Depok, 25 Mei 2026 — Dalam rangka menyambut Hari Lansia Nasional yang diperingati setiap 29 Mei, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) melalui siniar KESMAS INSIGHT menghadirkan diskusi reflektif mengenai isu penuaan penduduk dan kualitas hidup lansia di Indonesia. Episode bertajuk “Menua Bersama Bangsa: Beban atau Anugerah?” ini dipandu oleh dr. Lhuri D. Rahmartani, B.Med.Sc., M.Epid., DPhil, dosen Departemen Epidemiologi FKM UI sebagai host, bersama narasumber Prof. Dr. drg. Indang Trihandini, M.Kes., Guru Besar Departemen Biostatistik dan Kependudukan FKM UI yang banyak meneliti isu aging dan kesehatan lansia.
Melalui diskusi tersebut, FKM UI mengajak masyarakat melihat proses menua bukan sekadar persoalan usia, tetapi bagian dari perubahan besar yang sedang dihadapi bangsa. Saat ini, Indonesia telah memasuki era ageing population, yaitu meningkatnya proporsi penduduk lanjut usia secara signifikan. Prof. Indang menjelaskan bahwa saat ini lebih dari satu dari sepuluh penduduk Indonesia merupakan lansia, dan pada tahun 2045 diperkirakan jumlahnya dapat mencapai satu dari lima penduduk.
Menurutnya, kondisi tersebut sebenarnya merupakan indikator keberhasilan pembangunan karena harapan hidup masyarakat meningkat dan angka kelahiran menurun. Namun di sisi lain, perubahan struktur penduduk ini membawa konsekuensi besar bagi kesehatan masyarakat, ekonomi, hingga kehidupan sosial.
“Pertanyaannya bukan lagi bagaimana memperpanjang umur, tetapi bagaimana memastikan umur panjang tetap berkualitas,” ujar Prof. Indang dalam siniar tersebut.
Dalam perbincangan, dr. Lhuri menyoroti keresahan generasi muda yang sering kali tidak dipersiapkan secara formal untuk menghadapi proses menua, baik dari sisi kesehatan fisik, mental, maupun finansial. Menanggapi hal tersebut, Prof. Indang menjelaskan bahwa melemahnya kondisi tubuh pada lansia merupakan proses biologis alami akibat menurunnya kemampuan regenerasi sel, berkurangnya massa otot, melemahnya sistem imun, hingga perubahan fungsi otak dan hormon.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa menua tidak identik dengan sakit atau tidak berdaya. Kondisi tersebut dapat diperlambat melalui penerapan gaya hidup sehat atau lifestyle medicine. Beberapa langkah penting yang disampaikan meliputi menjaga aktivitas fisik, menerapkan pola makan sehat, tidur cukup, mengelola stres, menjaga hubungan sosial, serta menghindari rokok dan alkohol.
“Cara kita hidup hari ini menentukan bagaimana kita menua nanti. Menjadi tua itu pasti, tetapi menjadi lansia yang tetap sehat, aktif, dan bermakna adalah sesuatu yang bisa diupayakan sejak muda,” jelas Prof. Indang.
Diskusi juga mengangkat konsep active ageing, yaitu proses menua secara aktif, sehat, dan produktif. Lansia yang sehat dan mandiri dinilai tetap dapat berkontribusi bagi keluarga, masyarakat, bahkan pembangunan bangsa. Sebaliknya, jika lansia mengalami ketergantungan tinggi akibat penyakit kronis dan kurangnya dukungan sosial, maka beban sosial dan ekonomi dapat meningkat.
Selain isu kesehatan, siniar ini turut membahas perubahan pola hubungan dalam keluarga dan dunia kerja. Tradisi merawat orang tua oleh anak masih kuat di Indonesia, namun urbanisasi dan perubahan struktur keluarga diperkirakan akan mengubah pola tersebut di masa depan. Karena itu, diperlukan ekosistem yang lebih ramah lansia, mulai dari komunitas, lingkungan kota, hingga layanan kesehatan preventif yang berkelanjutan.
Di dunia kerja, fenomena penuaan penduduk juga membawa tantangan baru seperti usia pensiun, kesenjangan antargenerasi, hingga budaya senioritas yang dapat menghambat inovasi apabila tidak dikelola dengan baik. Namun di sisi lain, pengalaman dan kebijaksanaan generasi senior tetap menjadi aset penting yang dapat memperkuat institusi dan masyarakat.
Siniar ini juga menyoroti berkembangnya konsep Silver Economy, yaitu peluang ekonomi yang muncul dari meningkatnya populasi lansia. Sektor seperti layanan kesehatan, wisata ramah lansia, teknologi pendamping hidup, hingga pekerjaan fleksibel bagi usia lanjut dipandang memiliki potensi besar untuk berkembang di masa depan.
Melalui episode ini, FKM UI berharap momentum Hari Lansia Nasional 2026 dapat menjadi pengingat bahwa persiapan menghadapi masa tua tidak dimulai saat seseorang memasuki usia lanjut, melainkan sejak usia muda. Dengan membangun gaya hidup sehat, literasi kesehatan, kesiapan mental, dan perencanaan finansial sejak dini, masyarakat diharapkan mampu mewujudkan proses menua yang sehat, mandiri, dan bermartabat.
“Cara sebuah bangsa memperlakukan lansianya adalah cerminan bagaimana bangsa itu menghargai kehidupan,” tutup Prof. Indang. (wrk)

