SEMOL FKM UI Seri 1 Kupas Tuntas Isu Etika dalam Penelitian Komunikasi Kesehatan

Depok, 26 April 2026 – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) kembali menyelenggarakan Seminar Online (SEMOL) Seri 1 bertajuk “Ethical Considerations in Health Communication Research: A Practical Workshop”. Kegiatan ini digelar oleh Departemen Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP) FKM UI bersama KPK Sehat dan Himpunan Mahasiswa Pascasarjana (HMP) FKM UI pada Jumat, 24 April 2026 melalui Zoom Workplace, serta diikuti oleh 87 peserta dari berbagai latar belakang akademik dan profesional.

Seminar dibuka secara resmi oleh Dr. Laila Fitria, S.K.M., M.K.M., Manajer Akademik, Kemahasiswaan, Internasionalisasi, dan Alumni FKM UI. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa komunikasi kesehatan berperan strategis dalam memastikan pesan kesehatan dapat dipahami dan diimplementasikan oleh masyarakat yang beragam, sehingga penelitian di bidang ini menjadi sangat penting. Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa workshop ini merupakan wadah untuk mendalami aspek praktis dalam penelitian komunikasi kesehatan. “Workshop ini menjadi wadah yang sangat relevan untuk mendalami berbagai pertimbangan praktis dalam penelitian komunikasi kesehatan, mulai dari pemahaman audiens, pendekatan budaya, etika penelitian, hingga pemanfaatan teknologi dan media digital,” ujar Dr. Laila.

Seminar dipandu oleh Muhammad Najmi Faza selaku moderator dan menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Dr. Renata Schiavo, Editor-in-Chief Journal of Communication in Healthcare, serta Dien Anshari, S.Sos., M.Si., Ph.D., Ketua Departemen PKIP FKM UI.

Dr. Renata Schiavo memaparkan perspektif global terkait etika dan integritas penelitian, khususnya dalam publikasi ilmiah. Ia menegaskan bahwa etika penelitian merupakan fondasi utama dalam proses penelaahan sejawat (peer review) dan dinilai oleh editor, tim editorial, serta para penelaah.

Ia juga mengingatkan bahwa penelitian kesehatan memiliki dampak besar terhadap kehidupan manusia. “Ketika penelitian berfokus pada kesehatan, hasil yang tepat dapat menyelamatkan nyawa atau meningkatkan kualitas hidup. Namun, jika tidak tepat, dapat menyebabkan kematian, meningkatkan penyakit, atau memperparah ketimpangan,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa permasalahan paling umum dalam publikasi ilmiah adalah penelitian yang tidak melalui peninjauan komite etik.

Sementara itu, Dien Anshari, S.Sos., M.Si., Ph.D., memaparkan tantangan etika penelitian komunikasi kesehatan dalam konteks Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya. “Etika dalam penelitian promosi kesehatan di Indonesia harus peka terhadap agama, struktur keluarga, norma gender, adat istiadat setempat, serta hierarki birokrasi dan sosial,” ujarnya. Ia juga menyoroti permasalahan umum dalam praktik penelitian, yaitu etika yang sering kali tidak dimasukkan ke dalam metode penelitian dan hanya dianggap sebagai persyaratan administratif.

Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang menyoroti praktik etika penelitian yang sering kali menyebabkan artikel ilmiah ditolak, serta etika penelitian pada masyarakat adat. Menanggapi pertanyaan Yulita, salah seorang peserta seminar, terkait hal tersebut, Dr. Renata menjelaskan bahwa masalah paling umum adalah penelitian yang tidak melalui peninjauan komite etik, atau bahkan ketika ada peneliti yang merasa hal tersebut tidak diperlukan. Ia juga menambahkan bahwa isu etika dalam penelitian media sosial semakin menjadi perhatian dalam publikasi ilmiah.

Pertanyaan lain disampaikan oleh Dr. Tiara Amelia, S.K.M., M.Sc., terkait penelitian pada masyarakat adat yang memiliki keterbatasan bahasa dan pemahaman terhadap konsep penelitian. Menanggapi hal tersebut, narasumber menekankan pentingnya menjaga prinsip etika dan keterlibatan komunitas. “Masyarakat harus tetap mengetahui bahwa mereka sedang diobservasi untuk tujuan penelitian dan Anda akan melaporkan hasilnya, sehingga persetujuan tindakan tetap harus ada,” ujar Dr. Renata. Narasumber lainnya juga menambahkan pentingnya pendekatan partisipatif dalam penelitian. “Jika penelitian dilakukan melalui desain bersama, implementasi bersama, dan evaluasi bersama dengan komunitas, maka praktik penelitian akan semakin mendekati prinsip etika yang baik,” ujar Dien Anshari, Ph.D.

Diskusi ini menunjukkan bahwa penerapan etika penelitian tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga harus disesuaikan dengan konteks sosial, budaya, dan geografis. Melalui kegiatan ini, FKM UI diharapkan dapat terus mendorong penguatan kapasitas akademik dan praktik penelitian yang berintegritas, khususnya dalam bidang komunikasi kesehatan. (EAR)