Depok, 15 Juni 2026 – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) kembali menyelenggarakan Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat sebagai wujud komitmen dalam menghasilkan penelitian berbasis bukti yang berkontribusi terhadap penyelesaian berbagai tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Sidang ini diselenggarakan secara hybrid di Ruang Promosi Doktor, Gedung G FKM UI dan melalui platform Zoom Meeting.
Calon Doktor, dr. Milhan, mempertahankan disertasinya yang berjudul “Efektivitas dan Biaya Pemberian OXYBUM (Oxytocin + Buccal Misoprostol) untuk Mencegah Perdarahan Postpartum.” Sidang promosi doktor dipimpin oleh Prof. Dr. drs. Sutanto Priyo Hastono, M.Kes. selaku Ketua Tim Penguji. Tim promotor terdiri atas Prof. Dr. drg. Indang Trihandini, M.Kes. dan Prof. Dr. dr. Ratna Djuwita, MPH., dengan Prof. Dr. drg. Mardiati Nadjib, M.S. sebagai Ko-Promotor. Adapun tim penguji terdiri atas Dr. dr. Zulvayanti, Sp.OG, Subsp.Obginsos, M.Kes. dari Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. dr. Mahalul Azam, M.Kes. dari Universitas Negeri Semarang, Prof. dr. Mohammad Hakimi, Sp.OG(K), Subsp.Obginsos, Ph.D. dari Universitas Gadjah Mada, serta Dr. Dr. apt. IGM Wirabrata, S.Si., M.Kes., M.M., M.H. dari Universitas Pancasila.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya angka kematian ibu di Indonesia, di mana perdarahan postpartum masih menjadi salah satu penyebab utama kematian maternal. Dalam pemaparannya, dr. Milhan menjelaskan bahwa sebagian besar kematian akibat perdarahan postpartum terjadi dalam dua hingga tiga jam pertama setelah persalinan. Ia juga menyoroti penggunaan oksitosin sebagai standar pencegahan perdarahan postpartum masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait kebutuhan rantai dingin (cold chain) dalam proses penyimpanan dan distribusinya. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menyebabkan kualitas oksitosin berpotensi menurun apabila rantai dingin tidak terjaga dengan baik hingga ke fasilitas pelayanan kesehatan di daerah.
Berangkat dari permasalahan tersebut, dr. Milhan mengembangkan OXYBUM, yaitu kombinasi oxytocin dengan buccal misoprostol dosis 200 mikrogram sebagai strategi pencegahan perdarahan postpartum. Menurutnya, kombinasi ini memanfaatkan keunggulan oksitosin sebagai standar pelayanan dengan karakteristik misoprostol yang stabil pada suhu ruang, mudah diberikan, dan tidak memerlukan penyimpanan khusus. Penelitian yang dilakukan merupakan randomized controlled trial (RCT) pertama di Indonesia yang mengevaluasi efektivitas klinis sekaligus efisiensi biaya penggunaan kombinasi oksitosin dan misoprostol bukal dalam pencegahan perdarahan postpartum.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian OXYBUM memberikan manfaat yang lebih baik dibandingkan penggunaan oksitosin saja. Dalam presentasinya, dr. Milhan menyampaikan bahwa, “Efektivitas dari segi klinisnya OXYBUM 1,9 kali lebih baik dibandingkan kelompok oksitosin saja,”. Selain meningkatkan efektivitas pencegahan perdarahan postpartum, penelitian ini juga menunjukkan manfaat ekonomi yang signifikan. “Dari segi biaya efisiensi biaya, kita dapat menghemat sekitar 1,1 juta rupiah untuk setiap persalinan dan sekitar 1,6 juta rupiah apabila terjadi perdarahan postpartum,” tambah dr. Milhan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa OXYBUM tidak hanya berpotensi meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu, tetapi juga memberikan nilai tambah dari sisi efisiensi pembiayaan kesehatan. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dinilai memiliki relevansi yang kuat dalam mendukung upaya penurunan angka kematian ibu di Indonesia.
Dalam sesi diskusi, para penguji memberikan berbagai masukan dan pendalaman terhadap hasil penelitian. Dr. dr. Zulvayanti, Sp.OG, Subsp.Obginsos, M.Kes. menyoroti tantangan penerjemahan bukti ilmiah menjadi kebijakan kesehatan. Pertanyaan serupa juga disampaikan oleh Dr. apt. IGM Wirabrata yang menanyakan strategi agar hasil penelitian dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas. Menjawab berbagai masukan tersebut, dr. Milhan menegaskan komitmennya untuk melakukan advokasi kepada berbagai pemangku kepentingan. “Saya sudah siap mengajak berdiskusi bersama-sama kawan-kawan POGI maupun obgin-obgin di daerah supaya ini bisa dijadikan PNPK untuk persalinan normal maupun sectio caesarea di daerah. Mudah-mudahan ini bisa menjadi kontribusi untuk penurunan angka kematian ibu di Indonesia,” ujar dr Milhan.
Setelah melalui rangkaian sidang terbuka dan mempertahankan disertasinya di hadapan tim penguji, dr. Milhan dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Doktor dalam bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) dengan predikat Sangat Memuaskan. Dengan kelulusannya tersebut, dr. Milhan menjadi doktor ke-378 Program Studi Doktor IKM FKM UI, doktor ke-495 di lingkungan FKM UI, serta doktor keenam yang diluluskan Program Studi Doktor IKM pada tahun 2026.
Melalui penyelenggaraan sidang promosi doktor ini, FKM UI kembali menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan penelitian yang mampu memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan kesehatan masyarakat. Hasil penelitian mengenai efektivitas dan efisiensi biaya OXYBUM diharapkan dapat menjadi salah satu landasan dalam penguatan kebijakan kesehatan maternal serta mendukung percepatan penurunan angka kematian ibu di Indonesia. (EAR)

