Depok, 11 Februari 2026 — Di tengah kehidupan yang semakin cepat, serba digital, dan penuh distraksi, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) mengajak seluruh sivitas akademika untuk menekan tombol jeda. Melalui kegiatan Tarhib Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula G FKM UI, momen menyambut bulan suci dimaknai sebagai kesempatan untuk melakukan reset diri—secara spiritual, intelektual, dan sosial.
Kegiatan yang diikuti oleh seluruh sivitas akademika dan keluarga besar FKM UI ini menjadi ruang refleksi bersama menjelang datangnya Ramadan. Dekan FKM UI, Prof. Dr. Indri Hapsari Susilowati, S.K.M., M.K.K.K., dalam sambutannya menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang pembinaan diri yang menyeluruh.
“Ramadan mengingatkan kita bahwa peningkatan kualitas diri tidak hanya berbicara tentang aspek spiritual, tetapi juga tentang bagaimana kita mempersiapkan fisik, mental, dan komitmen pengabdian kepada masyarakat. Inilah saatnya memperbanyak ibadah dan memperkuat kontribusi,” ujar Prof. Indri.
Sebagai institusi pendidikan di bidang kesehatan masyarakat, FKM UI memandang Ramadan sebagai momentum untuk menumbuhkan karakter yang berintegritas, berempati, dan berorientasi pada kemaslahatan publik. Spirit inilah yang diharapkan terus hidup, tidak hanya selama bulan suci, tetapi juga dalam keseharian akademik dan profesional.
Dimensi reflektif Tarhib Ramadan semakin diperdalam melalui tausiyah bertema “Digital Fasting dan Reset Button di Bulan Ramadan” yang disampaikan oleh Dr. KH. Mohammad Shofin Sugito, Lc., M.A., yang merupakan Wakil Komisi Fatwa Metodologi MUI Pusat. Dalam pemaparannya, ia menyoroti tantangan besar umat manusia di era kemudahan teknologi dan derasnya arus informasi.
Fenomena seperti brainrot—kondisi ketika seseorang mudah terprovokasi, cepat menyimpulkan, dan gemar melabeli tanpa melihat persoalan secara komprehensif—menjadi salah satu dampak dari konsumsi informasi yang tidak terkendali. Akibatnya, akal kehilangan ketajamannya, produktivitas menurun, daya analisis melemah, dan emosi menjadi sulit terkendali.
“Modal utama dalam beragama adalah akal. Karena itu kita diperintahkan untuk belajar—iqra. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Derajat berbeda dengan pangkat; ia adalah kemuliaan di hadapan Allah dan manusia,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa prinsip Islam adalah menjaga akal. Dalam konteks ini, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan menyeluruh untuk mengendalikan diri dan memulihkan kejernihan berpikir. Ramadan menjadi momen slow down—memperlambat ritme hidup yang berlebihan, mengurangi distraksi digital, serta mengembalikan diri pada nilai-nilai dasar.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa ibadah yang berdampak luas dan berkelanjutan bagi masyarakat memiliki keutamaan besar, selain ibadah wajib. Artinya, kualitas spiritual sejatinya tercermin dalam kontribusi nyata yang dirasakan oleh orang lain.
Melalui Tarhib Ramadan 1447 Hijriah ini, FKM UI tidak hanya menyambut datangnya bulan suci, tetapi juga menegaskan komitmen untuk menjadikan Ramadan sebagai ruang transformasi. Transformasi pribadi yang berujung pada peningkatan kualitas pengabdian—sejalan dengan peran FKM UI dalam membangun kesehatan masyarakat yang berkelanjutan.
Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan kesempatan untuk naik tingkat—menjadi lebih jernih dalam berpikir, lebih tenang dalam bersikap, dan lebih luas dalam memberi manfaat. (wrk)

