Depok, 4 Februari 2026 – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring kerja sama akademik. Kali ini, FKM UI menerima kunjungan benchmarking dari delegasi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Siliwangi, Tasikmalaya. Kunjungan ini membahas tentang pendalaman pengembangan kurikulum, strategi akreditasi, serta penguatan kemitraan pembelajaran berbasis komunitas dan institusi bagi mahasiswa Program Studi Kesehatan Lingkungan yang akan digagas oleh FIK Universitas Siliwangi.
Pertemuan berlangsung di Ruang Guru Besar Gedung G FKM UI dengan dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Besral, S.K.M., M.Sc.; Manajer Akademik, Kemahasiswaan, Alumni, dan Internasionalisasi FKM UI, Dr. Laila Fitria, S.K.M., M.K.M.; Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan, Dr. Zakianis, S.K.M., M.K.M.; serta jajaran pimpinan dan dosen Departemen Kesehatan Lingkungan FKM UI. Dari pihak Universitas Siliwangi hadir pimpinan Fakultas Ilmu Kesehatan, tim pengembangan Program Studi Kesehatan Lingkungan, serta perwakilan dosen dan staf akademik yang terlibat dalam perencanaan kurikulum dan kerja sama pembelajaran.
Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Besral, S.K.M., M.Sc., menekankan pentingnya kolaborasi antarperguruan tinggi dalam menjawab tantangan kesehatan lingkungan yang semakin kompleks. “Kurikulum tidak boleh disusun di ruang hampa. Ia harus berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat, industri, dan kebijakan,” ujar Prof. Besral dalam sambutannya.
Pertemuan ini berfokus pada pemaparan desain kurikulum S1 Kesehatan Lingkungan FKM UI, mencakup struktur kurikulum, capaian pembelajaran lulusan (CPL), strategi pembelajaran, serta integrasi teori dan praktik belajar lapangan. Departemen Kesehatan Lingkungan menjelaskan bahwa kurikulum disusun berbasis benchmarking internasional, masukan stakeholder, serta hasil evaluasi berkelanjutan. Kurikulum juga dirancang agar selaras dengan standar akreditasi terbaru yang lebih menekankan pada evaluasi diri berbasis bukti (Self-Evaluation Report/SER). Pembelajaran tidak hanya berbasis kelas, tetapi juga diperkuat melalui Praktik Belajar Lapangan (PBL) yang terdiri atas dua skema, yaitu berbasis komunitas dan berbasis institusi, serta kemitraan dengan berbagai sektor, termasuk industri, pemerintah daerah, dan lembaga profesional.
Pada sesi diskusi, tim FIK Unsil aktif menyampaikan pertanyaan dan tantangan yang mereka hadapi dalam pengembangan kurikulum. Perwakilan Unsil menjelaskan bahwa saat ini mereka tengah merancang penyempurnaan kurikulum Program Studi Kesehatan Lingkungan dan membutuhkan rujukan praktik baik, terutama terkait integrasi CPL, strategi pembelajaran, serta keterkaitan dengan kebutuhan pasar kerja. Mereka juga menyoroti tantangan dalam menjalin kemitraan dengan mitra lapangan dan menyeimbangkan minat mahasiswa antara sektor industri dan pemerintahan.
Menanggapi hal tersebut, ketua Departemen Kesehatan Lingkungan, Dr. Zakianis, S.K.M., M.K.M., memaparkan strategi penguatan kemitraan dengan alumni sebagai jembatan kerja sama dengan institusi mitra. Menurutnya, keterlibatan alumni terbukti efektif dalam membuka akses lokasi praktik dan meningkatkan kualitas pengalaman belajar mahasiswa. “Kami sengaja melibatkan alumni sebagai penghubung, karena mereka memahami kebutuhan lapangan sekaligus membawa nama baik kampus,” ujar Dr. Zakianis.
Dalam sesi akreditasi, FKM UI berbagi pengalaman terkait penyusunan dokumen kurikulum dan SER dengan menekankan bahwa bukti pendukung (bukti kinerja) menjadi kunci keberhasilan akreditasi. Selain itu, keterbatasan sarana dan prasarana dapat diatasi melalui skema kerja sama dengan laboratorium eksternal atau institusi mitra. Pihak Universitas Siliwangi menyambut baik diskusi ini dan menilai bahwa kunjungan tersebut memberikan gambaran konkret tentang penyusunan kurikulum berbasis kebutuhan dunia kerja. Mereka juga mendapatkan insight mengenai pengelolaan rasio dosen-mahasiswa, strategi kemitraan, serta mekanisme evaluasi berkelanjutan.
Kunjungan ditutup dengan kesepakatan untuk melanjutkan komunikasi dan membuka peluang kolaborasi lebih lanjut, termasuk pertukaran praktik baik, riset bersama, serta penguatan kerja sama akademik di bidang kesehatan lingkungan. (EAR)

