Depok, 27 Juli 2026 — Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menerima kunjungan dari Poltekkes Kemenkes Riau yang dipimpin oleh Prof. Dr. Aslis Wirda Hayati, S.P., M.Si. bersama jajaran Senat Poltekkes Kemenkes Riau. Kunjungan ini bertujuan mempelajari tata kelola Senat Akademik Fakultas (SAF) sebagai bagian dari upaya penguatan sistem akademik di lingkungan Poltekkes Kemenkes Riau. Kegiatan tersebut menjadi wadah berbagi praktik baik mengenai penyelenggaraan tata kelola akademik sekaligus memperkuat kolaborasi antarperguruan tinggi dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi di Indonesia.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura, dan Administrasi Umum FKM UI, Mila Tejamaya, S.Si., MOHS., Ph.D., yang hadir didampingi oleh Staf Unit Kerja Sama dan Ventura FKM UI, Adi Putranto, S.E. Dalam sambutannya, Dr. Mila menyampaikan bahwa FKM UI menyambut baik kunjungan tersebut sebagai bagian dari semangat berbagi pengalaman dalam membangun tata kelola akademik yang berkualitas.
“Kami sangat terbuka terhadap berbagai bentuk kerja sama. Kami berharap pengalaman FKM UI dalam mengembangkan tata kelola akademik, khususnya melalui Senat Akademik Fakultas, dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi Poltekkes Kemenkes Riau,” ujar Dr. Mila.
Sementara itu, Prof. Dr. Aslis Wirda Hayati, S.P., M.Si. menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat FKM UI serta keterbukaan fakultas dalam berbagi pengalaman mengenai penyelenggaraan Senat Akademik. Menurutnya, berbagai praktik baik yang telah diterapkan FKM UI diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan tata kelola akademik di Poltekkes Kemenkes Riau, khususnya dalam memperkuat fungsi Senat Akademik sebagai penjaga mutu penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi.
Sesi diskusi menghadirkan empat narasumber dari FKM UI, yaitu Prof. Dr. Ede Surya Darmawan, S.K.M., M.D.M.; Prof. Dr. dr. Sabarinah, M.Sc.; Prof. Dr. dra. Dumilah Ayuningtyas, M.A.R.S., dan Prof. drs. Bambang Wispriyono, Apt., Ph.D. Melalui pemaparan yang berlangsung secara interaktif, para narasumber mengulas berbagai aspek tata kelola Senat Akademik, mulai dari landasan hukum pembentukannya, struktur dan mekanisme kerja, hubungan Senat Akademik dengan pimpinan fakultas dan universitas, hingga perannya dalam menjaga mutu penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi.
Diskusi juga membahas proses penyusunan kebijakan akademik, pengelolaan pendanaan, pembukaan program studi, penyediaan dosen, penyusunan regulasi akademik, hingga pemberian pertimbangan terhadap Rencana Anggaran dan Belanja (RAB) fakultas.
Dalam paparannya, Prof. Ede Surya Darmawan menjelaskan bahwa keberadaan Senat Akademik memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga mutu akademik di perguruan tinggi.
“Perguruan tinggi memiliki otonomi dalam menjalankan Tridharma, sehingga diperlukan organ yang mampu menjaga mutu dan etika akademik. Senat Akademik menjadi mekanisme check and balance bagi pimpinan, sekaligus menjamin kebebasan akademik dan otonomi keilmuan,” jelas Prof. Ede.
Salah satu pembahasan yang menjadi perhatian dalam kunjungan ini adalah perbedaan sistem tata kelola antara Universitas Indonesia dan Poltekkes Kemenkes. Sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), Universitas Indonesia memiliki otonomi yang lebih luas dalam pengelolaan akademik maupun non-akademik. Sementara itu, Poltekkes Kemenkes berada di bawah Kementerian Kesehatan dengan sistem tata kelola yang berbeda. Perbedaan karakteristik tersebut menjadi ruang diskusi yang konstruktif untuk mengidentifikasi berbagai praktik baik yang dapat diadaptasi sesuai kebutuhan dan regulasi masing-masing institusi.
Pada kesempatan yang sama, Prof. Sabarinah menekankan bahwa keberhasilan FKM UI dalam menjalankan fungsi pengawasan akademik tidak terlepas dari sistem penjaminan mutu yang telah dibangun secara berkelanjutan.
“Alhamdulillah, atas dorongan penerapan ISO, pembangunan Zona Integritas, dan berbagai sistem penjaminan mutu lainnya, FKM UI dapat memiliki sistem yang cukup lengkap sehingga proses pengawasan dapat berjalan dengan baik,” ungkap Prof. Sabarinah.
Ia juga mendorong Poltekkes untuk mengoptimalkan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi melalui potensi pelayanan yang selama ini telah dijalankan. Menurutnya, berbagai aktivitas pelayanan kepada masyarakat dapat dikembangkan menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat yang menghasilkan luaran ilmiah.
“Poltekkes sebagai institusi yang banyak memberikan pelayanan memiliki potensi besar. Jika pelayanan tersebut diposisikan sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat dan datanya dianalisis secara sistematis, maka kegiatan tersebut dapat menghasilkan bukti ilmiah tanpa harus selalu diawali dengan penelitian khusus,” jelasnya.
Melalui kunjungan ini, kedua institusi tidak hanya bertukar pengalaman mengenai tata kelola Senat Akademik, tetapi juga mendiskusikan berbagai peluang kolaborasi dalam pengembangan pendidikan tinggi kesehatan di Indonesia. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi antarperguruan tinggi guna membangun sistem akademik yang adaptif, akuntabel, dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. (SHF)

