Teliti Dampak Polusi Udara Dalam Ruangan terhadap Berat Bayi Lahir Rendah, Dwi Septiawati Raih Gelar Doktor FKM UI

Depok, 7 Juli 2026 – Polusi udara dalam ruangan (Household Air Pollution/HAP) menjadi salah satu faktor lingkungan yang masih luput dari perhatian, padahal berpotensi meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Menjawab tantangan tersebut, Dwi Septiawati berhasil mempertahankan disertasinya pada Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Studi Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) yang diselenggarakan pada 7 Juli 2026 di Ruang Promosi Doktor FKM UI.

Melalui disertasi berjudul “Analisis Pajanan Household Air Pollution (HAP) dan Morfometri Plasenta pada Ibu Hamil terhadap Kejadian BBLR di Kota Palembang”, Dwi mengungkap bahwa pajanan polusi udara dalam rumah selama trimester ketiga kehamilan secara signifikan meningkatkan risiko terjadinya BBLR. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa perubahan morfometri plasenta menjadi mekanisme biologis yang menjelaskan bagaimana polusi udara memengaruhi pertumbuhan janin.

BBLR masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia karena berkontribusi terhadap tingginya angka kematian neonatal serta meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan, perkembangan kognitif, hingga penyakit tidak menular pada masa dewasa. Meskipun banyak penelitian menyoroti dampak polusi udara luar ruangan, bukti ilmiah mengenai pengaruh kualitas udara di dalam rumah terhadap hasil kehamilan masih relatif terbatas. Penelitian ini mengisi kesenjangan tersebut dengan mengintegrasikan pengukuran polusi udara dalam rumah dan biomarker plasenta sebagai indikator gangguan pertumbuhan janin.

Menggunakan desain kohort prospektif terhadap 160 ibu hamil trimester ketiga di Kota Palembang, penelitian mengukur konsentrasi sulfur dioksida (SO₂), nitrogen dioksida (NO₂), karbon monoksida (CO), dan partikulat halus PM₂.₅ di dalam rumah responden. Selain itu, dilakukan pengamatan morfometri plasenta melalui pengukuran berat, diameter, ketebalan, dan luas permukaan plasenta setelah persalinan sebagai biomarker yang menggambarkan fungsi pertukaran oksigen dan nutrisi antara ibu dan janin.

Hasil penelitian menunjukkan proporsi BBLR mencapai 16,9% atau sekitar satu dari enam bayi yang lahir dari responden penelitian. Analisis lebih lanjut membuktikan bahwa ibu hamil dengan pajanan HAP tinggi memiliki risiko 3,25 kali lebih besar melahirkan bayi BBLR dibandingkan kelompok dengan pajanan rendah, bahkan setelah dikontrol oleh berbagai faktor lain seperti paparan asap rokok, status anemia, kualitas antenatal care (ANC), serta kondisi morfometri plasenta. Penelitian ini juga menemukan bahwa status anemia memperkuat dampak buruk polusi udara dalam rumah terhadap pertumbuhan janin sehingga menjadi faktor yang perlu mendapatkan perhatian dalam upaya pencegahan BBLR.


Salah satu kebaruan penelitian ini adalah keberhasilan mengembangkan Indeks Household Air Pollution (HAP Index) sebagai indikator komposit yang mengintegrasikan empat parameter polutan utama di dalam rumah, yaitu SO₂, NO₂, CO, dan PM₂.₅. Pendekatan kuantitatif tersebut memungkinkan penilaian tingkat pajanan secara lebih komprehensif dibandingkan hanya menggunakan satu jenis polutan, sehingga berpotensi menjadi instrumen skrining risiko kesehatan lingkungan bagi ibu hamil serta mendukung penguatan sistem surveilans kesehatan ibu dan anak.

“Selama ini perhatian terhadap kesehatan ibu hamil lebih banyak diarahkan pada aspek gizi dan pelayanan antenatal. Padahal, kualitas udara di dalam rumah merupakan faktor lingkungan yang juga berperan penting terhadap pertumbuhan janin. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengendalian polusi udara dalam rumah perlu menjadi bagian dari strategi pencegahan BBLR,” ujar Dwi.

Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan pencegahan BBLR berbasis lingkungan, termasuk pengembangan Program Rumah Ramah Ibu Hamil Bebas Asap Rokok, audit kualitas udara rumah tangga bagi ibu hamil berisiko tinggi, serta integrasi faktor risiko lingkungan dalam pelayanan antenatal care. Dengan demikian, upaya penurunan BBLR tidak hanya berfokus pada aspek gizi dan pelayanan kesehatan, tetapi juga memperhatikan kualitas lingkungan tempat tinggal ibu selama masa kehamilan.

Sidang promosi doktor dipimpin oleh Prof. Dr. drg. Ririn Arminsih Wulandari, M.Kes. bersama tim penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Besral, S.K.M., M.Sc., Prof. Dr. Yuanita Windusari, S.Si., M.Si.; Dr. Nurjazuli, S.K.M., M.Kes., dan Dr. Lusyta Puri Ardhiyanti, Amd.Keb., S.S.T., M.Kes. Bertindak sebagai Promotor adalah Prof. Drs. Bambang Wispriyono, Apt., Ph.D., dengan Dr. Laila Fitria, S.K.M., M.K.M. dan dr. Fathimah Sulistyowati Sigit, M.Res., Ph.D. sebagai Ko-promotor.

Melalui penelitian ini, Dwi Septiawati diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kebijakan kesehatan lingkungan dan kesehatan ibu, khususnya melalui penguatan strategi pencegahan BBLR berbasis pengendalian kualitas udara dalam rumah sebagai bagian dari upaya meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak di Indonesia. (promovendus)