Jakarta, 30 Mei 2026 — Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menggelar pertemuan strategis bersama Hainan International Medical Center (HIMC) dan Shanghai Jiao Tong University (SJTU) dalam agenda “Building the Indonesia–China Health Diplomacy and Innovation Partnership Meeting”. Pertemuan yang berlangsung di Olam All Day Dining, JS Luwansa Hotel, Jakarta, ini menjadi forum awal untuk memperkuat kolaborasi di bidang diplomasi kesehatan, pertukaran akademik, riset, inovasi, serta pengembangan kemitraan kesehatan antara Indonesia dan China.
Pertemuan ini menjadi tindak lanjut dari Memorandum of Understanding (MoU) antara Universitas Indonesia dan Shanghai Jiao Tong University yang telah menjadi fondasi kerja sama institusional. Melalui forum ini, FKM UI dan HIMC-SJTU membahas peluang kolaborasi yang lebih aplikatif, terutama melalui pendekatan One Health Diplomacy, inovasi kesehatan, implementasi riset, serta keterlibatan mitra strategis lintas sektor.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh delegasi HIMC-SJTU, di antaranya Dr. He Kang, Dr. Jack Cheong Io Hong, dan Ms. Cindy Chi Yingyi. Dari FKM UI, hadir Prof. Dr. Indri Hapsari Susilowati, S.K.M., M.K.K.K., Dekan FKM UI; Prof. Dr. Besral, S.K.M., M.Sc., Wakil Dekan Bidang Akademik, Penelitian, dan Kemahasiswaan; Rizka Maulida, S.K.M., M.H.Sc., Ph.D., Manajer Riset dan Pengabdian Masyarakat; Dr. Budi Hartono, S.Si., M.K.M., Manajer Kerja Sama dan Ventura; Prof. drh. Wiku Bakti Bawono Adisasmito, M.Sc., Ph.D., Guru Besar Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM UI sekaligus Head of the Implementation Team of the Health Task Force Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia; serta Dr. Wahyu Septiono, S.K.M., M.I.H., CertDA dari Departemen Biostatistik dan Kependudukan FKM UI.
Pertemuan ini juga melibatkan mitra dari HOP Dharma Indonesia, yaitu dr. Shela Rachmayanti, M.Epid, drh. Berlian Triwidakdo, dan Farah Ramadhani Putri Wicaksana, S.K.M. Selain itu, hadir pula Dr. Ade Heryana, S.St., M.K.M. dari Universitas Esa Unggul yang juga tergabung dalam Implementation Team of the Health Task Force Kemenko PMK.
Dalam pertemuan tersebut, Prof. Wiku Adisasmito berperan sebagai salah satu penghubung strategis dalam mendorong terbentuknya kerja sama ini. Ia membuka arah diskusi melalui presentasi mengenai kerangka Indonesia-China Health Diplomacy and Innovation Partnership, yang menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, pemerintah, fasilitas kesehatan, industri, dan mitra internasional dalam menjawab tantangan kesehatan regional.
Dalam paparannya, Prof. Wiku menyoroti sejumlah prioritas kesehatan bersama yang relevan bagi Indonesia dan China, seperti tuberkulosis, penyakit kardiovaskular, One Health, serta pengembangan teknologi kesehatan digital dan kecerdasan artifisial.
“Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan program unggulan yang tidak hanya berhenti pada riset, tetapi juga dapat diimplementasikan dan memberikan dampak nyata bagi sistem kesehatan,” ujar Prof. Wiku.
Dekan FKM UI, Prof. Dr. Indri Hapsari Susilowati, S.K.M., M.K.K.K., dalam sambutannya menyampaikan perspektif kelembagaan FKM UI terhadap peluang kolaborasi ke depan. Pertemuan ini dinilai menjadi langkah penting untuk memperluas jejaring global FKM UI, khususnya dalam pengembangan riset, pendidikan, dan inovasi kesehatan masyarakat yang berdampak luas.
Diskusi berlangsung dinamis dengan membahas berbagai peluang kerja sama, mulai dari kolaborasi akademik, riset bersama, publikasi ilmiah, pertukaran dosen dan mahasiswa, hingga program pelatihan di Indonesia dan China.
Dalam pembahasan terkait kolaborasi ilmiah, Dr. Jack Cheong Io Hong menyampaikan bahwa kesempatan pengembangan riset terbuka bagi seluruh mahasiswa yang memiliki kemauan untuk terlibat, tidak terbatas pada jenjang sarjana, magister, maupun doktor. Hal tersebut ditanggapi oleh Rizka Maulida, S.K.M., M.H.Sc., Ph.D., yang menekankan pentingnya membangun ekosistem riset yang mampu mendorong motivasi dan minat mahasiswa.
Selain peluang akademik dan riset, pertemuan ini juga menyoroti pentingnya penguatan ekosistem inovasi kesehatan. Masing-masing institusi memiliki peran strategis, mulai dari penguatan kapasitas akademik, riset translasi, implementasi program, hingga pengembangan inovasi yang berpotensi memberi dampak lebih luas. Melalui pendekatan tersebut, kerja sama diharapkan tidak hanya berhenti pada diskusi kelembagaan, tetapi juga diarahkan pada program yang lebih konkret dan terukur.
Melalui pertemuan ini, FKM UI menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran dalam diplomasi kesehatan, riset implementasi, dan inovasi kesehatan masyarakat di tingkat global. Kolaborasi Indonesia-China ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antarinstitusi sekaligus membuka peluang lahirnya solusi kesehatan yang lebih aplikatif, terukur, dan berdampak bagi masyarakat. (SHF)

