FKM UI Perkuat Budaya K3 Perguruan Tinggi melalui Peringatan Bulan K3 Nasional 2026

Depok, 12 Februari 2026 – Lingkungan perguruan tinggi menghadirkan beragam aktivitas dengan tingkat risiko yang tidak sederhana, mulai dari kegiatan praktikum di laboratorium hingga pengelolaan fasilitas dan aset kampus dalam skala besar. Kondisi tersebut menuntut sistem pengelolaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang terstruktur dan berkelanjutan. Menyikapi kebutuhan itu, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menyelenggarakan rangkaian peringatan Bulan K3 Nasional 2026 sebagai langkah konkret untuk memperkuat ekosistem K3 yang andal, profesional, dan berbasis kolaborasi di lingkungan kampus.

Dalam sambutannya, Dekan FKM UI, Prof. Dr. Indri Hapsari Susilowati, S.K.M., M.K.K.K., menegaskan bahwa kegiatan yang mengusung tema “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Perguruan Tinggi yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif” bertujuan menanamkan prinsip K3 sebagai budaya yang melekat dalam setiap aktivitas akademik. Perguruan tinggi, menurutnya, harus mampu menjadi ruang yang produktif sekaligus menjamin keselamatan dan kesehatan seluruh warganya. Ia juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran para narasumber dari IPB, ITB, UGM, dan UNDIP, bersama pakar internal UI, sebagai wujud kolaborasi antarperguruan tinggi untuk berbagi praktik terbaik, memperkuat standardisasi, serta mendorong sinergi riset dan kebijakan K3 yang lebih berdampak secara nasional.

Apresiasi serupa disampaikan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UI, Prof. Ir. Mahmud Sudibandriyo, M.Sc., Ph.D., yang menekankan bahwa K3 merupakan fondasi penting dalam memastikan tridarma perguruan tinggi berjalan secara aman, sehat, dan selamat. “Kami sangat menyadari pentingnya membangun, memelihara dan meningkatkan keselamatan dan kesehatan warga UI yakni mahasiswa, tenaga kependidikan dan dosen di Universitas Indonesia. Tidak hanya untuk memenuhi aspek regulasi, namun K3 menjadi salah satu proses bisnis yang fundamental dalam memastikan bahwa aktivitas tridharma berjalan dengan aman, sehat, selamat guna menciptakan kampus UI yang unggul dan berdampak,” tutur Prof. Mahmud.

Pengelolaan K3 tidak hanya dimaknai sebagai pemenuhan regulasi, tetapi sebagai bagian dari proses bisnis strategis universitas. Sejalan dengan tema Bulan K3 Nasional 2026, Universitas Indonesia terus memperkuat tata kelola melalui pembentukan Direktorat Kesejahteraan Kampus (DKK) yang mengelola aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE). Selain itu, melalui Peraturan Rektor Nomor 26 Tahun 2025, UI telah menetapkan Sistem Manajemen Kesejahteraan Kampus (SMKK) sebagai landasan kebijakan implementasi K3 di lingkungan kampus.

Kegiatan yang dipusatkan di Makara Art Center (MAC) UI ini menjadi puncak dari berbagai agenda yang telah berlangsung sebelumnya, termasuk sejumlah kompetisi kreatif. Lebih dari 200 peserta dari berbagai fakultas di lingkungan UI maupun institusi eksternal turut ambil bagian dalam lomba The Most Walker (jalan sehat beregu), lomba video kreatif K3, lomba poster K3, serta kompetisi capaian implementasi Sistem Manajemen Kesejahteraan Kampus (SMKK) terbaik.

Puncak peringatan diisi dengan seminar nasional yang menghadirkan pakar dan praktisi K3 terkemuka. Dalam keynote speech, Prof. Dr. Ir. Ikeu Tanziha, MS, Dewan Pakar Badan Gizi Nasional, menegaskan bahwa K3 merupakan investasi strategis, terutama dalam mendukung program prioritas nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

“K3 bukan hanya kewajiban regulatif, melainkan investasi jangka panjang untuk melindungi tenaga kerja sekaligus menjamin keamanan pangan. Pembangunan gizi yang optimal memerlukan sistem kerja yang sehat dan aman demi terwujudnya Generasi Emas 2045,” ujar Prof. Ikeu.

