FKM UI Gelar Seminar Online Seri 16 Bahas Tumbuh Kembang dan Kesehatan Mental Remaja di Era Modern

Depok, 5 Desember 2025 – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan Seminar Online (Semol) Seri 16 yang bertajuk “Grow Strong, Feel Strong: Tumbuh Kembang & Mental Health di Era Modern” secara hybrid. Seminar ini merupakan bagian dari Mata Kuliah Dasar Kesehatan Reproduksi yang diampu Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM UI. Seminar ini membahas tumbuh dan kembang dalam fisik maupun mental pada kesehatan remaja, dan menghadirkan narasumber dari UNFPA serta Rumah Sakit Marzuki Mahdi.

Acara dibuka oleh Prof. Dr. dr. Sabarinah, M.Sc., selaku Ketua Kelompok Studi Kesehatan Reproduksi FKM UI. Dalam sambutannya, Prof. Sabarinah menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa yang telah mempersiapkan kegiatan ini dengan baik serta menegaskan pentingnya memahami aspek tumbuh-kembang remaja. “Sebagian besar dari mahasiswa masih remaja. Dengan demikian kita bersama-sama akan mencermati apa saja yang perlu kita perhatikan dari aspek kesehatan masyarakat terutama pada kesehatan reproduksi, kita dapat melakukan preferensi baik primer, sekunder, maupun tersier,” ujar Prof. Sabarinah.

Selanjutnya, seminar dipandu oleh Prof. Dr. Kemal Siregar, M.Ph., Ph.D., Guru Besar Departemen Biostatistik dan Ilmu Kependudukan FKM UI sekaligus Ketua Health Informatics Research Cluster sebagai moderator. Sebelum memasuki pemaparan materi, Prof. Kemal juga menekankan bahwa isu tumbuh kembang dan kesehatan mental remaja merupakan bagian penting dari pembangunan kesehatan masyarakat.  

Dr. Margareta Orman Ariani Sitanggang dari United Nations Population Fund (UNFPA), selaku pembicara pertama, menekankan pentingnya pemenuhan hak dan kebutuhan remaja sebagai aset pembangunan. Ia mengawali pemaparan dengan menyinggung hasil pengukuran data kesehatan remaja melalui program GAMA (Global Action for Measurement of Adolescent Health). Ia menjelaskan beberapa temuannya. “Angka kelahiran hidup pada remaja perempuan usia 15 sampai 19 tahun adalah 20 per 1000. Kemudian, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan hanya 82%. Lalu, 7% remaja usia 13 sampai 17 tahun telah melakukan hubungan seks pertama sebelum usia 15 tahun,” ujar Dr. Margareta. Ia menambahkan bahwa perlindungan terhadap remaja yang aktif seksual masih sangat rendah. “Penggunaan kondom pada hubungan seks terakhir hanya 35%, sehingga risiko kehamilan di usia remaja dan penularan IMS sangat tinggi,” tambahnya.

Kemudian, ia menyampaikan mandat UNFPA dalam mencapai tiga target global: mencegah kematian ibu yang dapat dicegah, memenuhi kebutuhan keluarga berencana, serta menghapus kekerasan berbasis gender dan praktik berbahaya seperti perkawinan anak.

Miranti Novia Wardani, S.Psi., dari RS Marzuki Mahdi, selaku pembicara selanjutnya menegaskan urgensi tema yang diangkat dalam seminar ini. “Kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Banyak kejadian yang membuka mata kita bahwa isu ini tidak bisa diabaikan,” ujar Miranti.

Ia kemudian menjelaskan tingginya prevalensi gangguan kecemasan dan depresi pada kelompok usia remaja. “Gangguan kecemasan dialami sekitar 3,6% anak usia 10–14 tahun dan 4,6% usia 15–19 tahun. Depresi memiliki gejala seperti kehilangan minat, gangguan tidur, dan penurunan konsentrasi, oleh karenanya diperlukan kemampuan untuk meregulasi emosi remaja,” jelas Miranti. Lebih lanjut ia menyebut ada beberapa teknik sederhana yang dapat membantu, seperti grounding, breathing techniques, dan mindfulness, serta menegaskan bahwa resiliensi merupakan kemampuan yang dapat dilatih.

Melalui penyelenggaraan Semol Seri 16, FKM UI menegaskan perannya dalam mengarusutamakan isu tumbuh kembang dan kesehatan mental remaja sebagai fondasi penting pembangunan kesehatan masyarakat. Dengan mengangkat perspektif ilmiah, praktik klinis, serta mandat global terkait pemenuhan hak-hak remaja, seminar ini memperkuat pemahaman bahwa kesejahteraan fisik dan mental tidak dapat dipisahkan dalam proses tumbuh kembang generasi muda. Kegiatan ini menjadi momentum strategis bagi FKM UI untuk terus memimpin upaya edukasi, riset, dan advokasi yang memastikan remaja Indonesia tumbuh kuat—baik secara fisik maupun psikologis—sehingga mampu menghadapi tantangan era modern secara berdaya dan berkelanjutan. (EAR)