Pulse-Ed Raih Best Social Impact dan Best Market Validation pada International Business Competition Season 4 di Vietnam

Depok, 25 Juni 2026 – Inovasi layanan pembelajaran digital adaptif bagi anak dengan penyakit kronis yang dikembangkan tim lintas disiplin Universitas Indonesia berhasil meraih dua penghargaan sekaligus, yaitu Best Social Impact dan Best Market Validation pada International Business Competition Season 4 yang diselenggarakan di Vietnam pada 10–13 Juni 2026.

Nadia Putri, mahasiswa Magister Epidemiologi Peminatan Komunitas angkatan 2024 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), bersama rekan-rekannya dari Fakultas Ilmu Keperawatan dan Fakultas Psikologi UI mengembangkan inovasi bernama Pulse-Ed: A Bio-Adaptive Digital Learning Service for Hospitalized Children.

Kompetisi bisnis tingkat internasional tersebut mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara untuk menawarkan solusi inovatif terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat. Melalui Pulse-Ed, tim Universitas Indonesia mengangkat isu yang kerap dialami anak-anak dengan penyakit kronis, yakni terganggunya proses pendidikan akibat pengobatan dan perawatan jangka panjang. Pulse-Ed merupakan platform pembelajaran yang tidak hanya menghubungkan siswa dengan tutor, tetapi juga menyesuaikan proses belajar berdasarkan kondisi kesehatan anak. Orang tua dapat mengisi skrining kesehatan dan memberikan persetujuan (informed consent) sehingga sistem mampu memberikan rekomendasi waktu dan intensitas belajar yang sesuai dengan tingkat energi, kondisi fisik, serta kesiapan anak.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu pembeda utama Pulse-Ed dibandingkan layanan pembelajaran digital pada umumnya. Selain mengintegrasikan aspek pendidikan, platform ini juga mempertimbangkan kondisi klinis pengguna sehingga proses belajar dapat berlangsung lebih aman dan efektif. “Pulse-Ed tidak hanya berfokus pada keuntungan bisnis, tetapi juga pada dampak sosial yang ingin diciptakan. Kami ingin membantu anak-anak dengan penyakit kronis yang berisiko mengalami ketertinggalan akademik atau kehilangan kesempatan belajar akibat perawatan jangka panjang,” ujar Nadia.

Keunggulan lain yang dinilai oleh dewan juri adalah kemampuan tim dalam menggabungkan dampak sosial dengan model bisnis yang realistis dan berkelanjutan. Melalui target pengguna yang jelas serta peluang kemitraan dengan berbagai institusi terkait, Pulse-Ed dinilai memiliki potensi implementasi yang kuat di dunia nyata.

Selain mempresentasikan inovasi utama, peserta juga menghadapi tantangan pada babak kedua kompetisi. Pada sesi tersebut, setiap tim hanya diberikan waktu 30 menit untuk mengidentifikasi permasalahan bisnis yang diberikan panitia, menganalisis akar masalah, menyusun solusi, dan mempresentasikannya di hadapan juri.

Menurut Nadia, latar belakangnya sebagai mahasiswa epidemiologi dan perbedaan latar belakang keilmuan dalam tim justru menjadi kekuatan utama selama kompetisi berlangsung. Selain itu, keberhasilan tersebut juga tidak terlepas dari dukungan lingkungan akademik FKM UI yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, berbasis data, serta peka terhadap berbagai persoalan kesehatan dan sosial di masyarakat. Bekal tersebut membantu tim dalam merancang solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga relevan dengan kebutuhan pengguna.

Ke depan, tim berencana mengembangkan Pulse-Ed lebih lanjut melalui berbagai bentuk validasi dan penjajakan kerja sama dengan rumah sakit, institusi pendidikan, serta mitra strategis lainnya. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan dapat diimplementasikan secara nyata dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Melalui capaian ini, Nadia juga mengajak mahasiswa untuk berani mengambil peluang di luar bidang yang selama ini ditekuni serta membangun kolaborasi lintas disiplin ilmu. Dukungan dari program beasiswa LPDP juga, turut berperan dalam membuka kesempatan bagi tim untuk berpartisipasi dalam kompetisi internasional tersebut, memperluas jejaring global, sekaligus membawa nama Universitas Indonesia dan Indonesia di tingkat internasional. Prestasi ini membuktikan bahwa kolaborasi lintas disiplin dan penerapan ilmu kesehatan masyarakat mampu menghasilkan inovasi yang tidak hanya kompetitif secara internasional, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (EAR)