Jakarta Pusat, 28 Maret 2026 — Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI). Dua mahasiswa Program Studi S-1 Reguler Kesehatan Masyarakat angkatan 2023, Ayesha Daanii Nayyara dan Dhaifullah Abyan, bersama rekan dari Universitas Malaya, Afifah Zahwah Nuryana, berhasil meraih Juara 2 dalam ajang bergengsi ”Sustainable Livestock Transformation Research and Innovation Competition for Young Scientists” yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO).
Kompetisi bergengsi ini menjadi bagian integral dari rangkaian International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation: Collaborative Solution for Global Nutrition, Resilience and Economic Growth. Perhelatan internasional yang berlangsung pada 25–31 Maret 2026 tersebut dipusatkan di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta.
Ajang ini menarik antusiasme tinggi dari talenta muda dan akademisi lintas generasi, dengan rentang usia peserta antara 18 hingga 35 tahun. Kompetisi tersebut menjadi ruang kolaborasi bagi mahasiswa jenjang sarjana (S1) hingga doktoral (S3), serta para peneliti profesional, termasuk partisipasi aktif dari perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Proses seleksi berlangsung sangat ketat, dari total 130 makalah yang terdaftar pada tahap awal, hanya 10 karya terbaik yang berhasil lolos ke babak final. Para finalis kemudian mendapatkan kesempatan eksklusif untuk memaparkan inovasi mereka secara langsung di hadapan panel juri internasional dalam sesi presentasi yang digelar pada 28 Maret 2026 lalu.
Dalam kompetisi tersebut, tim FKM UI mengusung inovasi berjudul “Smart BSF-Nexus: AI-Driven Industrial Symbiosis Platform for Circular Feed Supply Chain and AMR Mitigation.” Inovasi ini berupa platform berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk mengatasi permasalahan rantai pasok pakan ternak sekaligus antimicrobial resistance (AMR). Tim mengangkat perspektif kesehatan masyarakat dengan menyoroti bahwa AMR tidak hanya berasal dari penggunaan obat, tetapi juga dari sektor pangan, peternakan, dan pertanian. Melalui pendekatan circular economy, sistem ini memanfaatkan teknologi Black Soldier Fly (BSF) untuk mengolah limbah kotoran hewan menjadi produk bernilai seperti pupuk dan pakan ternak, sekaligus membantu mendegradasi patogen berbahaya.
Berada di tengah kompetisi yang didominasi oleh pakar lintas disiplin menjadi tantangan tersendiri bagi tim FKM UI. Mengingat latar belakang pendidikan mereka yang bukan berasal dari disiplin ilmu peternakan, tim ini harus berupaya menemukan titik temu antara isu peternakan dengan kesehatan masyarakat.
Abyan mengakui adanya tekanan awal saat melihat peta persaingan yang begitu spesifik. “Awalnya kami merasa cukup gugup karena kompetisi ini sangat teknis dan berkaitan erat dengan industri peternakan, sementara fokus studi kami berbeda. Namun, kami mencoba melihat dari perspektif lain, mencari celah bagaimana isu tersebut dapat diintegrasikan secara komprehensif dengan kesehatan masyarakat,” jelasnya.
Meski demikian, pengalaman tersebut justru menjadi momen berharga. Tim juga mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan berbagai tokoh internasional yang hadir dalam forum tersebut. “Salah satu momen paling berkesan adalah bisa bertemu dengan pembicara internasional, seperti duta besar Indonesia dan para petinggi WHO,” tambahnya.
Tim berharap inovasi yang dikembangkan dapat terus disempurnakan serta membuka peluang kolaborasi lebih luas di tingkat global. Mereka juga menyampaikan pesan inspiratif bagi mahasiswa lainnya.
“Kami berharap ke depan akan semakin banyak kesempatan seperti ini dan bisa menjadi peluang untuk dapat berkembang lebih baik lagi. Untuk mahasiswa FKM, jangan pernah menutup kesempatan karena semua orang punya potensi untuk ikut kompetisi internasional,” tutup Ayesha.
Dekan FKM UI, Prof. Dr. Indri Hapsari Susilowati, S.K.M., M.K.K.K., menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. “Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa FKM UI mampu bersaing di tingkat internasional dengan membawa perspektif kesehatan masyarakat dalam menjawab isu global yang kompleks, seperti AMR dan keberlanjutan sistem pangan. Kami berharap capaian ini dapat menjadi inspirasi sekaligus mendorong lahirnya inovasi-inovasi kolaboratif lainnya yang berdampak luas bagi masyarakat,” ujarnya.
Inovasi yang lahir dari kolaborasi lintas disiplin ini merupakan cerminan dari standar keunggulan di FKM UI. Melalui penguatan jejaring kemitraan global, fakultas terus mendorong keterlibatan aktif mahasiswa dalam pengembangan solusi kesehatan masyarakat yang adaptif terhadap dinamika dunia.(SHF)

