Teliti Risiko Kualitas Hidup Rendah pada Pasien Fibrilasi Atrium, Simon Salim Raih Doktor FKM UI

Depok, 23 Juni 2026 — Fibrilasi atrium merupakan salah satu gangguan irama jantung yang paling sering ditemukan di dunia, termasuk di Indonesia. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan risiko komplikasi serius seperti stroke dan gagal jantung, tetapi juga berdampak pada penurunan kualitas hidup pasien akibat beban gejala, kebutuhan perawatan jangka panjang, serta risiko rawat inap berulang.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Simon Salim berhasil meraih gelar Doktor dalam Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) melalui disertasi berjudul “Pengembangan Model Prediktif dengan Sistem Scoring dan Estimasi Risiko Individu Mengalami Kualitas Hidup Rendah pada Pasien Fibrilasi Atrium Rawat Jalan di Indonesia.”

Dalam penelitiannya, Simon menyoroti bahwa kajian fibrilasi atrium selama ini masih banyak berfokus pada luaran klinis seperti mortalitas dan komplikasi, sementara aspek kualitas hidup pasien belum selalu dinilai secara sistematis. Padahal, kualitas hidup mencakup berbagai dimensi, mulai dari kondisi fisik, psikologis, sosial, hingga kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari.

Penelitian ini bertujuan mengembangkan model prediksi untuk mengidentifikasi pasien fibrilasi atrium rawat jalan yang berisiko mengalami kualitas hidup rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar satu dari tiga pasien fibrilasi atrium rawat jalan memiliki kualitas hidup rendah. Analisis lebih lanjut menghasilkan empat variabel utama sebagai prediktor, yaitu jenis kelamin perempuan, penyakit ginjal kronis, riwayat ablasi fibrilasi atrium, serta lama diagnosis lebih dari satu tahun. Berdasarkan temuan tersebut, Simon mengembangkan sistem scoring sederhana untuk memperkirakan risiko individu mengalami kualitas hidup rendah. 

“Sistem scoring ini dapat digunakan secara praktis di layanan klinis karena seluruh variabel dapat diperoleh melalui anamnesis tanpa pemeriksaan tambahan,” ujar Simon.

Model ini diharapkan dapat menjadi alat skrining awal bagi tenaga kesehatan, khususnya dalam konteks pelayanan kesehatan masyarakat, untuk mengidentifikasi pasien yang membutuhkan perhatian lebih. Dengan demikian, intervensi dapat dilakukan lebih dini guna meningkatkan kualitas hidup pasien secara optimal.

Melalui disertasi ini, Simon memberikan kontribusi penting dalam pengembangan pendekatan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat dan berfokus pada pasien (patient-centered care), khususnya pada kasus fibrilasi atrium. Model prediktif yang dikembangkan diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus kualitas hidup pasien di Indonesia.

Dengan diraihnya gelar Doktor dalam Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Simon Salim diharapkan dapat terus berkontribusi dalam pengembangan riset kesehatan masyarakat yang berdampak nyata bagi masyarakat luas. (SHF)