Kembangkan Model SEUMEUBEUT Terpadu Berbasis Islam dan Budaya Aceh, Farhati Raih Doktor FKM UI

Depok, 24 Juni 2026 — Perilaku berisiko pada remaja masih menjadi tantangan penting dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Di tengah kuatnya pengaruh teman sebaya, paparan media digital, serta perubahan lingkungan sosial, upaya edukasi kesehatan remaja membutuhkan pendekatan yang tidak hanya informatif, tetapi juga dekat dengan nilai, budaya, dan figur yang dipercaya masyarakat. Berangkat dari persoalan tersebut, Farhati berhasil meraih gelar Doktor dalam Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia melalui disertasi berjudul “Peran Teungku Inong melalui Model SEUMEUBEUT Terpadu dalam Pencegahan Perilaku Berisiko Kesehatan Remaja Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh Tahun 2025.”

Dalam penelitiannya, Farhati menyoroti bahwa remaja pada dasarnya memiliki nilai untuk menolak perilaku berisiko, namun sikap tersebut belum selalu konsisten dengan perilaku nyata. Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi juga masih bervariasi, sementara pemahaman terkait life skill dari aspek psikososial masih terbatas. Kondisi ini menunjukkan perlunya model edukasi yang tidak hanya menyampaikan larangan secara normatif, tetapi juga mampu menjelaskan sebab-akibat, membangun keterampilan hidup, dan memperkuat kemampuan remaja dalam mengambil keputusan sehat.

Hasil studi kualitatif menunjukkan bahwa Teungku Inong memiliki potensi kuat sebagai agent of change dalam edukasi kesehatan remaja. Potensi tersebut didukung oleh legitimasi sosial-religius, kedekatan emosional dengan remaja, serta posisi Teungku Inong sebagai figur yang dipercaya dalam kehidupan masyarakat Aceh. Selain itu, tradisi seumeubeut atau pengajian rutin yang telah mengakar di masyarakat dinilai dapat menjadi ruang edukasi yang dekat, mudah dijangkau, dan sesuai dengan konteks sosial budaya remaja.

Berdasarkan temuan tersebut, Farhati mengembangkan Model SEUMEUBEUT Terpadu, yaitu model edukasi kesehatan reproduksi dan life skill berbasis agama Islam dan budaya Aceh. Model ini menempatkan Teungku Inong sebagai aktor utama dalam menyampaikan edukasi kepada remaja setelah mendapatkan pelatihan. Intervensi dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pelatihan Teungku Inong dan pelaksanaan edukasi remaja oleh Teungku Inong yang telah mengikuti pelatihan.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa Model SEUMEUBEUT Terpadu mampu meningkatkan pengetahuan, sikap, motivasi, efikasi diri, serta peran Teungku Inong secara konsisten dibandingkan kelompok kontrol. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa peran Teungku Inong berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap remaja dalam pencegahan perilaku berisiko. Dengan demikian, model ini tidak hanya memperkuat kapasitas tokoh lokal, tetapi juga berdampak pada remaja sebagai sasaran utama intervensi.

Dalam pemaparannya, Farhati menegaskan bahwa kekuatan model ini terletak pada integrasi nilai Islam, budaya Aceh, kesehatan reproduksi, dan life skill dalam satu pendekatan yang komprehensif. 

“Teungku Inong memiliki modal sosial dan legitimasi religius yang kuat, sehingga dapat menjadi agen perubahan dalam pencegahan perilaku berisiko kesehatan remaja,” jelasnya.

Melalui disertasi ini, Farhati memberikan kontribusi penting dalam pengembangan intervensi kesehatan remaja yang lebih kontekstual dan berkelanjutan. Model SEUMEUBEUT Terpadu menunjukkan bahwa pencegahan perilaku berisiko tidak cukup dilakukan melalui pendekatan edukasi formal, tetapi juga perlu melibatkan tokoh lokal yang memiliki kedekatan, kepercayaan, dan pengaruh dalam kehidupan masyarakat. (SHF)