Senada dengan hal tersebut, Ir. Ismail Pakaya, M.E., Direktur Jenderal Binwasnaker dan K3 Kementerian Ketenagakerjaan RI, menyoroti tantangan transformasi digital dan dampak perubahan iklim terhadap dunia kerja. Ia mendorong perguruan tinggi untuk menjadi pelopor dalam membangun budaya K3 yang kuat.

“Kampus memiliki peran strategis dalam menyiapkan lulusan yang siap kerja dan memiliki kompetensi K3 yang memadai. Pemerintah menghadirkan regulasi, sementara perguruan tinggi berkontribusi melalui inovasi dan riset untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan,” jelasnya.

Seminar juga menghadirkan sharing session yang menampilkan praktik terbaik pengelolaan K3L dari lima perguruan tinggi negeri terkemuka. Beragam inovasi ditampilkan, mulai dari pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan melalui ITB HSE Web-Based App yang bersifat prediktif oleh Mugi Sugiarto, S.Si., MAB., dari ITB, hingga penguatan tata kelola berbasis risiko melalui kerangka Governance, Risk, and Compliance (GRC) yang dipaparkan Ir. Budi Purwanto, M.E. dari IPB University.

Pendekatan keberlanjutan turut menjadi sorotan melalui konsep ekonomi sirkular yang disampaikan Dr. Bina Kurniawan, S.K.M., M.Kes dari Universitas Diponegoro. Transformasi UI menuju Sistem Manajemen Kesejahteraan Kampus (SMKK) juga dipaparkan oleh Yuni Kusminanti, S.K.M., M.Si., guna memastikan well-being seluruh sivitas akademika. Perspektif holistik disampaikan Hendricus Sujatmiko, S.T. dari UGM yang menekankan integrasi standar kesehatan lingkungan kerja, pengelolaan limbah B3, serta penerapan prinsip ergonomi perkantoran dalam menciptakan kampus yang aman dan produktif.

Menutup sesi diskusi antarperguruan tinggi, Prof. dra. Fatma Lestari, M.Si., Ph.D., pakar K3 FKM UI, merangkum arah strategis pengembangan K3 di dunia akademik. Ia menegaskan bahwa transformasi menuju sistem K3L terintegrasi kini menjadi sebuah keniscayaan.

“Transformasi K3L di perguruan tinggi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Digitalisasi melalui Smart K3L, pemanfaatan AI monitoring, serta integrasi manajemen berbasis risiko pada seluruh aktivitas tridarma menjadi tren yang semakin menguat,” ungkap Prof. Fatma.

Pentingnya kolaborasi lintas institusi juga ditekankan untuk memastikan keberlanjutan implementasi K3 di kampus. Penguatan forum nasional maupun internasional K3L perguruan tinggi dinilai perlu terus didorong melalui benchmarking dan integrasi antara K3L, keamanan, serta manajemen risiko agar tercipta kampus yang aman secara fisik sekaligus mendukung kesejahteraan menyeluruh sivitas akademika.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Doni Hikmat Ramdhan, S.K.M., M.K.K.K., Ph.D., menambahkan bahwa meskipun fondasi K3 di perguruan tinggi telah kokoh melalui komitmen manajemen, sertifikasi sarana-prasarana, dan digitalisasi, tantangan ke depan akan semakin menitikberatkan pada aspek kesejahteraan individu. Penguatan kepemimpinan serta kepedulian kolektif menjadi faktor kunci dalam menciptakan lingkungan kampus yang sehat secara fisik maupun psikologis.

Keberhasilan penyelenggaraan Bulan K3 Nasional 2026 di FKM UI didukung oleh kolaborasi berbagai mitra strategis. FKM UI menyampaikan apresiasi kepada Badan Gizi Nasional, PT Adhi Karya Persero (Tbk), PT Pertamina, Petrolab Services, Human Factors Indonesia, Indonesian Industrial Hygiene Association (IIHA), PT Vale, RS MMC, Arsiare, BSI, PT Hutama Karya Persero, dan PT Telkom atas dukungan dan sinerginya.

Keterlibatan lintas sektor ini menegaskan bahwa penguatan budaya K3 di institusi pendidikan merupakan tanggung jawab bersama dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul, sehat, dan selamat. (DP)