Depok, 18 November 2025 — Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan Pelatihan Penyusunan Laporan Social Return on Investment (SROI) bagi dosen dan tim penerima Hibah Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) UI Tahun 2025. Pelatihan yang berlangsung di Ruang Guru Besar FKM UI ini menghadirkan narasumber Yosef Hilarius Timu Pera, S.Sos., M.Si., Dosen Departemen Sosiologi FISIP UI. Pelatihan ini berfokus pada peningkatan kapasitas sivitas akademika dalam mengukur dampak sosial program secara lebih sistematis, terstruktur, dan berbasis bukti.
Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan FKM UI, Dr. Ir. Asih Setiarini, M.Sc., dalam sambutannya menegaskan pentingnya evaluasi dampak yang lebih komprehensif di bidang kesehatan masyarakat. “Kita tidak hanya dituntut untuk melihat keluaran program, tetapi juga manfaat sosial yang lebih luas, nilai ekonomi yang tercipta, serta perubahan jangka panjang yang dirasakan oleh masyarakat. SROI hadir sebagai pendekatan yang mampu memberikan gambaran tersebut secara terstruktur dan berbasis bukti. Workshop ini penting untuk memperkuat kapasitas kita sebagai perencana dan evaluator program,” ujar Dr. Asih.
Dalam pemaparannya, Yosef Hilarius menjelaskan konsep dasar hingga teknik penghitungan SROI secara rinci. Ia menekankan bahwa SROI merupakan metode evaluasi yang mampu menunjukkan apakah sebuah program benar-benar menghasilkan dampak, siapa yang mendapatkan manfaat, dan apakah manfaat yang tercipta sepadan dengan investasi yang dikeluarkan. “Sering kali kita mengukur keberhasilan hanya dari terlaksananya kegiatan. Padahal yang lebih penting adalah perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat. SROI membantu kita memetakan dan menilai perubahan itu secara lebih lengkap dan objektif,” ungkapnya.
Yosef juga menyoroti keunggulan SROI sebagai metode yang dapat mengidentifikasi dampak secara luas, melibatkan stakeholder dalam proses evaluasi, serta menghitung nilai manfaat melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Ia menambahkan, “SROI bukan hanya tentang angka, tetapi tentang memahami cerita perubahan di balik program. Dengan pendekatan ini, kita dapat melihat bagaimana intervensi kecil sekalipun bisa menghasilkan nilai sosial yang signifikan,” tutur Yosef.
Dalam sesi lanjutan, Yosef menguraikan enam tahapan analisis SROI yang meliputi penetapan lingkup, identifikasi stakeholder, pemetaan outcome, seleksi dampak, pembuktian dan valuasi, hingga penghitungan rasio SROI. Peserta juga diperkenalkan pada berbagai cara melakukan financial valuation melalui market-based proxy, stated preference, dan revealed preference. Ia menekankan pentingnya memvalidasi nilai dampak dengan mempertimbangkan faktor deadweight, attribution, displacement, dan drop-off agar hasil analisis tetap akurat. “Kita harus jujur dalam menilai seberapa besar perubahan yang benar-benar disebabkan oleh program, bukan hanya kebetulan atau akibat faktor lain. Di sinilah SROI mengajarkan kita untuk tidak melakukan overclaim,” jelasnya.
Melalui contoh kasus nyata, peserta memahami bagaimana pemetaan dampak dilakukan secara menyeluruh hingga menghasilkan rasio SROI yang menggambarkan nilai manfaat sosial program. Pendekatan ini tidak hanya membantu dosen menyusun laporan pengabdian masyarakat yang lebih kuat, tetapi juga meningkatkan akuntabilitas kepada pemangku kepentingan.
Penyelenggaraan pelatihan ini menegaskan komitmen FKM UI untuk memperkuat budaya pengabdian masyarakat yang berbasis bukti dan berorientasi pada dampak jangka panjang. Dengan kemampuan menyusun SROI, para dosen diharapkan dapat merancang program yang lebih relevan, efektif, dan menghasilkan nilai sosial yang terukur. Pelatihan ini sekaligus memperkokoh posisi FKM UI sebagai institusi yang konsisten mendorong tata kelola program pengabdian yang transparan, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. (wrk)

