Depok, 29 Juni 2026 – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) kembali meluluskan doktor baru melalui sidang terbuka promosi doktor Program Studi Doktor Epidemiologi. Pada kesempatan tersebut, Alwiyah Mukaddas berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Evaluasi Biomarker Fungsi Hati pada Orang dengan HIV/AIDS yang Menerima Terapi Kombinasi Rifapentine dan Isoniazid: Implikasi pada Terapi Pencegahan TB (TPT)”.
Sidang promosi doktor dihadiri oleh Dr. dr. Tri Yunis Miko Wahyono, M.Sc. selaku Ketua Tim Penguji, dengan Prof. dr. Mondastri Korib Sudaryo, M.S., D.Sc. sebagai Promotor serta Prof. drg. Nurhayati Adnan, M.P.H., M.Sc., Sc.D. dan Prof. Dr. dr. Sabarinah, M.Sc. sebagai Ko-promotor. Tim penguji terdiri atas Prof. Dr. dr. Evy Yunihastuti, Sp.PD., K-AI; dr. Pandu Riono, M.P.H., Ph.D.; dr. Soewarta Kosen, M.P.H., Dr.PH.; dan Ansariadi, S.K.M., M.Sc.PH., Ph.D.
Dalam disertasinya, Alwiyah mengangkat isu penting mengenai tingginya angka kematian akibat tuberkulosis (TB) pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) merupakan salah satu strategi yang direkomendasikan untuk mencegah infeksi TB laten berkembang menjadi TB aktif. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan, salah satunya adalah kekhawatiran terhadap efek samping obat, khususnya gangguan fungsi hati.
Melalui pendekatan embedded mixed methods, penelitian ini mengombinasikan studi kuantitatif longitudinal terhadap 189 orang dengan HIV/AIDS dengan evaluasi kualitatif menggunakan model Context, Input, Process, Product (CIPP). Penelitian dilaksanakan di lima puskesmas dan satu rumah sakit di Kabupaten Gowa dan Kota Makassar, Sulawesi Selatan, untuk menganalisis perubahan biomarker fungsi hati sekaligus mengevaluasi implementasi program TPT 3HP di lapangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian regimen TPT 3HP memang memengaruhi tren beberapa biomarker fungsi hati, seperti Alanine Aminotransferase (ALT), Alkaline Phosphatase (ALP), bilirubin total, dan albumin. Namun, perubahan tersebut tetap berada dalam rentang nilai normal sehingga tidak menunjukkan gangguan fungsi hati yang bermakna secara klinis. Penelitian juga menemukan bahwa efek samping yang muncul umumnya bersifat ringan dan dapat ditoleransi oleh pasien.
Temuan penting lainnya adalah tingginya angka keberhasilan penyelesaian terapi (completion therapy) yang mencapai 97,9 persen. Keberhasilan tersebut didukung oleh pendekatan interpersonal tenaga kesehatan kepada pasien, keberadaan role model dan opinion leader di komunitas, inovasi sederhana berupa pengemasan ulang obat (repacking), serta kepercayaan pasien kepada penanggung jawab layanan HIV. Di sisi lain, penelitian juga mengidentifikasi sejumlah tantangan implementasi, seperti mutasi tenaga kesehatan, kendala logistik, stigma sosial, variasi pengetahuan tenaga kesehatan, serta kesenjangan akses informasi di kalangan orang dengan HIV/AIDS.
Menurut Alwiyah, hasil penelitian ini memberikan bukti ilmiah bahwa penggunaan regimen TPT 3HP pada orang dengan HIV/AIDS relatif aman apabila disertai pemantauan yang tepat. Temuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan tenaga kesehatan dalam memberikan terapi pencegahan TB sehingga cakupan program nasional dapat terus ditingkatkan.
Selain memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu epidemiologi klinik, penelitian ini juga menawarkan rekomendasi bagi pengelola program TB-HIV untuk memperkuat implementasi TPT melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan sistem logistik, edukasi masyarakat, serta optimalisasi komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien. Dengan demikian, upaya percepatan eliminasi tuberkulosis dan pencapaian target Three Zeroes—tidak ada infeksi baru HIV, tidak ada kematian akibat AIDS, serta tidak ada stigma dan diskriminasi—dapat semakin didukung oleh bukti ilmiah yang kuat.
Penelitian Alwiyah Mukaddas menegaskan kembali peran FKM UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang terus menghasilkan riset berbasis bukti untuk menjawab tantangan kesehatan masyarakat nasional maupun global. Melalui inovasi penelitian yang relevan dengan kebutuhan program kesehatan, FKM UI berkomitmen mendukung penguatan kebijakan kesehatan berbasis evidence demi mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan berkeadilan. (wrk)

