negative predictive value (NPV) TAMI juga lebih tinggi, yang menunjukkan kemampuan diskriminasi yang lebih baik, baik untuk mengidentifikasi kasus PPOK maupun menyingkirkan kasus non-PPOK.
Keunggulan utama TAMI terletak pada integrasi faktor risiko yang dekat dengan realitas masyarakat Indonesia. TAMI memasukkan riwayat merokok aktif maupun mantan perokok, termasuk rokok konvensional dan elektrik, yang dihitung menggunakan Indeks Brinkman. Instrumen ini juga mempertimbangkan pajanan polusi udara dalam ruangan, tingkat sesak napas berdasarkan modified Medical Research Council (mMRC) scale, serta riwayat asma. Kombinasi faktor tersebut membuat TAMI lebih komprehensif, tetapi tetap aplikatif untuk digunakan di layanan kesehatan primer.
Promotor penelitian, Prof. Dr. dr. Ratna Djuwita, M.P.H, menegaskan bahwa riset ini memberi kontribusi penting bagi penguatan pendekatan promotif dan preventif di layanan kesehatan primer, khususnya untuk meningkatkan penemuan kasus PPOK pada tahap awal. Selain menghasilkan instrumen skrining yang valid dan aplikatif, disertasi ini juga menyusun policy brief sebagai rekomendasi kebijakan bagi Kementerian Kesehatan dalam upaya pengendalian PPOK di Indonesia.
Sidang promosi doktor dipimpin oleh dewan penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Dra. Dumilah Ayuningtyas, M.A.R.S (Ketua Sidang), Prof. Dr. dr. Ratna Djuwita, M.P.H (Promotor), Prof. Dr. Besral, S.K.M., M.Sc dan dr. Triya Damayanti, Ph.D., Sp.P(K) (Ko-Promotor), serta para penguji Prof. Dr. Dra. Evi Martha, M.Kes, Dr. rer. Medic. Putri Bungsu, S.K.M., M.Epid, Dr. Eva Susanti, S.Kp, M.Kes, dr. Arief Bakhtiar, Sp.P(K), FAPSR, dan Dr. Ir. Chandra Rudyanto, MPH.
Dian Meutia Sari berhasil mempertahankan disertasinya dan meraih gelar Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat dengan yudisium cumlaude. Dian adalah lulusan S3 tahun 2025 ke-31, lulusan S3 IKM ke-370 dan lulusan S3 di FKM UI secara keseluruhan yang ke-486. (promovendus/wrk)

