Depok, 7 Juni 2026 – Isu kesehatan mental masih menjadi tantangan yang dihadapi berbagai kelompok masyarakat, termasuk mahasiswa dan alumni, di tengah beragam dinamika kehidupan yang dapat memengaruhi kesejahteraan jiwa. Merespons kondisi tersebut, Ikatan Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (ILUNI FKM UI) melalui Collaboration and Impact Center (CIC) meluncurkan program Makara Ungu Wellbeing Circle dalam kegiatan talkshow bertajuk “Membangun Resiliensi Kolektif melalui Konseling Kelompok” yang diselenggarakan secara daring pada Jumat, 5 Juni 2026 melalui Zoom Workplace. Acara ini diikuti oleh 48 peserta yang terdiri atas mahasiswa, alumni FKM UI, serta masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan mental.
Kegiatan yang terbuka untuk umum ini menghadirkan Psikolog Klinis Puskesmas Ciracas, Sulastry Pardede, M.Psi., Psikolog, sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Muhammad David Setiadi, Alumni FKM UI Angkatan 2021 sekaligus pengurus Collaboration & Impact Center (CIC) ILUNI FKM UI.
Dalam paparannya, Sulastry menyoroti besarnya beban masalah kesehatan mental di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa sekitar 19 juta penduduk mengalami gangguan mental emosional atau gejala depresi dan kecemasan. Selain itu, satu dari tiga anak Indonesia dilaporkan mengalami masalah kesehatan mental, sementara 2,4 juta remaja juga menghadapi kondisi serupa. “Masalah kesehatan jiwa ini menjadi masalah yang cukup besar. Di Indonesia terdapat 9,8 persen orang yang mengalami gangguan mental emosional atau gejala depresi dan cemas. Diperkirakan 19 juta jiwa, dan satu dari tiga anak Indonesia mengalami masalah kesehatan mental,” ujar Sulastry.
Menurutnya, stigma, rendahnya literasi kesehatan mental, serta keterbatasan akses layanan masih menjadi hambatan yang membuat banyak orang enggan mencari bantuan profesional. Selain itu, pendekatan berbasis komunitas dapat menciptakan ruang yang aman untuk berbagi pengalaman, membangun kepercayaan, dan memberikan dukungan bersama. Ia menekankan bahwa pemulihan dan pertumbuhan dapat terjadi melalui hubungan yang suportif daripada isolasi. “Kesehatan mental tumbuh dan berkembang dalam hubungan yang bermakna dengan orang lain. Pemulihan dan pertumbuhan terjadi di dalam relasi,” tambahnya.
Sejalan dengan pentingnya dukungan sosial dalam menjaga kesehatan mental, Tim CIC ILUNI FKM UI yang diwakili oleh Bunga Pelangi turut menjelaskan konsep dan tujuan dari Makara Ungu Wellbeing Circle. Menurutnya, program yang diinisiasi oleh CIC ILUNI FKM UI tersebut dirancang sebagai ruang dukungan psikososial berbasis kelompok yang diharapkan dapat memperkuat resiliensi kolektif di lingkungan alumni.
Ketua Tim CIC ILUNI FKM UI, Farand Agesti Ramadhan bersama timnya menjelaskan bahwa program ini berangkat dari tingginya kebutuhan dukungan kesehatan jiwa yang dapat diakses secara lebih dekat melalui komunitas. Isu kesehatan jiwa tidak hanya dialami oleh kelompok tertentu, tetapi dapat terjadi pada berbagai generasi dan tahapan kehidupan. “Isu kesehatan jiwa menjadi permasalahan di Indonesia dan dialami oleh lintas generasi serta siklus hidup. Tantangan dan dinamika pada fase kehidupan akan berimplikasi pada kesejahteraan jiwa dan memengaruhi kesehatan secara utuh,” ujar Farand.
Wellbeing Circle merupakan layanan konseling kelompok yang dirancang sebagai ruang aman bagi peserta untuk saling berbagi pengalaman, memperoleh dukungan, dan merefleksikan berbagai isu kesehatan jiwa. Pada tahap awal, program ini ditujukan bagi alumni FKM UI lintas angkatan, program studi, dan departemen, dengan peluang pengembangan kepada sivitas akademika, komunitas, maupun masyarakat yang lebih luas di masa mendatang. Selain itu, program ini akan diselenggarakan secara berkala setiap tiga bulan dengan tema yang disesuaikan berdasarkan kebutuhan komunitas. Seri perdana mengangkat tema Quarter-Life Crisis dalam Memulai Karier, yang dipilih berdasarkan tantangan transisi kehidupan yang banyak dialami lulusan baru saat memasuki dunia kerja.
Dalam sesi diskusi, peserta juga menyoroti pentingnya membangun lingkungan yang suportif untuk menjaga kesehatan mental. Menanggapi hal tersebut, Sulastry menekankan bahwa kesehatan mental bukan semata tanggung jawab individu, melainkan tanggung jawab bersama yang perlu didukung oleh keluarga, komunitas, dan lingkungan sosial. “Ketika kita memiliki komunitas yang sehat, kita akan memiliki individu-individu yang lebih sehat. Di dalamnya ada kepercayaan, kepedulian, solidaritas, dan dukungan sosial yang dapat membantu seseorang menghadapi berbagai tantangan kehidupan,” ujar Sulastry.
Melalui program ini, CIC ILUNI FKM UI berharap dapat meningkatkan help-seeking behavior, menghadirkan ruang saling bercerita dan belajar, serta memperkuat budaya Makara Ungu Saling Bantu sehingga terbangun resiliensi kolektif di lingkungan FKM UI, alumni FKM UI dan masyarakat yang lebih luas. (EAR)

