Depok, 8 Juni 2026 – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menerima kunjungan tim peneliti dari Nanyang Technological University (NTU), Singapura, dalam rangka penjajakan kolaborasi riset internasional bertajuk “Synergistic Effects of Heat and Air Pollution on Health Impacts in Southeast Asia for Protecting Population Health”. Pertemuan yang berlangsung di Ruang PA 209, Gedung A Rumpun Ilmu Kesehatan UI ini mempertemukan akademisi, peneliti, serta perwakilan berbagai instansi pemerintah untuk membahas pengembangan penelitian terkait dampak sinergis gelombang panas dan polusi udara terhadap kesehatan masyarakat di kawasan Asia Tenggara.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Penelitian, dan Kemahasiswaan FKM UI, Prof. Dr. Besral, S.K.M., M.Sc., yang menyampaikan apresiasi atas kunjungan dan inisiatif kolaborasi dari NTU. Dalam sambutannya, Prof. Besral menekankan bahwa perubahan iklim dan pencemaran udara merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks dan membutuhkan pendekatan multidisiplin serta kerja sama lintas negara. “Kami berharap pertemuan ini tidak hanya menjadi forum diskusi ilmiah, tetapi juga menjadi fondasi bagi kolaborasi jangka panjang yang mampu menghasilkan kontribusi nyata bagi perlindungan kesehatan masyarakat di tingkat regional maupun global,” tutur Prof. Besral.
Penelitian yang direncanakan akan menganalisis keterkaitan antara data surveilans kematian, data cuaca, serta data polusi udara untuk memahami dampak gabungan suhu ekstrem dan kualitas udara terhadap kesehatan. Oleh karena itu, kegiatan ini turut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, antara lain Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, serta Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta.
Pada sesi pemaparan, Prof. Steve Yim dari NTU memperkenalkan Centre for Climate, Environment and Health (CCEH) NTU serta berbagai aktivitas riset yang telah dilakukan. Ia menjelaskan sejumlah inovasi dalam pemodelan kualitas udara, termasuk proyeksi kualitas udara di bawah skenario perubahan iklim dan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memprediksi kualitas udara berdasarkan data mobilitas masyarakat yang dinamis. Pendekatan tersebut memungkinkan identifikasi titik-titik rawan polusi udara (hotspot), sehingga dapat mendukung pengelolaan emisi dan upaya pengendalian pencemaran secara lebih efektif.
Lebih lanjut, Prof. Yim memaparkan bagaimana data satelit dapat diintegrasikan ke dalam sistem AI untuk meningkatkan akurasi pemodelan kualitas udara. Ia juga menjelaskan bahwa integrasi pengukuran LiDAR ke dalam model Land Use Regression (LUR) mampu meningkatkan kemampuan prediksi hingga sekitar 30 persen. Selain itu, NTU mengembangkan sistem prakiraan kualitas udara lintas kota berbasis machine learning yang menggabungkan berbagai sumber data, seperti kondisi cuaca, stasiun pemantauan kualitas udara, arus lalu lintas, kepadatan penduduk, morfologi bangunan, dan penggunaan lahan melalui model ConvLSTM dengan kemampuan prediksi hingga tiga hari ke depan.
Tidak hanya berfokus pada polusi udara, tim NTU juga mempresentasikan riset mengenai atribusi gelombang panas berbasis AI serta pengembangan peta stres panas (heat stress maps) untuk menilai dampak fenomena Urban Heat Island (UHI) dan risiko kesehatan masyarakat. Berbagai pendekatan tersebut diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan berbasis data dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin nyata di kawasan perkotaan.
Lebih lanjut, tim NTU juga memaparkan pendekatan ilmiah yang akan digunakan dalam pelaksanaan penelitian. Dr. Li Yue menjelaskan rancangan studi epidemiologi dan metodologi penelitian yang dirancang untuk menganalisis hubungan antara paparan suhu ekstrem, polusi udara, dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Sementara itu, Dr. Cao Yang mempresentasikan pendekatan AI-Based Forecasting and Predictive Modelling yang memanfaatkan kecerdasan buatan dan teknik machine learning untuk memprediksi kondisi lingkungan dan potensi dampaknya terhadap kesehatan.
Selain mendengarkan pemaparan dari NTU, peserta juga mengikuti presentasi berbagai penelitian epidemiologi yang sedang berlangsung di FKM UI. Sesi diskusi membahas peluang sinergi riset, pembagian peran antar institusi, serta langkah-langkah strategis yang akan ditempuh dalam pengembangan penelitian bersama di masa mendatang.
Melalui pertemuan ini, FKM UI dan NTU menegaskan komitmen untuk memperkuat jejaring kolaborasi internasional dalam menghasilkan bukti ilmiah yang relevan bagi penyusunan kebijakan kesehatan dan lingkungan. Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan solusi inovatif dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan pencemaran udara, sekaligus mendukung upaya perlindungan kesehatan masyarakat di Asia Tenggara. (wrk)

