Depok, 6 Juni 2026 — Dunia kesehatan masyarakat terus bergerak mengikuti tantangan zaman. Mulai dari kebutuhan tenaga kesehatan yang belum merata, perkembangan teknologi, perubahan pola penyakit, hingga tuntutan kompetensi di dunia kerja, seluruhnya menegaskan bahwa mahasiswa kesehatan masyarakat perlu memahami arah kariernya sejak dini. Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam Public Health Career Summit (PHCS) 2026 yang berkolaborasi dengan 3rd Indonesian Public Health Summit (IPHS) yang diselenggarkan oleh MUNAS ISMKMI XXIII di Auditorium Rumpun Ilmu Kesehatan, Universitas Indonesia.
Mengangkat tema “Exploring Public Health Career Pathways to Strengthen Indonesian’s Health Resilience,” kegiatan ini menjadi ruang eksplorasi bagi mahasiswa kesehatan masyarakat untuk mengenal berbagai peluang karier, sekaligus memahami bagaimana lulusan kesmas dapat berperan dalam memperkuat ketahanan kesehatan Indonesia. Salah satu sesi pembuka menghadirkan paparan dari Kementerian Kesehatan RI yang disampaikan oleh Dr. Zubaidah Elvia, M.P.H., selaku Sekretaris Konsil Kesehatan Indonesia, Kolegium Kesehatan Indonesia, dan Majelis Disiplin Profesi Kementerian Kesehatan RI. Dalam paparannya, Dr. Zubaidah menyoroti pentingnya pemenuhan dan pemerataan tenaga kesehatan, sekaligus penguatan kompetensi lulusan kesehatan masyarakat agar mampu menjawab kebutuhan sistem kesehatan di berbagai daerah.
“Peran tenaga kesehatan masyarakat masih sangat penting dalam pembangunan kesehatan, sehingga pengembangan karier yang jelas menjadi hal yang perlu terus diperkuat,” ujar Dr. Zubaidah.
Ia juga menyampaikan bahwa Kementerian Kesehatan terus membuka ruang peningkatan kompetensi melalui berbagai kegiatan, seperti seminar, workshop, dan beasiswa. Kegiatan kemudian berlanjut pada sesi talkshow yang menghadirkan narasumber dari berbagai bidang kesehatan masyarakat, yaitu MN Fitra, S.K.M., M.K.K.K., M.M. dari bidang kesehatan lingkungan; Ashari Sapta Adhi, S.K.K.K. dari bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3); Nida Adzilah Auliani, S.Gz., M.Sc. dari bidang gizi; serta Dr. Lies Dwi Oktavia, TLH., M.Epid., dari bidang kesehatan masyarakat. Kehadiran para narasumber dengan latar belakang berbeda memperlihatkan bahwa karier kesmas tidak berjalan dalam satu jalur tunggal, melainkan terbuka luas sesuai minat, kompetensi, dan keberanian untuk mengambil peluang.
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik, Penelitian, dan Kemahasiswaan FKM UI, Prof. Dr. Besral, S.K.M., M.Sc., dalam keynote speechnya yang disampaikan secara virtual, menegaskan bahwa kesehatan masyarakat merupakan profesi yang berperan sebagai penjaga kehidupan masyarakat Indonesia. Berbeda dengan layanan kesehatan yang berfokus pada individu, kesehatan masyarakat bekerja pada tingkat populasi dengan tujuan mencegah penyakit, meningkatkan kualitas hidup, dan memastikan masyarakat tetap sehat, produktif, serta bermartabat. Meski kerap bekerja di balik layar, kontribusi para tenaga kesehatan masyarakat berdampak besar terhadap keberhasilan berbagai program kesehatan, mulai dari pencegahan stunting, pengendalian penyakit, hingga peningkatan kesehatan ibu dan anak.
Prof. Besral juga menekankan pentingnya data sebagai fondasi pengambilan keputusan dalam kesehatan masyarakat. Dengan mencontohkan keberhasilan John Snow dalam mengendalikan wabah kolera melalui analisis data sederhana, ia mengingatkan bahwa kemampuan mengolah data dan memanfaatkannya menjadi kebijakan merupakan kompetensi yang semakin penting di era transformasi digital. Selain itu, mahasiswa didorong untuk melihat puskesmas dan layanan kesehatan primer sebagai ruang kepemimpinan yang mampu menghadirkan perubahan nyata melalui kolaborasi lintas profesi dan sektor.
Menatap Indonesia Emas 2045, Prof. Besral juga menyampaikan bahwa bangsa ini membutuhkan lebih banyak tenaga kesehatan masyarakat yang unggul untuk menghadapi tantangan seperti penyakit tidak menular, ancaman pandemi, perubahan iklim, hingga perkembangan teknologi kesehatan. Ia mengajak mahasiswa untuk bangga menjadi lulusan kesehatan masyarakat, menguasai data dan teknologi, serta memiliki visi menjadi penggerak perubahan yang mampu mengubah data menjadi kebijakan, kebijakan menjadi program, dan program menjadi dampak nyata bagi masyarakat.
Dalam sesi diskusi, para narasumber menekankan bahwa masa kuliah tidak selalu harus diawali dengan perencanaan karier yang sempurna. Justru, masa tersebut dapat menjadi ruang untuk mengeksplorasi diri melalui organisasi, lomba, proyek, kegiatan akademik, maupun pengalaman kolaboratif lainnya.
Bidang kesehatan lingkungan menyoroti pentingnya pengalaman dan relasi dalam membentuk sudut pandang mahasiswa. Sementara itu, dari bidang K3, peserta diajak memahami bahwa lulusan kesmas memiliki nilai lebih dalam berpikir sistematis, terutama dalam membangun sistem keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan. Meski bersinggungan dengan bidang teknik, lulusan K3 dari kesehatan masyarakat dinilai memiliki keunggulan dalam memahami sistem, strategi, dan pendekatan berbasis pencegahan.
Dari bidang gizi, diskusi menyoroti tantangan meningkatnya konsumsi ultra-processed food dan kaitannya dengan obesitas. Isu gizi tidak hanya dilihat dari aspek makanan, tetapi juga dari sudut pandang sosial, perilaku, dan akses masyarakat terhadap pilihan yang sehat. Sementara itu, dari bidang advokasi kesehatan masyarakat, para peserta diajak melihat pentingnya kemampuan membaca data, memahami akar masalah, serta membangun solusi promotif dan preventif yang berdampak.
Di akhir kegiatan, peserta juga berkesempatan mengunjungi booth edukasi dan pengembangan karier yang menghadirkan informasi seputar peminatan, peluang karier, serta ruang eksplorasi kompetensi di bidang kesehatan masyarakat. Kehadiran booth ini melengkapi sesi diskusi dengan pengalaman yang lebih interaktif, sehingga peserta dapat memperoleh gambaran yang lebih konkret mengenai arah pengembangan diri dan pilihan karier ke depan.
Melalui PHCS x IPHS 2026, mahasiswa diajak menyadari bahwa kekuatan lulusan kesehatan masyarakat tidak hanya terletak pada pengetahuan akademik, tetapi juga pada kemampuan berpikir sistematis, bekerja berdasarkan data, berkolaborasi, berempati, dan terus belajar. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perjalanan karier tidak harus selalu linear, tetapi perlu dijalani dengan keberanian untuk mencoba, kesadaran untuk berkembang, dan komitmen untuk memberi kontribusi nyata bagi masyarakat. (SHF)

