Depok, 25 Juni 2026 – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) kembali melahirkan inovasi berbasis riset yang berpotensi memperkuat sistem kesehatan nasional. Dalam sidang promosi doktor Program Studi Doktor Epidemiologi FKM UI, dr. Affan Priyambodo Permana, Sp.BS., Subsp.N-V mempresentasikan hasil penelitiannya yang berhasil mengembangkan alat prediksi pertama berbasis data Indonesia untuk memperkirakan keberhasilan tindakan trombektomi mekanik pada pasien stroke iskemik akut akibat sumbatan pembuluh darah besar (large vessel occlusion/LVO).
Penelitian tersebut merupakan hasil analisis terhadap 234 pasien yang menjalani tindakan trombektomi mekanik di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan RS Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono (RSPON) sepanjang periode 2017–2025. Selain menghasilkan sistem skoring yang mampu memprediksi peluang pemulihan pasien, penelitian ini juga mengidentifikasi berbagai hambatan dalam sistem layanan stroke di Indonesia yang memengaruhi keberhasilan terapi.
Stroke iskemik merupakan jenis stroke yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah otak dan mencakup sekitar 85% dari seluruh kasus stroke. Dari jumlah tersebut, sekitar 30% merupakan kasus sumbatan pembuluh darah besar yang menjadi penyebab utama kecacatan berat dan kematian akibat stroke. Kondisi ini menjadikan trombektomi mekanik sebagai salah satu tindakan penyelamatan yang sangat menentukan, terutama apabila dilakukan dalam waktu yang cepat.
Melalui penelitian ini, dr. Affan mengembangkan sistem skoring yang terdiri atas delapan faktor klinis dengan tingkat akurasi yang setara dengan alat prediksi internasional (AUC 0,769). Berbeda dengan sistem yang selama ini banyak digunakan di berbagai negara, alat prediksi ini tidak hanya mempertimbangkan kondisi pasien sebelum tindakan, tetapi juga memperhitungkan kondisi pascatindakan yang terbukti sangat berpengaruh terhadap hasil akhir pasien.
Salah satu temuan paling penting dalam penelitian ini adalah bahwa gangguan ginjal akut setelah tindakan trombektomi menjadi faktor risiko terkuat yang berkaitan dengan luaran klinis yang kurang baik. Temuan tersebut membuka peluang baru bagi tenaga kesehatan untuk melakukan pencegahan dan pemantauan lebih dini terhadap komplikasi pascatindakan, sesuatu yang selama ini belum banyak menjadi perhatian dalam sistem prediksi internasional.
Dalam keterangannya, dr. Affan menegaskan bahwa keberhasilan penanganan stroke tidak hanya bergantung pada tindakan trombektomi semata, tetapi juga pada kualitas pelayanan setelah prosedur dilakukan.
“Stroke adalah lomba melawan waktu. Tindakan trombektomi bisa menyelamatkan fungsi otak, tetapi keberhasilannya tidak berhenti di ruang tindakan—perawatan sesudahnya sama pentingnya. Alat ini membantu kami berbicara secara jujur dengan keluarga mengenai peluang pemulihan, sekaligus menjadi cermin untuk memperbaiki sistem layanan,” ujar dr. Affan.
Selain menghasilkan inovasi berupa sistem skoring, penelitian ini juga memetakan tiga lapis hambatan yang masih dihadapi dalam pelayanan stroke di Indonesia, yaitu hambatan sebelum pasien tiba di rumah sakit, hambatan selama proses pelayanan di rumah sakit, serta hambatan pada fase perawatan setelah tindakan. Hambatan tersebut meliputi proses rujukan yang berlapis, keterlambatan administrasi dan persetujuan pembiayaan alat, hingga keterbatasan kapasitas ruang rawat intensif dan kesiapan sumber daya di sejumlah rumah sakit.
Penelitian juga menunjukkan bahwa ketika hambatan administrasi pembiayaan dihilangkan sehingga tindakan dapat segera dilakukan tanpa menunggu persetujuan biaya, akses pelayanan menjadi lebih cepat. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa penyederhanaan sistem pembiayaan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan keselamatan pasien stroke.
Lebih jauh, penelitian ini menggarisbawahi pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengenali gejala stroke dan segera membawa pasien ke rumah sakit yang memiliki layanan stroke komprehensif. Semakin cepat pasien memperoleh diagnosis melalui CT angiografi dan mendapatkan terapi yang tepat, semakin besar peluang jaringan otak dapat diselamatkan dan pasien kembali mandiri.
Hasil penelitian doktoral ini diharapkan menjadi landasan bagi pengembangan sistem pelayanan stroke yang lebih efektif di Indonesia sekaligus memperkuat kontribusi FKM UI dalam menghasilkan bukti ilmiah yang mendukung pengambilan kebijakan kesehatan. Sebelum diterapkan secara nasional, sistem skoring yang dikembangkan masih memerlukan proses validasi di berbagai rumah sakit dengan karakteristik pasien yang berbeda. Namun demikian, penelitian ini menjadi langkah penting menuju layanan stroke yang lebih cepat, lebih tepat, dan lebih berorientasi pada keselamatan pasien.

