Mahasiswa FKM UI Integrasikan Tiga Solusi Mitigasi AMR, Raih Juara Favorit 3 Kongres Ilmuwan Muda Indonesia V

Depok, 26 Juli 2026 – Mengintegrasikan tiga pendekatan yang selama ini berkembang secara terpisah menjadi sebuah solusi terpadu untuk mengatasi Antimicrobial Resistance (AMR) membawa tiga mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI): Fara Azzahra, Dhaifullah Abyan Fadhil Ar Rasyid, dan Ayesha Daanii Nayyara meraih Juara Favorit 3 pada Kongres Ilmuwan Muda Indonesia (KIMI) V yang diselenggarakan di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta 15-16 Juli 2026. Melalui inovasi WISE-AMR Framework (Wetland-Integrated Smart Epidemiological System for AMR), tim menawarkan pendekatan berbasis nature-genomics untuk mitigasi resistensi antimikroba di Indonesia.

KIMI V merupakan forum ilmiah yang mempertemukan mahasiswa, peneliti, akademisi, dan ilmuwan muda dari berbagai institusi untuk mempresentasikan hasil riset maupun gagasan inovatif dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan. Pada kesempatan tersebut, keikutsertaan mereka bermula dari informasi yang ditemukan melalui media sosial yang mengangkat tema One Health yang telah lama menjadi fokus tim dalam berbagai kompetisi. KIMI V menjadi kesempatan untuk memperkenalkan gagasan baru yang selama ini dikembangkan. Sebelum mengikuti kompetisi, tim juga mematangkan konsep sekaligus memvalidasi inovasi melalui diskusi bersama Dr. rer. medic. Putri Bungsu, S.K.M., M.Epid., selaku dosen pembimbing.

Inovasi yang mereka usung berangkat dari meningkatnya ancaman Antimicrobial Resistance yang memerlukan pendekatan lintas sektor. Melalui Integrative Literature Review, tim menyeleksi berbagai publikasi ilmiah hingga diperoleh 86 artikel yang menjadi dasar pengembangan WISE-AMR Framework. Kerangka tersebut mengintegrasikan Floating Treatment Wetland (FTW) sebagai teknologi pengolahan air berbasis alam, AI-IoT Genomic Surveillance System untuk memperkuat sistem surveilans AMR, serta AMR Safe Water Reuse System sebagai sistem pemanfaatan kembali air yang aman.

Berbeda dengan mayoritas peserta yang mempresentasikan hasil penelitian yang telah diimplementasikan, tim FKM UI justru membawa sebuah inovasi konseptual yang menawarkan integrasi tiga pendekatan tersebut dalam satu kerangka. Menurut Dhaifullah Abyan Fadhil Ar Rasyid, aspek kebaruan tersebut menjadi nilai utama yang membedakan inovasi mereka dari peserta lainnya. “Mayoritas peserta membawa hasil penelitian yang sudah dilakukan, sedangkan kami membawa sebuah inovasi. Memang belum diimplementasikan, tetapi kami mencoba mengintegrasikan beberapa solusi yang sebelumnya berdiri sendiri menjadi satu framework. Mungkin itu yang menjadi nilai kebaruannya,” ujar Abyan.

Sebagai mahasiswa program sarjana, tim FKM UI mampu bersaing di tengah dominasi peserta program magister hingga peserta dari luar negeri yang sebagian besar telah membawa hasil implementasi penelitian. Mereka menawarkan sebuah gagasan konseptual yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Meski berhasil meraih Juara Favorit 3, perjalanan tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu yang paling berkesan adalah sesi flash talk yang hanya berlangsung selama satu menit. Dalam waktu yang sangat singkat tersebut, peserta diminta mampu menyampaikan inti inovasi sekaligus menarik perhatian audiens untuk mengunjungi poster ilmiah mereka. “Satu menit itu sangat sulit. Biasanya satu menit baru pembukaan, tetapi di sini kami harus langsung masuk ke inti. Bahkan saya belum sempat mengajak peserta untuk melihat poster atau membaca abstrak karena waktunya sudah habis,” jelas Ayesha.

Selain tantangan saat presentasi, penyusunan poster ilmiah juga menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Tidak ada anggota tim yang memiliki latar belakang desain grafis, sehingga mereka harus mempelajarinya secara mandiri dan meminta masukan dari rekan yang lebih berpengalaman agar informasi yang disampaikan tetap menarik sekaligus mudah dipahami oleh peserta. Tim juga menghadapi tantangan pada mekanisme penentuan Juara Favorit yang dilakukan melalui sistem pemungutan suara oleh peserta. Kondisi tersebut membuat persaingan semakin ketat karena beberapa institusi hadir dengan jumlah peserta yang lebih banyak sebagai pendukung, sementara tim FKM UI hanya diwakili oleh dua peserta dari Universitas Indonesia.

Selain menjadi ajang kompetisi, KIMI V juga membuka kesempatan bagi tim untuk memperluas jejaring akademik. Selama kegiatan berlangsung, mereka berdiskusi dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi dan institusi, termasuk bertemu dengan kakak tingkat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang memiliki ketertarikan terhadap isu AMR. Pertemuan tersebut membuka peluang kolaborasi sekaligus memperkaya perspektif tim dalam mengembangkan WISE-AMR Framework. Mereka berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak sehingga dapat diimplementasikan sebagai salah satu solusi dalam mitigasi AMR di Indonesia. “Kebanyakan ide di luar sana hanya berhenti sebagai ide. Kami berharap ada kolaborasi atau pendanaan yang bisa membantu mengembangkan ide ini sehingga benar-benar dapat diimplementasikan dan menjadi salah satu solusi untuk AMR di Indonesia,” ujar Fara

Bagi ketiganya, bekal ilmu kesehatan masyarakat yang multidisiplin menjadi modal penting dalam melahirkan inovasi untuk menjawab berbagai persoalan kesehatan masyarakat. Mereka mendorong mahasiswa FKM UI agar tidak ragu mengikuti berbagai kompetisi ilmiah dan memanfaatkan peluang kolaborasi lintas disiplin. Mereka berharap FKM UI juga dapat menghadirkan wadah pembinaan kompetisi yang mampu memfasilitasi mahasiswa dalam mengembangkan ide dan mempersiapkan diri menghadapi berbagai ajang ilmiah. (EAR)