Depok, 27 Agustus 2026 – Penguatan kerja sama internasional menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan dan penelitian di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI). Hal ini menjadi salah satu fokus dalam pertemuan FKM UI bersama Kyushu University dalam rangkaian kegiatan Kyudai Now yang berlangsung di RIK UI Lantai 3, Rabu, 26 Agustus 2026. Pertemuan ini menjadi ruang untuk memperkenalkan perkembangan FKM UI sekaligus membahas peluang kolaborasi dalam pendidikan, penelitian, dan mobilitas mahasiswa maupun dosen.
Pertemuan tersebut dihadiri Dekan FKM UI Prof. Dr. Indri Hapsari Susilowati, S.K.M., M.K.K.K., Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan FKM UI Prof. Dr. Besral, S.K.M., M.Sc., Manajer Riset dan Pengabdian Masyarakat FKM UI Rizka Maulida, S.K.M., M.HSc., Ph.D., Vice President Emeritus Kyushu University Prof. Shuji Shimizu, serta sejumlah akademisi dan pengelola program dari kedua universitas. Pertemuan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian Kyudai Now, forum yang dirancang oleh Kyushu University untuk memperkenalkan berbagai aktivitas akademik serta memperluas hubungan dengan mitra internasional.
Prof. Indri menjelaskan bahwa FKM UI terus mengembangkan pendidikan kesehatan masyarakat pada jenjang sarjana, magister, dan doktoral sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta didukung oleh tujuh departemen, berbagai program pendidikan, kelompok riset, center of excellence, serta jurnal ilmiah yang mendukung pengembangan dan penyebarluasan pengetahuan kesehatan masyarakat. Melalui berbagai program internasional, termasuk Indonesian International Student Mobility Award (IISMA), UI Creates, dan Public Health Study Tour, FKM UI memberikan kesempatan kepada mahasiswa dan dosen untuk memperoleh pengalaman akademik di lingkungan internasional sekaligus membangun jejaring dengan institusi pendidikan di berbagai negara. Menurut Prof. Indri, internasionalisasi menjadi bagian penting dari arah pengembangan fakultas, terutama melalui pertukaran dan mobilitas mahasiswa serta dosen. “Visinya kami adalah menjadi pusat referensi untuk sains dan teknologi kesehatan masyarakat di level nasional dan internasional,” ujar Prof. Indri.
Prof. Indri juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan universitas global dalam menciptakan lingkungan akademik yang mendukung pertukaran pengetahuan dan pengembangan penelitian. Menurutnya, kerja sama internasional perlu diarahkan tidak hanya pada kegiatan mobilitas, tetapi juga pada pengembangan penelitian dan pemecahan persoalan kesehatan yang relevan bagi masyarakat.
Hal tersebut sejalan dengan pandangan Prof. Shuji Shimizu mengenai hubungan Kyushu University dan Universitas Indonesia. Ia menyampaikan bahwa kedua universitas telah memiliki berbagai bentuk kolaborasi, meskipun kerja sama tersebut tersebar di berbagai fakultas dan bidang keilmuan. “Kami memiliki banyak kolaborasi antara Kyushu University dan Universitas Indonesia, tetapi terkadang sulit bagi kami untuk mengetahui semua kolaborasi tersebut,” ujar Prof. Shimizu.
Menurut Prof. Shimizu, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan dikembangkannya Kyudai Now sebagai ruang untuk memperkenalkan berbagai aktivitas Kyushu University sekaligus memperluas jejaring kerja sama. Forum tersebut juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal program pendidikan dan peluang akademik yang tersedia di Kyushu University.
Pembahasan kemudian mengarah pada peluang penelitian di bidang kesehatan, termasuk isu tuberkulosis (TB) yang dapat menjadi pembelajaran dari pengalaman Jepang bagi Indonesia dalam mengembangkan kolaborasi riset. Popy Yuniar, S.K.M., M.M., Ph.D., Ketua Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM UI, yang turut terlibat dalam diskusi, menyoroti tuberkulosis (TB) sebagai salah satu persoalan kesehatan yang masih penting untuk diperhatikan di Indonesia. Dalam diskusi tersebut, ia menyampaikan bahwa pengalaman Jepang dalam pengendalian TB dapat menjadi pembelajaran bagi pengembangan upaya penanggulangan TB di Indonesia. “TB masih menjadi persoalan yang penting, terutama karena kasusnya di Indonesia masih tinggi. Jepang memiliki pengalaman dalam pengobatan, sistem, dan diagnosis yang baik, sehingga saya melihat ada peluang untuk belajar dari pengalaman tersebut,” ujar Dr. Poppy.
Diskusi juga menyoroti pendekatan One Health yang menghubungkan kesehatan manusia, lingkungan, dan berbagai bidang keilmuan dalam pengembangan riset lintas disiplin. Salah satunya disampaikan oleh Friedrich Baumgaertel, Assistant Professor pada Faculty of Law, Kyushu University, yang memperkenalkan bidang keahliannya dalam energy and environmental law. Ia juga menyampaikan rencana penelitian mengenai deep-sea mining, yaitu aktivitas pengambilan mineral dari laut dalam yang berkaitan dengan isu lingkungan dan aktivitas perusahaan di kawasan laut lepas.
Keberagaman bidang yang terlibat membuka peluang pengembangan kerja sama lintas disiplin antara FKM UI dan Kyushu University, baik dalam penelitian maupun mobilitas akademik. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas sejumlah research grant yang memungkinkan keterlibatan mitra dari luar negeri, termasuk staf dan mahasiswa internasional sesuai ketentuan masing-masing program. Peluang pendanaan ini dapat menjadi pintu masuk bagi akademisi FKM UI untuk mengembangkan penelitian bersama dengan peneliti Kyushu University, sekaligus memperluas kesempatan mahasiswa melalui program internasional, summer school, dan beasiswa bagi mahasiswa internasional. (EAR)

