Depok, 6 Desember 2025 — Dalam upaya memperkuat ketahanan kesehatan regional dan mendorong diplomasi kesehatan lintas negara, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) kembali menunjukkan perannya dalam mendorong pembangunan kesehatan melalui penyelenggaraan International Seminar Series ke-7 bertajuk “Next-Gen Health: Tech, Safety, Mental Health & Community for a Resilient Future”. Seminar berlangsung pada Sabtu, 6 Desember 2025 ini disiarkan secara daring melalui kanal resmi FKM UI, dan menjadi wadah penting bagi pertukaran gagasan mengenai masa depan kesehatan masyarakat berbasis teknologi dan penguatan komunitas.
Seminar internasional ini mendapat perhatian luas karena menghadirkan dua tokoh sentral dalam kebijakan kesehatan kawasan, yaitu Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, SpPD-KEMD, Ph.D., dan Wakil Menteri Kesehatan Timor Leste, Dr. Flávio Brandão M. de Araújo. Kehadiran kedua Wamenkes tersebut menandai langkah maju dalam diplomasi kesehatan Indonesia–Timor Leste, terutama dalam memperkuat sistem kesehatan perbatasan yang selama ini menjadi wilayah strategis pengendalian penyakit menular dan peningkatan layanan promotif–preventif bagi populasi yang rentan, seperti masyarakat di Nusa Tenggara Timur dan Oecusse.
Dalam sambutan pembukanya, Dekan FKM UI, Prof. dr. Mondastri Korib Sudaryo, M.S., D.Sc., menegaskan bahwa seminar ini merupakan momentum bagi Indonesia untuk memimpin dialog kesehatan regional. Ia menyebut bahwa konsep Next-Generation Health menggabungkan pendekatan teknologi, keselamatan kerja, kesehatan jiwa, dan kekuatan komunitas sebagai fondasi masa depan kesehatan masyarakat.
Dalam paparannya, Wamenkes RI, Prof. Dante Saksono Harbuwono menegaskan bahwa kesehatan mental kini menjadi isu prioritas nasional seiring meningkatnya beban gangguan jiwa di Indonesia. Ia menyebut bahwa berdasarkan Global Burden of Disease 2023, gangguan mental telah menjadi penyebab kedua Years Lived with Disability (YLD). “Kesehatan mental tidak bisa lagi dipandang sebagai isu pelengkap—ini adalah fondasi kesehatan masyarakat kita,” ujarnya. Prof. Dante menekankan bahwa kompleksitas permasalahan tersebut membutuhkan pendekatan baru melalui Transformasi Sistem Kesehatan Indonesia yang meliputi reformasi layanan primer, SDM, pembiayaan, serta teknologi kesehatan dan bioteknologi.
Ia menjelaskan bahwa integrasi layanan kesehatan mental dalam layanan primer merupakan langkah strategis, diperkuat melalui program promotif seperti Positive Parenting dan Psychological First Aid (P3LP) untuk seluruh rentang usia. Upaya deteksi dini diperluas melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau 25 juta penduduk menggunakan instrumen skrining seperti PHQ-4 dan EPDS. Prof. Dante juga menyoroti penguatan peran Puskesmas Mampu Jiwa, yang kini telah mencapai 47,46% dari total fasilitas. “Kita ingin memastikan bahwa layanan kesehatan mental ada sedekat mungkin dengan masyarakat,” tegasnya, sembari menekankan dukungan kader dan Posyandu sebagai garda terdepan komunitas.
Dalam menghadapi situasi krisis, Kementerian Kesehatan memperluas akses layanan psikologis melalui hotline nasional healing119.id, yang menghubungkan masyarakat dengan psikolog klinis bersertifikat. Prof. Dante menutup pemaparannya dengan ajakan khusus kepada dunia akademik. “Kami membutuhkan dukungan perguruan tinggi—termasuk FKM UI—untuk memperkuat riset, meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan jiwa, dan memimpin kolaborasi yang mampu membawa Indonesia menuju layanan kesehatan mental yang lebih modern dan inklusif,” tuturnya.
