Depok, 5 Januari 2026 – Program Studi S3 Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) melaksanakan sidang terbuka Promosi Doktor Epidemiologi dengan promovendus atas nama Widyorini Lestari Hardjolukito Hanafy pada Senin, 5 Januari 2025 di Ruang Promosi Doktor FKM UI. Sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. Indri Hapsari Susilowati, S.K.M., M.K.K.K., dengan Promotor Prof. dr. Asri C. Adisasmita, M.P.H., M.Phil., Ph.D., dan Ko-promotor Dr. dr. Bambang Dwipoyono, Sp.OG., M.S., M.A.R.S., serta Dr. Sukwan Handali, Ph.D. Prof. Dr. dr. Ratna Juwita, M.P.H., bertindak sebagai Ketua Penguji dengan tim penguji terdiri dari Prof. dr. Mondastri Korib Sudaryo, M.S., D.Sc.; Prof. Dr. dr. Syahrul Rauf, Sp.OG., Subsp. Onk.; Dr. dr. Primariadewi Rustamadji, M.M., Sp.PA(K); dan Dr. dr. M. Soemanadi, Sp.OG. Dalam sidang tersebut, Widyorini berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Genotipe DNA Human Papillomavirus (HPV) (Infeksi Tunggal/Ganda) dan Viral load HPV Sebagai Faktor Prognostik Angka Kekambuhan Kanker Serviks Stadium IA2 – IIA2 Berdasarkan FIGO 2009”.
Disertasi ini berangkat dari akar permasalahan kanker serviks yang masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama pada perempuan, baik secara global maupun di Indonesia. Pada stadium awal, yakni stadium IA2–IIA2 berdasarkan FIGO 2009, terapi utama berupa histerektomi radikal dengan atau tanpa terapi adjuvan telah menjadi standar. Namun demikian, angka kekambuhan kanker serviks pada stadium ini masih dilaporkan cukup tinggi, meskipun faktor prognostik seperti ukuran tumor, batas sayatan, keterlibatan kelenjar getah bening, kedalaman invasi stroma, telah dikendalikan. Kondisi tersebut menunjukkan kemungkinan adanya faktor prognostik lain yang berperan, khususnya faktor virologi berupa infeksi HPV. Widyorini menjelaskan bahwa infeksi HPV risiko tinggi merupakan penyebab utama kanker serviks, namun peranan genotipe DNA HPV, baik sebagai infeksi tunggal maupun infeksi ganda, serta viral load HPV sebagai faktor prognostik kekambuhan pada kanker serviks stadium IA2–IIA2 masih belum banyak diteliti, khususnya di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menilai peranan genotipe DNA HPV dan viral load HPV sebagai faktor prognostik angka kekambuhan kanker serviks stadium IA2–IIA2 berdasarkan FIGO 2009.
Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain kohort retrospektif. Data dikumpulkan secara retrospektif pada pasien kanker serviks stadium IA2–IIA2 yang menjalani histerektomi radikal di RS Kanker Dharmais, dan diikuti selama periode observasi hingga lima tahun. Kekambuhan kanker serviks dalam penelitian ini didefinisikan secara operasional sebagai kejadian kambuh lokal, lokoregional, atau metastasis jauh yang terjadi setelah terapi primer, yang dinilai berdasarkan data klinis dan rekam medis selama masa tindak lanjut. Outcome utama penelitian adalah Disease-Free Survival (DFS), yaitu waktu sejak terapi hingga terjadinya kekambuhan pertama atau akhir masa observasi. Pemeriksaan genotipe HPV dilakukan untuk mengidentifikasi jenis HPV risiko tinggi, baik sebagai infeksi tunggal maupun ganda. Viral load HPV diukur dan dikategorikan sebagai tinggi dan rendah.
Metode penelitian ini menonjolkan pemeriksaan genotipe DNA HPV dan viral load HPV menggunakan pendekatan molekuler dari sediaan jaringan tumor primer dan kelenjar getah bening. Pemeriksaan genotipe dilakukan untuk mengidentifikasi tipe HPV risiko tinggi serta membedakan infeksi tunggal dan infeksi ganda, sedangkan viral load HPV diukur untuk menilai jumlah DNA virus yang terdapat pada jaringan tumor. Pendekatan ini merupakan salah satu kajian awal di Indonesia yang mengintegrasikan analisis genotipe dan viral load HPV sebagai faktor prognostik kekambuhan kanker serviks stadium awal hingga lanjut awal, sehingga memberikan perspektif baru dalam penilaian risiko pascaterapi.
Hasil penelitian Widyorini menunjukkan bahwa genotipe DNA HPV dan viral load HPV berperan sebagai faktor prognostik terhadap kekambuhan kanker serviks stadium IA2–IIA2. Infeksi HPV ganda ditemukan sebagai faktor prognostik independen terkuat yang berhubungan dengan peningkatan risiko kekambuhan dibandingkan infeksi tunggal. Selain itu, viral load HPV yang lebih tinggi berasosiasi dengan risiko kekambuhan yang lebih besar. Temuan ini menegaskan bahwa faktor virologi memiliki peranan penting dalam menentukan perjalanan klinis kanker serviks, di luar faktor klinikopatologi pada umumnya.
Berdasarkan temuan tersebut, Widyorini menekankan bahwa penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang epidemiologi klinik, ginekologi onkologi, dan biologi molekuler. Penelitian ini memperkaya bukti ilmiah mengenai nilai prognostik genotipe dan viral load HPV pada kanker serviks stadium IA2–IIA2, yang selama ini lebih banyak diteliti pada stadium lanjut. Dari sisi manfaat bagi masyarakat dan pelayanan kesehatan, hasil penelitian ini berpotensi mendukung stratifikasi risiko kekambuhan, sehingga pasien dengan risiko tinggi dapat memperoleh pemantauan yang lebih ketat dan tindak lanjut yang lebih terarah. Hal ini diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas pelayanan dan luaran klinis pasien kanker serviks.
Sebagai saran, Widyorini merekomendasikan agar pemeriksaan genotipe DNA HPV dan viral load HPV mulai dipertimbangkan sebagai bagian dari penilaian prognostik pada kanker serviks stadium awal, terutama jika ditemukan infeksi ganda. Pemeriksaan imunohistokimia p16 dan T53 juga penting untuk meningkatkan validitas data molekuler dari HPV yang mungkin tidak dapat terdeteksi oleh alat. Selain itu, penelitian lanjutan multisenter pada rumah sakit Tipe B dan C dapat dipertimbangkan untuk memperoleh jumlah sampel yang lebih besar dalam menguatkan temuan ini agar diharapkan dapat menghasilkan data yang lebih akurat serta sebagai pedoman nasional untuk pengembangan dalam tatalaksana kanker serviks stadium awal.
Berdasarkan hasil disertasinya tersebut, Widyorini berhasil dinyatakan sebagai Doktor dalam Bidang Epidemilogi dengan yudisium sangat memuaskan. Widyorini adalah lulusan S3 Epidemiologi tahun 2026 yang ke-1, lulusan S3 Epidemiologi yang ke-126, dan lulusan S3 di FKM UI secara keseluruhan yang ke-489. (promovendus)

