Transformasi K3 Nasional: Mengubah Compliance Menjadi Safety Intelligence di Era AI dan Industri Modern 

JAKARTA, 30 Agustus 2026 — Memperingati tiga dekade lebih kiprahnya dalam mencetak sumber daya manusia unggul serta memajukan keilmuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Departemen K3 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menggelar Puncak Perayaan HUT Ke-33 pada Jumat, 28 Agustus 2026, bertempat di RA Suites Simatupang, Jakarta Selatan. Mengusung fokus strategis pada penguatan kapasitas sumber daya manusia dan responsif terhadap dinamika industri modern, acara ini menjadi panggung kolaborasi lintas sektor yang menghimpun pemikiran para akademisi, regulator, praktisi industri, hingga alumni. Rangkaian perayaan tidak hanya sekadar selebrasi perjalanan sejarah, melainkan momentum penting untuk menegaskan kembali posisi FKM UI sebagai think tank dan rujukan utama pengembangan K3 nasional di tengah tantangan global seperti digitalisasi, otomatisasi, transisi energi, hingga perubahan iklim.

Rangkaian perayaan 33 tahun ini dibuka dengan sorotan perjalanan panjang dan kontribusi nyata keilmuan K3 dalam melindungi tenaga kerja di Indonesia. Ketua Departemen K3 FKM UI, drg. Baiduri Widanarko, M.K.K.K., Ph.D. menyampaikan rasa syukur serta apresiasi atas sinergi yang terus terjalin kuat antara akademisi, alumni, dan para pemangku kepentingan industri. Dalam kesempatan ini pula, Dekan FKM UI, Prof. Dr. Indri Hapsari Susilowati, S.K.M., M.K.K.K.,  menyuarakan kebanggaan mendalam atas pencapaian Departemen K3 FKM UI selama 33 tahun terakhir. Prof. Indri menegaskan bahwa tema perayaan “Unggul dalam Keilmuan, Berdampak Nyata bagi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Indonesia” mencerminkan komitmen moral bahwa keunggulan akademik tidak boleh berhenti di ruang kelas, melainkan harus diwujudkan dalam solusi konkret bagi keselamatan dan kesehatan para pekerja di lapangan.

Prof. Indri juga menyampaikan komitmen penuh pimpinan Universitas Indonesia untuk terus mendukung penguatan riset, penyediaan fasilitas unggulan, serta tata kelola pendidikan K3 yang adaptif terhadap kebutuhan industri masa depan. Ia juga menggarisbawahi pentingnya memperkuat model kolaborasi pentahelix—menghubungkan akademisi, pemerintah, dunia usaha, media, dan masyarakat—agar ilmu K3 senantiasa relevan dan berdaya saing, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Perspektif strategis mengenai urgensi transformasi K3 nasional diperkuat oleh paparan dari para pimpinan kementerian. “Tantangan K3 saat ini menuntut kita bergerak dari sekadar compliance menuju pembentukan budaya keselamatan yang nyata,” ujar Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI, Dr. Ir. H. Afriansyah Noor, M.Si., IPU. Dalam paparannya, beliau mengungkapkan bahwa audit eksternal SMK3 baru menyasar sekitar 18 ribu dari 450 ribu perusahaan di Indonesia. Berkaca pada 319.224 kasus kecelakaan kerja sepanjang 2025, Wamenaker menegaskan pentingnya SDM K3 yang tidak hanya paham aturan, tetapi juga menguasai analisis data dan adaptif terhadap risiko teknologi baru seperti AI dan otomatisasi. 

Senada dengan hal tersebut, Direktur Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam Kementerian Perindustrian RI, Dr. Ir. Putu Nadi Astuti, S.T., M.Si., menekankan bahwa keselamatan industri merupakan fondasi utama dari ketahanan dan daya saing ekonomi nasional. Dengan sektor industri pengolahan non-migas yang menyerap hampir 20 juta tenaga kerja dan menyumbang 16,83% terhadap PDB, pendekatan K3 tidak lagi bisa menerapkan prinsip satu ukuran untuk semua (no one size fits all). Keselamatan industri harus dikelola berbasis tingkat risiko spesifik sektor, sebagaimana tertuang dalam Rancangan Peraturan Menteri Perindustrian tentang K2 Industri yang mencakup pengawasan komprehensif pada peralatan, proses produksi, hasil produksi, penyimpanan, hingga pengangkutan.

Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan RI, Irjen Pol. Dr. Capt. Hermanta, S.H., M.M., M.Mar., menyoroti pentingnya evolusi K3 menuju era K3 5.0 (Human-Centric Safety Intelligence). “K3 harus bertransformasi menuju era K3 5.0 yang berbasis Human-Centric Safety Intelligence,” tegas Kepala Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan RI, Irjen Pol. Dr. Capt. Hermanta, S.H., M.M., M.Mar. Ia menjelaskan bahwa dalam ekosistem transportasi Indonesia yang dinamis, integrasi teknologi seperti IoT, sensor, dan AI memang sangat membantu mendeteksi risiko secara proaktif. Namun, ia mengingatkan agar kemajuan teknologi tidak mengabaikan faktor manusia (human factors) seperti fatigue, stres, dan penurunan situational awareness. “Teknologi canggih dapat membantu menyediakan analisis data, tetapi keputusan keselamatan yang bijak tetap berada di tangan manusia yang kompeten dan berintegritas,” tambahnya. 

Sebagai puncak pengabdian akademik dan wujud kontribusi nyata bagi penyediaan referensi keilmuan, Puncak Perayaan Dies Natalis Ke-33 ini turut ditandai dengan peluncuran buku terbaru karangan civitas akademika FKM UI berjudul “Basic OHS” (K3 Dasar). Peluncuran buku ini diharapkan dapat menjadi rujukan ilmiah yang kokoh bagi mahasiswa, peneliti, maupun praktisi K3 di seluruh Indonesia. Suasana haru dan keakraban juga mewarnai penayangan video kilas balik sejarah perjalanan Departemen K3 FKM UI, penganugerahan OHS Appreciation, serta prosesi penyambutan alumni baru yang dikemas dalam OHS Leaders Forum & Networking Dinner. Rangkaian acara ini ditutup dengan semangat kebersamaan untuk terus menjaga integritas keilmuan dan memperkuat jaringan kolaborasi demi mewujudkan lingkungan kerja Indonesia yang aman, sehat, produktif, serta berdaya saing menuju visi Indonesia Emas 2045. (wrk)