Dalam presentasinya, Wakil Menteri Kesehatan Timor Leste, Dr. Flavio Brandáo M. de Araújo, PGDA, Mmed., memaparkan tantangan kesehatan nasional yang masih didominasi beban ganda penyakit menular dan tidak menular, serta tingginya kebutuhan layanan kesehatan mental pasca-konflik. Ia menekankan bahwa sistem kesehatan Timor Leste masih menghadapi keterbatasan tenaga profesional, infrastruktur, dan akses layanan terutama di wilayah pedesaan.
Dr. Flávio menyoroti peran krusial organisasi masyarakat seperti PRADET dan Saúde na Família (SnF) yang selama dua dekade terakhir menjadi tulang punggung dukungan psikososial bagi masyarakat rentan. Melalui mekanisme case management, kunjungan lapangan, serta layanan rujukan dua arah dengan fasilitas kesehatan, kedua organisasi ini membantu menjembatani kesenjangan layanan kesehatan jiwa dan memperkuat kapasitas komunitas sebagai mitra aktif pemerintah.
Ia juga menegaskan pentingnya inovasi digital bagi percepatan transformasi kesehatan, termasuk telemedicine, tele-mental health, dan sistem informasi kesehatan terpadu. Namun, Dr. Flávio mengingatkan bahwa transformasi digital harus disesuaikan dengan konteks lokal—mengatasi keterbatasan akses internet, literasi digital, dan fragmentasi aplikasi—agar teknologi benar-benar meningkatkan kualitas layanan dan memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat.
Sejumlah pakar internasional turut hadir memberikan perspektif multidisiplin terkait masa depan kesehatan masyarakat. Di antaranya, Prof. Sang Daniel Choi dari George Masson University, Virginia, membahas interaksi manusia dan teknologi dalam lingkungan kerja modern serta dampaknya terhadap keselamatan dan kesejahteraan pekerja. Dr. Hazil Zakaria dari Malaysia mengangkat pemanfaatan AI dalam penguatan layanan kesehatan mental. Sementara itu, Dr. dr. Agus Azhari Nur dari Global Diabetes Compact memaparkan model AI terbaru untuk skrining risiko Diabetes Melitus Tipe 2 yang berpotensi mengubah pendekatan pencegahan PTM di tingkat populasi. Narasumber lain, seperti Dr. Mellisa Rahmandani dari RSUI dan Dr. Avelino Guterres Correia dari Universidade da Paz, turut memperkaya diskusi melalui pandangan mengenai manajemen kelelahan tenaga kesehatan dan strategi transformasi kesehatan masyarakat di Timor Leste.
Melalui rangkaian paparan dan dialog kebijakan, seminar ini menegaskan bahwa kecerdasan buatan bukan hanya alat bantu, melainkan komponen integral dalam transformasi kesehatan di masa depan. Kesehatan mental semakin dipahami sebagai aspek penting yang setara dengan kesehatan fisik, sementara keselamatan kerja tenaga kesehatan menjadi pijakan fundamental bagi mutu pelayanan. Lebih jauh, seminar ini menempatkan komunitas lokal sebagai aktor utama dalam membangun ketahanan kesehatan jangka panjang.
Melalui penyelenggaraan International Seminar Series ke-7 ini, FKM UI kembali membuktikan peran sentralnya dalam menghubungkan dunia akademik, peneliti global, dan pembuat kebijakan. Melalui diplomasi kesehatan yang melibatkan teknologi AI, penguatan sumber daya manusia, dan pemberdayaan komunitas, FKM UI memperkuat posisinya sebagai institusi rujukan yang mendorong solusi inovatif bagi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia dan Kawasan Asia Tenggara. (wrk)

