Hubungkan Sampah dan Ketahanan Pangan, Tim Terranova Raih Juara Nasional lewat ARUTALA

Depok, 4 September 2026 – Persoalan sampah rumah tangga dan ketahanan pangan sering kali dipandang sebagai dua persoalan yang berbeda. Berangkat dari keresahan terhadap persoalan di masyarakat tersebut sekaligus keinginan untuk mengikuti kompetisi, Tim Terranova, yang terdiri atas empat mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), melihat keduanya dapat dipertemukan melalui sebuah proyek sosial bernama ARUTALA (Aksi Daur Ulang dan Nutrisi Lokal Berkelanjutan). Gagasan tersebut dikembangkan oleh Khairunnisa Masthura selaku Project Officer bersama Nuzhatul Fikria, keduanya dari Program Studi Kesehatan Masyarakat angkatan 2025, serta Haggilsyah Ifan dan Adam Firdaus dari Program Studi Kesehatan Lingkungan angkatan 2024.

Gagasan ARUTALA dikembangkan melalui proses brainstorming selama hampir tiga bulan. Dari sejumlah tema yang tersedia dalam kompetisi, Tim Terranova memilih tema ketahanan pangan dan gizi karena dinilai paling sesuai dengan latar belakang keilmuan mereka. “Kita merasa bahwa kita tidak cocok di bidang clean water and sanitation. Beraninya kita ke ketahanan pangan dan gizi,” jelas Nuzhatul.

Selain itu, tim juga tidak melibatkan mahasiswa dari Program Studi Gizi karena intervensi ARUTALA tidak berfokus pada penghitungan kebutuhan zat gizi secara spesifik, melainkan pada pemenuhan langsung kebutuhan pangan masyarakat. “Kenapa enggak ada anak gizi? Kita memang tidak ada anak gizi karena kita bukan menakar sebuah gizi, tetapi kita langsung memberikan utuh. Let’s say mereka butuh telur, kita kasih telur,” ujar Haggilsyah.

Setelah gagasan terbentuk, Tim Terranova mencari lokasi yang sesuai untuk implementasinya. RW 09, Kelurahan Keagungan, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, dipilih setelah tim berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Jakarta Barat. Wilayah tersebut dinilai memiliki kondisi yang sesuai dengan konsep ARUTALA karena masyarakat telah memiliki kebiasaan memilah sampah dari sumbernya melalui Gerakan Keluarga Sehat dan Tangguh Bencana (GKSTTB). “Di wilayah Kelurahan Keagungan ini memang mudah memilah sampah. Jadi, ini menjadi poin khusus juga bagi kita karena mereka sudah memilah sampah dari sumbernya,” ujar Khairunnisa selaku Project Officer.

Kebiasaan tersebut menjadi titik awal bagi ARUTALA. Tim tidak perlu membangun kebiasaan memilah sampah dari nol, tetapi dapat mengembangkan praktik yang sudah berjalan dan menghubungkannya dengan pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi masyarakat. Namun, pelaksanaan di lapangan tidak sepenuhnya berjalan sesuai dengan rancangan awal. Penggunaan situs web, misalnya, menghadapi kendala karena tidak semua warga memiliki telepon seluler dan akses internet. Sebagian warga yang antusias mengikuti program juga merupakan kelompok lanjut usia. Tim kemudian menyesuaikan mekanisme agar keterbatasan tersebut tidak menghalangi partisipasi warga. “Untuk masalah di masyarakat itu, kita benar-benar efektif, dan memang sudah berjalan lancar dengan masyarakat itu hanya kurang lebih sebulan. Sisanya kami trial and error, kami melakukan penyesuaian lagi, kami perbaiki lagi dari sisi sistem,” ungkap Khairunnisa. 

Penyesuaian tersebut membuat pelaksanaan yang semula dirancang selama tiga bulan menjadi sekitar enam bulan. Tim juga menyadari bahwa keberlanjutan tidak dapat bergantung pada kehadiran 4 mahasiswa. Karena itu, mereka melibatkan tiga kader di wilayah tersebut untuk membantu menjalankan program dan mengelola sistem ARUTALA. “Jadi, sampai sekarang ARUTALA masih hadir di sana walaupun kami tidak di sana; ARUTALA masih berjalan,” ujar Khairunnisa. 

Keterbatasan kemampuan teknis juga diatasi melalui kolaborasi. Keempat anggota Tim Terranova berasal dari bidang kesehatan dan tidak memiliki latar belakang teknologi informasi. Mereka kemudian menggandeng mahasiswa Universitas Negeri Semarang untuk membantu mengembangkan situs web ARUTALA. Sementara itu, Haggilsyah menangani konten dan media sosial untuk memperluas jangkauan informasi mengenai program tersebut. “Bukan hanya kami turun di tengah masyarakat, tetapi juga di media sosial. Gimana caranya biar orang tahu ARUTALA hadir bukan cuma di RW 09, tapi manfaatnya bisa tersebar melalui media sosial,” ujar Haggilsyah. 

Setelah melalui proses pengembangan dan implementasi di masyarakat, Tim Terranova membawa ARUTALA ke KPP MINING Youth in Action 2, kompetisi proyek sosial bagi generasi muda Indonesia yang diinisiasi oleh PT Kalimantan Prima Persada. Kompetisi tersebut menerima 712 proposal dari 32 provinsi. Puncak kompetisi digelar pada 28 Agustus 2026 di Gedung PAMA 2, Jakarta, dan membawa Tim Terranova meraih penghargaan Best Project.

Bagi Haggilsyah, pengalaman mengikuti kompetisi tingkat nasional menunjukkan pentingnya membangun jejaring yang lebih luas. Dukungan dari berbagai relasi membantu tim memperkenalkan ARUTALA sekaligus memperluas exposure program. Pengalaman tersebut juga menjadi tantangan tersendiri bagi Adam. Sebagai pengalaman pertama mengikuti kompetisi dengan jangkauan yang lebih luas, ia mengaku sempat merasa takut dan panik saat menghadapi sesuatu yang belum pernah ia coba. “Ini juga pertama kali aku ikut lomba yang menurutku jangkauannya lumayan luas. Karena aku orangnya takutan dan panikan, jadi melihat sesuatu yang belum pernah aku coba itu kayak tantangan berat bagi hidup aku,” ungkap Adam. Namun, pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa keberanian untuk mencoba dapat membuka kesempatan yang sebelumnya tidak pernah ia ketahui. “Tapi benar, coba dulu aja. Apa pun lombanya, kalau misalnya tertarik, coba aja, karena kita enggak tahu ke depannya,” lanjutnya. 

Tim Terranova menyatakan bahwa perjalanan ARUTALA bukan hanya tentang kompetisi. Program tersebut menjadi proses untuk menguji gagasan di tengah masyarakat, menyesuaikan rancangan dengan kondisi di lapangan, membangun kolaborasi, dan mencari cara agar program dapat terus berjalan. Ke depan, tim masih melihat perlunya penguatan strategi dan pola pelaksanaan agar ARUTALA semakin berkelanjutan. Mereka juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak selama tetap menjaga tujuan awalnya sebagai proyek sosial. (EAR)