Depok, 28 Agustus 2026 – Menjembatani jarak antara temuan ilmiah dan dampaknya di lapangan bukanlah perjalanan yang singkat. Dalam kuliah tamu bertajuk “From Science to Impact: How Indonesia Is Changing the Future of Maternal and Child Nutrition” yang diselenggarakan pada Jumat, 28 Agustus 2026 di Ruang Promosi Doktor, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menghadirkan pakar nutrisi global untuk mengulas perjalanan panjang implementation science dalam kesehatan ibu dan anak terutama di Indonesia.
“Implementasi program yang ditujukan bagi ibu hamil ini merupakan langkah konkret untuk memperkuat efektivitas program gizi kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Program kesehatan masyarakat tidak boleh hanya didasarkan pada asumsi, melainkan harus berdiri di atas bukti ilmiah yang kuat bagaimana sejarah panjang Indonesia yang kerap menjadi pionir riset gizi dunia. Untuk itu, para mahasiswa FKM UI diharapkan dapat memahami posisi dan perannya dalam menyukseskan pengimplementasian program gizi kesehatan ibu dan anak di Indonesia,” tutur Prof. dr. Endang L. Achadi, M.P.H., Dr.PH. dalam sambutan yang diberikan.
Kuliah tamu tersebut menghadirkan Kristen M. Hurley, Ph.D., M.P.H., selaku Associate Professor dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health sekaligus Director Initiative to Advance Implementation Science in Nutrition sebagai narasumber serta dipandu oleh Nurul Dina Rahmawati, M.Sc., dosen Departemen Gizi FKM UI.
Dalam pemaparannya, Prof. Kristen Marie Hurley mengingatkan peran penting Indonesia dalam peta kesehatan masyarakat global sejak 1970-an. Berawal dari pertemuan bersama WHO/USAID tentang defisiensi vitamin A dan xerophthalmia di Jakarta pada November 1974, Indonesia menjadi laboratorium penting bagi intervensi gizi dunia.
Sebuah studi bertajuk “Aceh Study“ (1982–1984) sebagai uji klinis teracak (Randomized Controlled Trial/RCT) yang melibatkan sekitar 26.000 anak usia pra-sekolah di 450 desa Sumatera Utara dan Aceh membuktikan bahwa suplementasi kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 IU) secara berkala mampu mengurangi tingkat kematian anak usia 1–6 tahun hingga 34% dan menyelamatkan sekitar 200.000 nyawa anak per tahun di Indonesia. Keberhasilan studi tersebut bersama uji fortifikasi MSG dan vitamin A menjadikan Indonesia salah satu negara pionir yang melaksanakan program suplementasi vitamin A nasional, yang kemudian direplikasi secara global.
Selain itu, suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) atau Iron and Folic Acid (IFA) telah lama menjadi standar pelayanan Antenatal Care (ANC) untuk memenuhi kebutuhan zat besi dan asam folat pada ibu hamil. Namun, beban defisiensi multimikronutrien pada ibu hamil di negara berkembang masih sangat tinggi. Hingga akhirnya, WHO dan UNICEF merancang formulasi standar United Nations International Multiple Micronutrient Antenatal Preparation (UNIMMAP) atau Multiple Micronutrient Supplementation (MMS). Berbagai meta-analisis dan uji klinis mendalam, termasuk studi skala besar di Lombok, menunjukkan bahwa MMS memberikan perlindungan ekstra dibandingkan dengan IFA biasa.
Meskipun MMS terbukti efektif secara klinis, tantangan sesungguhnya adalah memastikan ibu hamil mengonsumsinya secara teratur. “Bagaimana cara mengukur kepatuhan dalam mengonsumsi tablet gizi selama kehamilan? Mengandalkan ingatan ibu atau sekadar bertanya sering kali menimbulkan bias. Dalam studi implementasi kami, kami menimbang botol dan tablet saat kunjungan ANC atau kunjungan rumah. Ini memperlihatkan betapa rumitnya menjawab pertanyaan ilmiah di lapangan,” ungkap Prof. Kristen M. Hurley.
Studi implementation science yang dilakukan bersama Kementerian Kesehatan dan para mitra mengungkapkan bahwa pemberian kemasan botol berisi 180 tablet MMS justru meningkatkan kepatuhan konsumsi serta kehadiran pada kunjungan ANC ibu hamil secara lebih efisien dibandingkan dengan kemasan 90 tablet, sekaligus mematahkan kekhawatiran awal. Selain itu, riset tersebut mendorong pemerintah untuk melapisi tablet guna mencegah perubahan warna akibat kelembapan yang dapat mengurangi daya terima ibu, serta membuktikan bahwa integrasi konseling perubahan perilaku dan alat bantu edukasi efektif meningkatkan pemahaman ibu meskipun pemanfaatan kartu kendali konsumsi cenderung menurun menjelang akhir masa kehamilan.
Proses penerjemahan bukti ilmiah menjadi kebijakan nasional membutuhkan kerangka kerja yang sistematis (Framework to Support National MMS Introduction), yang mencakup empat pilar utama, yakni Kebijakan/Regulasi, Pembiayaan, Pasokan, dan Penyampaian (Delivery).
Perjalanan yang dimulai sejak riset efikasi pada 1998 dan berlanjut ke studi implementasi intensif sejak 2019 akhirnya mencapai puncaknya dengan diluncurkannya National MMS Program oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kuliah tamu ditutup dengan penekanan bahwa keberhasilan intervensi kesehatan masyarakat tidak hanya bergantung pada kemahiran ilmu gizi di laboratorium, melainkan pada keberanian untuk menguji, beradaptasi, dan menyatukan rantai pasokan dengan strategi penyampaian di lapangan demi memastikan setiap ibu dan anak Indonesia mendapatkan hak gizi terbaiknya. (ITM)

