Riset Risiko Merkuri pada Anak Antarkan Mahasiswa FKM UI Raih Dua Penghargaan Internasional

Depok, 28 September 2026 – Riset mengenai risiko kesehatan lingkungan akibat aktivitas pertambangan emas skala kecil mengantarkan Muhamad Athors Syarofil Jalal, mahasiswa Kesehatan Lingkungan FKM UI angkatan 2023, meraih MyMembrane Travelling Award dan Best Oral Presentation pada ISET2026 & RCEnvE2026, konferensi yang berlangsung 22-24 September 2026 di Pulai Springs Resort, Johor Bahru, Malaysia. 

Penelitian berjudul “Preliminary Environmental Health Risk Assessment of Children in Mountainous and Coastal ASGM Settings in Indonesia” mengkaji risiko kesehatan lingkungan pada anak di wilayah Artisanal and Small-Scale Gold Mining (ASGM) dengan membandingkan wilayah pegunungan dan pesisir. “Merkuri ini bersifat persisten, sulit terdegradasi secara alami, dan dapat mencemari elemen-elemen lingkungan,” ujar Athors. Menurutnya, persoalan tersebut penting dari perspektif kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan karena aktivitas ASGM sering berada di dekat permukiman. Anak-anak merupakan kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus karena sistem detoksifikasi tubuh mereka belum berkembang sempurna dan sistem saraf mereka masih dalam tahap perkembangan.

Lebih lanjut, Athors melihat bagaimana perbedaan setting ASGM dapat menghasilkan exposure pathway dan risiko kesehatan yang berbeda. Wilayah pegunungan dan pesisir dibandingkan untuk melihat bagaimana merkuri dapat mencapai manusia melalui jalur paparan yang berbeda. 

Keikutsertaan dalam konferensi tersebut juga menjadi kesempatan bagi Athors untuk membawa perspektif environmental health ke forum yang banyak membahas teknologi dan rekayasa lingkungan. “Di forum ini, saya mencoba membawa sudut pandang yang berbeda dari peserta lain, yaitu menghubungkan permasalahan pencemaran lingkungan dengan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat,” katanya.

Meski tidak secara langsung mengembangkan teknologi baru, penelitian tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan akan intervensi teknologi. Temuan mengenai jalur paparan dan tingkat risiko dapat mendukung penentuan kebutuhan pengolahan limbah, remediasi merkuri, pengendalian sumber pencemaran, serta pengembangan sistem pemantauan lingkungan yang lebih berkelanjutan. “Jadi, kontribusi riset ini terhadap tema konferensi ada pada sisi environmental health evidence: sebelum mengembangkan teknologi, kita perlu tahu terlebih dahulu di mana risikonya, siapa yang paling terdampak, dan jalur paparan mana yang harus diprioritaskan,” ujar Athors.

Penelitian dilakukan secara bertahap, mulai dari pengumpulan data lapangan di dua setting ASGM, analisis sampel lingkungan dan biologis, pengolahan data, hingga penilaian risiko kesehatan lingkungan. Hasil penelitian kemudian disusun menjadi paper dan dikembangkan menjadi materi presentasi. Namun, proses tersebut juga masih menghadapi sejumlah tantangan, di mana lokasi ASGM cenderung cukup tertutup dan tidak selalu mudah diakses, sehingga pengambilan data dan pendekatan kepada masyarakat membutuhkan komunikasi serta kerja lapangan yang intensif. Oleh karena itu, perlu mengintegrasikan temuan dari dua setting yang berbeda dan menyampaikannya secara sederhana kepada audiens dari berbagai disiplin dalam waktu presentasi yang terbatas.

Seleksi MyMembrane Travelling Award juga menjadi bagian dari proses tersebut. Athors menjalani wawancara dengan pakar dari industri dan profesor akademik yang tidak hanya membahas metodologi penelitian, tetapi juga dampak, relevansi, dan kontribusi penelitian terhadap penyelesaian masalah lingkungan di dunia nyata. “Jadi, mendapatkan MyMembrane Travelling Award dan Best Oral Presentation kemarin menurut saya bukan hanya hasil dari presentasi saat konferensi, tetapi juga merupakan hasil dari keseluruhan proses penelitian, bimbingan, persiapan, dan bagaimana kami mengomunikasikan nilai serta dampak dari temuan tersebut kepada audiens yang lebih luas,” tutur Athors.

Pencapaian tersebut tidak terlepas dari dukungan Fitri Kurniasari, S.K.M., M.K.K.K., Ph.D., selaku dosen pembimbing yang terus mendorongnya untuk berkecimpung di dunia internasional, membuka kesempatan untuk belajar dan berkreasi di luar lingkungan kampus, serta berkembang sebagai peneliti.

Ke depan, ia berpesan kepada mahasiswa FKM UI untuk tidak takut membawa perspektif kesehatan masyarakat ke bidang yang berbeda dan semakin banyak ruang serta dukungan bagi mahasiswa FKM UI untuk terlibat dalam penelitian, konferensi internasional, dan kolaborasi multidisiplin, sehingga perspektif kesehatan masyarakat dapat berkontribusi lebih luas di tingkat global. (EAR)