Model SHINE Berbasis Kearifan Lokal Maluku Dikembangkan Promovendus FKM UI untuk Cegah Kehamilan Remaja

Depok, 4 Juli 2026 – Sidang Terbuka Promosi Doktor Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) kembali menjadi momentum lahirnya inovasi baru di bidang promosi kesehatan. Pada kesempatan tersebut, Petriana Ekklesia Mahmud berhasil mempertahankan disertasinya yang mengembangkan Strategi Holistik Intervensi Nilai dan Edukasi (SHINE) dengan pendekatan Tiga Batu Tungku, sebuah model intervensi berbasis budaya Maluku yang terbukti efektif meningkatkan faktor-faktor pelindung (determinan protektif) terhadap perilaku seksual berisiko kehamilan pada remaja puteri.

Penelitian disertasi yang berjudul “Strategi Holistik Intervensi Nilai dan Edukasi (SHINE) dengan Pendekatan Tiga Batu Tungku sebagai Upaya Peningkatan Determinan Protektif Perilaku Seksual Berisiko Kehamilan pada Remaja Puteri di Kota Ambon” ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya angka kehamilan remaja di Indonesia yang berdampak pada meningkatnya risiko putus sekolah, komplikasi kesehatan ibu dan bayi, serta berbagai persoalan sosial. Berbagai program edukasi kesehatan reproduksi yang telah dilaksanakan selama ini dinilai belum sepenuhnya efektif karena umumnya berfokus pada individu dan belum mengintegrasikan nilai budaya lokal, peran keluarga, maupun kolaborasi lintas sektor sebagai satu kesatuan intervensi.

Melalui pendekatan mixed methods dengan desain exploratory sequential, Petriana melakukan analisis kebutuhan, pengembangan model, validasi oleh panel pakar, hingga implementasi dan evaluasi efektivitas model di Kota Ambon. Hasil analisis menunjukkan bahwa perilaku seksual berisiko pada remaja puteri dipengaruhi oleh rendahnya pengetahuan kesehatan reproduksi, keterampilan hidup (life skills), komunikasi orang tua dan anak yang belum optimal, serta lingkungan sosial yang belum mendukung terbentuknya perilaku sehat.

Berdasarkan temuan tersebut, Petriana mengembangkan Model SHINE (Strategi Holistik Intervensi Nilai dan Edukasi) dengan mengintegrasikan pendidikan seksualitas komprehensif, nilai-nilai Kristiani, budaya Maluku, serta filosofi Tiga Batu Tungku, yang memadukan kolaborasi pemerintah negeri/desa, gereja, sekolah, puskesmas, orang tua, dan remaja. Pendekatan ini menjadikan Tiga Batu Tungku tidak lagi sekadar simbol budaya, tetapi sebagai mekanisme kolaboratif yang aktif dalam merancang, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi program kesehatan reproduksi remaja.

Model SHINE didukung oleh berbagai media intervensi yang dikembangkan secara khusus, antara lain Buku Panduan Kolaboratif Tiga Batu Tungku, Modul SHINE–KIE Pendidikan Seksualitas Komprehensif beserta kurikulum pelatihan fasilitator, serta infografis “Orang Tua Benteng Pelindung Utama Remaja”. Seluruh perangkat tersebut disusun mengacu pada pedoman Kementerian Kesehatan, UNESCO, UNFPA, dan BKKBN sehingga relevan secara ilmiah sekaligus sesuai dengan konteks sosial budaya masyarakat Maluku. Model dan media intervensi juga telah melalui proses validasi menggunakan metode Delphi bersama 13 pakar lintas disiplin dan dinilai layak untuk diimplementasikan.

Implementasi Model SHINE diawali dengan pembentukan Tim Kolaboratif Tiga Batu Tungku yang melibatkan pemerintah desa, gereja, sekolah, puskesmas, dan perwakilan remaja. Tim tersebut menyusun program bersama yang berfokus pada tiga strategi utama, yaitu peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan hidup remaja melalui pendidikan seksualitas komprehensif berbasis nilai Kristiani dan budaya Maluku; penguatan komunikasi orang tua dan anak; serta penyusunan kebijakan lokal berupa Peraturan Negeri untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan remaja. Program dilaksanakan secara kolaboratif sepanjang Januari hingga Maret 2026 di Negeri Hative Kecil, Kota Ambon.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model SHINE memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan hidup remaja putri. Rata-rata skor pengetahuan pada kelompok intervensi meningkat dari 57,29 saat pretest menjadi 81,76 setelah intervensi dan 94,23 pada evaluasi tiga bulan kemudian. Analisis Difference-in-Differences (DiD) menunjukkan peningkatan yang bermakna dibandingkan dengan kelompok kontrol, menandakan bahwa model mampu menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.

Perubahan positif juga terlihat pada aspek sikap dan keterampilan hidup. Skor sikap remaja meningkat dari 64,70 menjadi 89,67, sedangkan skor keterampilan hidup meningkat dari 65,41 menjadi 82,91 setelah intervensi. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa Model SHINE tidak hanya memperkuat pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi, tetapi juga membentuk kemampuan mengambil keputusan yang sehat, berkomunikasi secara asertif, menolak ajakan berisiko, serta memperkuat ketahanan diri dalam menghadapi tekanan lingkungan sosial.

Kebaruan penelitian ini terletak pada keberhasilannya mengintegrasikan pendekatan promosi kesehatan dengan kearifan lokal Maluku melalui filosofi Tiga Batu Tungku. Model ini memperluas pendekatan pendidikan kesehatan reproduksi yang selama ini lebih berorientasi pada individu menjadi intervensi berbasis komunitas yang melibatkan keluarga, institusi pendidikan, lembaga keagamaan, layanan kesehatan, dan pemerintah secara simultan. Pendekatan tersebut memperkuat keberlanjutan program karena seluruh pemangku kepentingan memiliki peran yang jelas dalam mendukung kesehatan reproduksi remaja.

Secara praktis, Model SHINE berpotensi diadopsi sebagai strategi promosi kesehatan reproduksi remaja di berbagai daerah yang memiliki karakteristik sosial budaya serupa. Model ini juga dapat menjadi rujukan dalam pengembangan program pendidikan seksualitas komprehensif berbasis budaya lokal, penguatan komunikasi keluarga, serta penyusunan kebijakan perlindungan remaja di tingkat komunitas.

Sidang terbuka promosi doktor Petriana Ekklesia Mahmud dipimpin oleh Prof. dr. Asri C. Adisasmita, M.P.H., M.Phil., Ph.D. selaku Ketua Tim Penguji. Bertindak sebagai promotor Prof. dr. Kemal N. Siregar, S.K.M., M.A., Ph.D., dengan ko-promotor Dr. Drs. Tri Krianto, M.Kes. dan Prof. Dr. Mus J. Huliselan, DEA. Adapun tim penguji terdiri atas Prof. Dr. Besral, S.K.M., M.Sc.; Prof. Ira Nurmala, S.K.M., M.P.H., Ph.D.; Prof. Dr. dr. Raditya Wratsangka, Sp.OG., Subsp. Obginsos, serta Dr. Sudibyo Alimoeso, M.A.

Melalui penelitian ini, FKM UI kembali menghasilkan inovasi berbasis bukti ilmiah yang tidak hanya memperkaya pengembangan ilmu promosi kesehatan, tetapi juga memberikan solusi kontekstual bagi berbagai tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Model SHINE diharapkan menjadi salah satu pendekatan strategis dalam mendukung upaya pencegahan kehamilan remaja sekaligus mewujudkan generasi muda yang sehat, berdaya, dan mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab. (wrk)