Promovendus FKM UI Kembangkan Model Edukasi Berbasis Budaya Sunda untuk Tingkatkan Dukungan Ibu dalam Kesehatan Menstruasi Siswi SD

Depok, 26 Juni 2026 – Pada Jumat (26/6), Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) kembali menggelar sidang terbuka promosi doktor yang melahirkan inovasi baru di bidang promosi kesehatan. Capaian ini mempertegas peran aktif FKM UI dalam memproduksi riset-riset akademis yang aplikatif dan berdampak luas. Pada kesempatan tersebut, Risna Dewi Yanti berhasil mempertahankan disertasinya yang mengangkat pengembangan Model Edukasi Ambu Binangkit, sebuah model edukasi kesehatan menstruasi berbasis sosiokultural Sunda yang terbukti mampu meningkatkan dukungan ibu terhadap kesehatan menstruasi siswi sekolah dasar.

Penelitian berjudul “Model Edukasi Ambu Binangkit Dalam Upaya Peningkatan Dukungan Ibu terhadap Kesehatan Menstruasi Pada Siswi SD Di Kabupaten Garut Tahun 2024-2025” ini berangkat dari masih terbatasnya praktik kesehatan menstruasi pada anak usia sekolah dasar, yang tidak hanya dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan, tetapi juga oleh norma budaya, stigma, serta komunikasi yang belum optimal antara ibu dan anak. Di Kabupaten Garut, tempat penelitian dilakukan, menstruasi masih kerap dipandang sebagai sesuatu yang tabu dan memalukan sehingga pembahasan mengenai kesehatan menstruasi sering kali baru dilakukan setelah anak mengalami menstruasi pertama.

Melalui pendekatan mixed methods dengan desain eksploratori sekuensial, Risna mengidentifikasi bahwa ibu memegang peran sentral dalam membentuk perilaku kesehatan menstruasi anak melalui dukungan informasional, emosional, instrumental, dan pendampingan. Namun, dukungan tersebut belum optimal karena dipengaruhi oleh keterbatasan pengetahuan, norma budaya, rasa malu, hingga minimnya komunikasi terbuka di dalam keluarga.

Sebagai solusi, Risna mengembangkan Model Edukasi Ambu Binangkit, sebuah model promosi kesehatan yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya Sunda dengan materi kesehatan menstruasi. Model ini dirancang khusus bagi ibu yang memiliki anak perempuan kelas IV hingga VI sekolah dasar, dengan guru sebagai fasilitator penghubung antara sekolah dan keluarga. Edukasi dilaksanakan secara interaktif melalui ceramah, diskusi, demonstrasi, praktik, serta didukung perangkat pembelajaran berupa kurikulum, modul fasilitator, buku edukasi dwibahasa Indonesia–Sunda, video edukasi, media putar siklus menstruasi, hingga media praktik pembalut kain.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model Edukasi Ambu Binangkit memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan kapasitas ibu dalam mendukung kesehatan menstruasi anak. Dibandingkan dengan kelompok kontrol, ibu yang mengikuti intervensi mengalami peningkatan bermakna pada aspek pengetahuan, sikap, praktik kesehatan menstruasi, serta seluruh dimensi dukungan kepada anak. Peningkatan terbesar terlihat pada dukungan instrumental dan pendampingan, yang tercermin melalui kesiapan ibu menyediakan kebutuhan menstruasi, mengingatkan anak membawa perlengkapan menstruasi, membangun komunikasi yang lebih terbuka, serta mendampingi anak dalam menjaga kebersihan menstruasi.

Selain menghasilkan model edukasi yang efektif, penelitian ini juga mengungkap bahwa keberhasilan program kesehatan menstruasi tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan pengetahuan individu. Faktor budaya, dukungan keluarga, lingkungan sekolah, ketersediaan sarana sanitasi yang ramah menstruasi, hingga kebijakan pemerintah daerah menjadi bagian penting yang menentukan keberhasilan praktik kesehatan menstruasi pada anak usia sekolah.

Menurut Risna, pendekatan berbasis budaya justru menjadi kekuatan utama dalam membangun penerimaan masyarakat terhadap pesan kesehatan. Nilai-nilai lokal seperti silih asih, silih asah, dan silih asuh dapat menjadi pintu masuk untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka mengenai menstruasi tanpa menghilangkan identitas budaya masyarakat Sunda.

Temuan penelitian ini juga memperkuat pengembangan ilmu promosi kesehatan dengan menawarkan perspektif bahwa kesehatan menstruasi merupakan fenomena multidimensional yang dipengaruhi oleh interaksi pengetahuan, dukungan interpersonal, nilai budaya, serta lingkungan sosial. Model Ambu Binangkit memperluas pendekatan edukasi menstruasi yang sebelumnya lebih berfokus pada anak menjadi pendekatan relasional berbasis keluarga dengan menempatkan ibu sebagai agen perubahan utama.

Secara praktis, Model Edukasi Ambu Binangkit memiliki potensi untuk diintegrasikan ke dalam berbagai program kesehatan sekolah, seperti Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), kegiatan parenting sekolah, serta promosi kesehatan di puskesmas. Model ini juga berpeluang direplikasi di wilayah lain yang memiliki karakteristik sosiokultural serupa dengan melakukan penyesuaian terhadap bahasa, budaya, dan kondisi masyarakat setempat.

Keberhasilan penelitian ini semakin menegaskan komitmen FKM UI dalam menghasilkan inovasi berbasis riset yang tidak hanya memperkaya pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan solusi nyata terhadap berbagai persoalan kesehatan masyarakat melalui pendekatan yang kontekstual, berbasis bukti ilmiah, dan sensitif terhadap budaya lokal.

Sidang terbuka promosi doktor Risna Dewi Yanti dipimpin oleh Dr. Asep Surahman, S.K.M., M.K.M. selaku Ketua Penguji, dengan Prof. Dr. dr. Sabarinah, M.Sc. sebagai promotor, didampingi ko-promotor dr. Agustin Kusumayati, M.Sc., Ph.D. dan Erna Herawati, S.Ant., M.A., Ph.D., serta tim penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Dra. Evi Martha, M.Kes.; Dr. Pujianto, S.K.M., M.Kes.; Prof. Dr. Ede Surya Darmawan, S.K.M., M.D.M.; Dr. Ade Jubaedah, S.SiT., M.M., M.K.M., dan Dr. Tina Hayati Dahlan, S.Psi., M.Pd., Psikolog. (wrk)