FKM UI Lahirkan Doktor Baru dengan Riset tentang Dampak Pajanan Merkuri terhadap Status Gizi Balita di Daerah Pertambangan Emas Skala Kecil

Depok, 2 Juli 2026 – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) kembali meluluskan doktor baru melalui Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Studi Doktor Epidemiologi. Pada kesempatan tersebut, Nurhalina berhasil mempertahankan disertasinya yang mengkaji hubungan antara pajanan merkuri dengan status gizi balita di wilayah Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah.

Penelitian yang dilakukan Nurhalina berangkat dari masih tingginya permasalahan gizi balita di Indonesia yang hingga kini belum mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs). Selama ini, upaya penanggulangan gizi lebih banyak berfokus pada intervensi spesifik dan sensitif, sementara faktor lingkungan, khususnya paparan logam berat seperti merkuri, masih jarang menjadi perhatian. Padahal, daerah pertambangan emas skala kecil merupakan salah satu sumber pencemaran merkuri yang berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat, termasuk tumbuh kembang anak.

Disertasi ini mengkaji dampak pajanan merkuri terhadap kejadian gizi kurang/buruk, stunting, dan underweight pada balita yang tinggal di sekitar wilayah pertambangan emas skala kecil di Kabupaten Gunung Mas. Penelitian menggunakan desain cross-sectional terhadap balita usia 6–59 bulan yang telah berdomisili minimal satu tahun di kawasan tersebut. Pengukuran dilakukan melalui pemeriksaan kadar merkuri pada rambut dan urin, analisis kandungan merkuri pada ikan yang dikonsumsi masyarakat, penilaian status gizi, kecukupan asupan gizi, serta berbagai faktor sosial demografi dan lingkungan rumah tangga.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi gizi balita di wilayah penelitian masih memprihatinkan. Sebanyak 20,6% balita mengalami gizi kurang atau gizi buruk, 34,3% mengalami stunting, dan 32,2% mengalami underweight, angka yang lebih tinggi dibandingkan prevalensi nasional maupun Provinsi Kalimantan Tengah.

Penelitian juga menemukan bahwa seluruh sampel ikan air tawar (100%) yang dikonsumsi masyarakat mengandung merkuri, dengan beberapa jenis ikan memiliki konsentrasi merkuri yang telah melebihi nilai ambang batas aman yang direkomendasikan. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa konsumsi ikan merupakan jalur utama pajanan merkuri bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pertambangan emas skala kecil.

Melalui analisis yang dilakukan, penelitian ini menunjukkan bahwa pajanan merkuri berpotensi memengaruhi status gizi balita melalui berbagai mekanisme biologis. Merkuri dapat mengganggu metabolisme karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral, meningkatkan stres oksidatif, mengganggu fungsi hormon pertumbuhan, hingga menurunkan kemampuan tubuh dalam menyerap zat gizi. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko terjadinya gizi kurang, stunting, maupun underweight pada anak.

Salah satu kebaruan (novelty) penelitian ini adalah memasukkan pajanan merkuri sebagai faktor risiko lingkungan dalam model penyebab gangguan gizi balita, sesuatu yang masih sangat terbatas dikaji pada penelitian sebelumnya. Selama ini, dampak merkuri lebih banyak dikaitkan dengan gangguan saraf, perkembangan kognitif, maupun kesehatan prenatal, sedangkan keterkaitannya dengan status gizi balita di kawasan pertambangan emas skala kecil belum banyak dieksplorasi.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah bagi penyusunan kebijakan yang mengintegrasikan aspek kesehatan lingkungan ke dalam program percepatan penurunan stunting dan masalah gizi di Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga merekomendasikan penguatan regulasi pengendalian dan penghapusan penggunaan merkuri pada kegiatan pertambangan emas skala kecil sebagai bagian dari upaya melindungi kesehatan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti balita.

Melalui promosi doktor ini, FKM UI kembali menegaskan komitmennya dalam menghasilkan penelitian berbasis bukti (evidence-based research) yang mampu menjawab tantangan kesehatan masyarakat secara komprehensif. Temuan-temuan yang dihasilkan tidak hanya memperkaya pengembangan ilmu epidemiologi dan kesehatan lingkungan, tetapi juga memberikan landasan ilmiah bagi penyusunan kebijakan kesehatan masyarakat yang lebih adaptif, berkelanjutan, dan berorientasi pada perlindungan generasi mendatang.

Sidang terbuka promosi doktor dipimpin oleh Dr. dr. Helda, M.Kes. selaku Ketua Penguji. Bertindak sebagai promotor Dr. dr. Tri Yunis Miko Wahyono, M.Sc., didampingi dr. Syahrizal Syarif, M.P.H., Ph.D. sebagai Ko-Promotor I dan Prof. Drs. Apt. Bambang Wispriyono, Ph.D. sebagai Ko-Promotor II. Adapun dewan penguji terdiri atas Prof. Dr. Besral, S.K.M., M.Sc.; Prof. Dr. drg. Ririn Armasih Wulandari, M.Kes.; Dr. PH. dr. Soewarta Kosen, M.P.H., dan Dr. Suwito, S.K.M., M.Kes., M.H. (promovendus)