Satu-satunya Finalis dengan Latar Belakang Kesehatan, Salmahita Ataya Pradilla Raih Gelar Duta Bahasa DKI Jakarta 2026

Jakarta, Juli 2026 — Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI). Salmahita Ataya Pradilla, mahasiswa Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat, berhasil menyandang gelar Duta Bahasa DKI Jakarta 2026 setelah melalui rangkaian seleksi yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Provinsi DKI Jakarta.

Ajang Duta Bahasa DKI Jakarta merupakan wadah pembinaan generasi muda yang bertujuan mencetak agen perubahan dalam pengembangan kebahasaan. Melalui ajang ini, para peserta diharapkan mampu mengimplementasikan semangat Trigatra Bangun Bahasa, yaitu mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.

Dari puluhan pendaftar, Salmahita berhasil lolos menjadi 40 semifinalis sebelum akhirnya terpilih sebagai 20 finalis Duta Bahasa DKI Jakarta 2026. Menariknya, ia menjadi satu-satunya finalis yang berasal dari latar belakang ilmu kesehatan, membawa perspektif baru bahwa penguasaan bahasa memiliki peran penting dalam berbagai bidang, termasuk kesehatan masyarakat.

Salmahita mengaku dalam proses seleksi, ia mengusung kampanye “Bahasa di Layar Kita”, yang mengajak generasi muda untuk bangga menggunakan bahasa Indonesia melalui media sosial, konten edukatif, dan wicara publik agar bahasa Indonesia terasa lebih dekat dan relevan di era digital.

“Aku berharap bisa menjadi Duta Bahasa DKI Jakarta yang mengajarkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, yang tentunya juga akan sangat berguna dalam proses akademik nanti,” ujarnya.

Perjalanan Salmahita di bidang kebahasaan sebenarnya telah dimulai sejak masa SMA, ketika ia meraih Juara 1 Pidato DKI Jakarta. Pengalamannya mengikuti student exchange di Mahidol University, Thailand, sebagai mahasiswa FKM UI turut memperluas wawasan lintas budaya dan komunikasi internasional yang menjadi bekal berharga dalam mengikuti ajang Duta Bahasa. Di balik proses tersebut, Salmahita juga menghadapi tantangan dalam membagi waktu antara rangkaian pembekalan Duta Bahasa dengan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL), mata kuliah wajib mahasiswa FKM UI yang mengharuskan mahasiswa terjun langsung ke masyarakat. Meski demikian, ia mampu menjalani kedua tanggung jawab tersebut secara beriringan hingga berhasil menyelesaikan seluruh tahapan seleksi. 

Selama mengikuti rangkaian seleksi, para peserta dinilai berdasarkan kemampuan berbahasa Indonesia melalui Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), wawasan mengenai bahasa daerah dan bahasa asing, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, pelaksanaan program krida, serta gagasan inovatif dalam mendukung pengembangan bahasa Indonesia di tengah masyarakat.

Salah satu tahapan yang paling menantang adalah penyusunan program kerja mengenai penginternasionalan bahasa Indonesia. Bersama timnya, Salmahita mengembangkan RASA (Ruang Bahasa dan Budaya Nusantara), sebuah program yang memanfaatkan gastrodiplomasi sebagai media pembelajaran bagi peserta Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).

Mengangkat Soto Betawi sebagai representasi budaya Jakarta, RASA menghadirkan pengalaman belajar yang memadukan bahasa Indonesia, budaya, dan kuliner Nusantara. Melalui pendekatan ini, warga negara asing dari Serbia, Pakistan, dan Timor Leste yang mengikuti program BIPA diajak mengenal kosakata bahasa Indonesia, memahami kekayaan rempah Nusantara, mengikuti proses memasak, hingga menceritakan kembali pengalaman tersebut menggunakan bahasa Indonesia. Pendekatan ini didasarkan pada keyakinan bahwa bahasa akan lebih mudah dipahami ketika digunakan dalam pengalaman sehari-hari. 

“Belajar bahasa tidak selalu harus dimulai dari ruang kelas. Bahasa akan lebih mudah dipahami ketika digunakan dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Salmahita.

Menurut Salmahita, pengalaman mengikuti Duta Bahasa DKI Jakarta memberikan ruang baginya untuk menunjukkan bahwa mahasiswa kesehatan juga dapat berkontribusi dalam bidang kebahasaan. Salmahita berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak ragu mengikuti kegiatan yang sesuai dengan minat mereka. 

“Jangan pernah mengorbankan impian hanya karena orang lain. Ketika memulai sesuatu, pastikan itu benar-benar karena keinginan diri sendiri agar lebih mudah dijalani dengan hati yang ikhlas,” tuturnya.

Prestasi yang diraih Salmahita menunjukkan bahwa mahasiswa FKM UI tidak hanya mampu berkontribusi dalam bidang kesehatan masyarakat, tetapi juga berperan aktif dalam pengembangan bahasa Indonesia, pelestarian budaya, serta diplomasi kebahasaan di tingkat provinsi, nasional, hingga internasional melalui gagasan yang inovatif dan berdampak. (SHF)