Riset Doktor FKM UI Ungkap Faktor Risiko Hipertensi Akibat Pajanan Pestisida, Dorong Penguatan Perlindungan Kesehatan Petani 

Depok, 2 Juli 2026 – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) kembali menegaskan komitmennya dalam menghasilkan riset yang berkontribusi bagi perlindungan kesehatan pekerja melalui Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Studi Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat. Pada sidang tersebut, Imelda Gernauli Purba berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Model Faktor Risiko Stres Oksidatif (Kadar MDA) dan Kejadian Hipertensi pada Petani Terpajan Organofosfat di Kecamatan Dempo Utara Pagar Alam Sumatera Selatan Tahun 2024.”

Penelitian ini berangkat dari tingginya potensi pajanan pestisida organofosfat pada petani hortikultura. Organofosfat diketahui dapat memicu peningkatan reactive oxygen species (ROS) yang menyebabkan stres oksidatif dan berkontribusi terhadap terjadinya hipertensi. Di Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagar Alam, di mana mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian, survei pendahuluan menunjukkan sekitar 24,2 persen petani mengalami hipertensi, sehingga diperlukan kajian yang lebih komprehensif mengenai hubungan pajanan pestisida dengan dampak kesehatannya.

Menggunakan desain cross-sectional yang menggabungkan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) dan Studi Epidemiologi Kesehatan Lingkungan (EKL), penelitian melibatkan 116 petani yang dipilih secara simple random sampling. Analisis dilakukan melalui pemeriksaan residu organofosfat pada cabai dan tomat menggunakan LC-MS/MS, deteksi metabolit dialkil fosfat (DAP) dalam urin menggunakan GC-MS, pengukuran kadar malondialdehida (MDA) sebagai indikator stres oksidatif, serta pengukuran tekanan darah responden.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa residu organofosfat ditemukan pada beberapa sampel cabai dan tomat. Meskipun secara umum hasil karakterisasi risiko belum menunjukkan risiko kesehatan langsung dari konsumsi bahan pangan tersebut, penelitian menemukan fakta penting bahwa profenofos memiliki nilai Risk Quotient (RQ) lebih tinggi dibandingkan klorpirifos, meskipun konsentrasinya lebih rendah. Temuan ini mengindikasikan bahwa tingkat toksisitas suatu senyawa perlu menjadi perhatian dalam penilaian risiko, bukan hanya besarnya residu yang ditemukan.

Penelitian juga mengungkap bahwa lama dan frekuensi penyemprotan pestisida merupakan faktor yang memengaruhi hubungan antara pajanan organofosfat dengan stres oksidatif, sementara lama penyemprotan menjadi faktor yang memengaruhi hubungan antara pajanan organofosfat dengan kejadian hipertensi. Di sisi lain, stres oksidatif tidak ditemukan berhubungan langsung dengan hipertensi setelah dikontrol oleh faktor lain, namun durasi penyemprotan dan usia terbukti menjadi faktor yang berperan penting terhadap kejadian hipertensi pada petani.

Kebaruan penelitian ini terletak pada keberhasilannya membangun model faktor risiko yang mengidentifikasi peran effect modifier dalam hubungan antara pajanan organofosfat, stres oksidatif, dan hipertensi. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa residu profenofos yang lebih rendah justru dapat memiliki risiko kesehatan lebih tinggi dibandingkan dengan klorpirifos karena karakteristik toksisitasnya, sehingga memberikan perspektif baru dalam analisis risiko kesehatan lingkungan.

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar ilmiah bagi Dinas Pertanian, Komisi Pestisida, dan Dinas Kesehatan dalam memperkuat pengawasan penggunaan pestisida, meningkatkan edukasi penggunaan pestisida yang aman, serta mengembangkan upaya pencegahan penyakit tidak menular, khususnya hipertensi, di kalangan petani. Penelitian ini juga memberikan informasi penting bagi petani mengenai pentingnya penggunaan alat pelindung diri, pengelolaan pestisida yang benar, serta pembatasan durasi dan frekuensi penyemprotan untuk meminimalkan risiko kesehatan akibat pajanan pestisida.

Sidang promosi doktor ini dibimbing oleh Prof. dr. Haryoto Kusnoputranto, S.K.M., Dr.PH. selaku promotor, dengan kopromotor Prof. Dr. drg. Ririn Arminsih Wulandari, M.Kes. dan Dr. Budi Hartono, S.Si., M.K.M. Tim penguji terdiri atas Prof. Drs. Bambang Wispriyono, Apt., Ph.D.; Prof. Dr. Besral, S.K.M., M.Sc.; Prof. Dr. dr. H.J. Mukono, M.S., M.P.H.; Prof. Dr. Yuanita Windusari, S.Si., M.Si., serta Prof. Dr. Rico Januar Sitorus, S.K.M., M.Kes (Epid).

Lewat kontribusi ilmiah tersebut, institusi ini membuktikan peran nyatanya dalam menyediakan bukti akademis yang mendukung penguatan kebijakan kesehatan lingkungan dan kerja di Indonesia. Temuan penelitian diharapkan menjadi landasan bagi pengembangan strategi perlindungan kesehatan petani yang lebih efektif melalui pengendalian pajanan pestisida, penguatan sistem pemantauan kesehatan pekerja, serta penerapan praktik pertanian yang lebih aman dan berkelanjutan. (wrk)