Kembangkan Model Kebijakan Adaptif Imunisasi di Wilayah Perbatasan Berpulau, Chreisye Berhasil Raih Gelar Doktor di FKM UI

Depok, 9 Januari 2026 — Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menyelenggarakan Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Studi Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat pada Jumat (9/1). Pada sidang tersebut, Chreisye Kardinalia Fransisca Mandagi berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Pengembangan Kebijakan Adaptif Imunisasi Dasar Lengkap di Wilayah Perbatasan Berpulau: Studi Kasus Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud.”

Disertasi ini menyoroti masih rendahnya cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di wilayah perbatasan berpulau, yang tidak semata disebabkan oleh faktor individu atau perilaku masyarakat, melainkan dipengaruhi oleh tantangan struktural dan sistemik. Kondisi geografis kepulauan, ketergantungan pada transportasi laut, ketidakpastian logistik rantai dingin, serta keterbatasan ruang keputusan daerah menjadi faktor utama yang menghambat stabilitas layanan imunisasi.

Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-method sequential explanatory, yang memadukan survei kuantitatif terhadap ibu balita dengan studi kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen bersama pemangku kepentingan lintas sektor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor sosial budaya memiliki pengaruh signifikan terhadap status imunisasi, sementara berbagai variabel individu tidak sepenuhnya mampu menjelaskan rendahnya cakupan IDL. Temuan ini menegaskan bahwa persoalan imunisasi di wilayah kepulauan merupakan isu tata kelola dan keadilan layanan, bukan semata persoalan teknis kesehatan.

Sebagai kontribusi ilmiah utama, disertasi ini menghasilkan Model Kebijakan Adaptif KAIL–KAIT–POLA 2.0, sebuah kerangka kebijakan berbasis archipelagic governance. Model ini menekankan kebijakan yang kontekstual dan fleksibel (KAIL), penguatan komunikasi dan kolaborasi lintas aktor termasuk tokoh adat dan agama (KAIT), serta protokol logistik adaptif yang responsif terhadap kondisi geografis dan cuaca ekstrem (POLA 2.0). Model tersebut dirancang untuk menjembatani kebijakan nasional dengan realitas implementasi di wilayah perbatasan berpulau.

Promotor disertasi, Prof. Dr. Dra. Dumilah Ayuningtyas, M.A.R.S., menyampaikan bahwa model KAIL–KAIT–POLA 2.0 memberikan ruang adaptasi kebijakan bagi pemerintah daerah tanpa mengabaikan kerangka kebijakan nasional. “Model ini penting untuk memastikan kebijakan imunisasi dapat berjalan lebih efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan di wilayah dengan tantangan geografis tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, Chreisye Kardinalia Fransisca Mandagi menegaskan bahwa model kebijakan adaptif ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan kebijakan nasional. “Model ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam merancang serta mengimplementasikan layanan imunisasi yang lebih fleksibel, kolaboratif, dan sesuai dengan konteks wilayah perbatasan berpulau,” jelasnya.

Sidang promosi doktor ini dipimpin oleh Prof. Dr. drg. Wachyu Sulistiadi, M.A.R.S. selaku Ketua Sidang, dengan tim penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Dra. Dumilah Ayuningtyas, M.A.R.S. (Promotor), Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc., dan Dr. Puput Oktamianti, S.K.M., M.M. (Ko-Promotor), serta Dr. Dra. Rita Damayanti, MSPH.; Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM., M.A.R.S.; Dr. dr. Harimat Hendarwan, M.Kes., dan Fajar Ariyanti, S.K.M., M.Kes., Ph.D., sebagai penguji. Melalui sidang ini, FKM UI kembali menegaskan perannya dalam menghasilkan riset strategis yang berkontribusi pada penguatan sistem kesehatan nasional, khususnya bagi wilayah perbatasan dan kepulauan.

Berdasarkan hasil disertasinya tersebut, Chreisye berhasil meraih gelar Doktor dalam Bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat. Etik adalah lulusan S3 IKM tahun 2026 yang ke-3, lulusan S3 IKM yang ke 375 dan lulusan S3 di FKM UI secara keseluruhan yang ke-492. (wrk)