Depok, 11 Juni 2026 — Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) kembali menghadirkan ruang diskusi kritis mengenai isu kesehatan masyarakat melalui Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat bertajuk “Nikotin di Persimpangan: Antara Ilusi Fiskal Negara dan Penyelamatan Masa Depan Generasi Muda Indonesia”. Kegiatan yang diselenggarakan secara hybrid di Ruang G103 Gedung G FKM UI pada 11 Juni 2026 ini mengangkat persoalan konsumsi produk tembakau dan nikotin yang hingga kini masih menjadi tantangan besar di Indonesia.
Seminar ini menjadi ruang diskusi lintas perspektif untuk membahas isu pengendalian tembakau dan nikotin secara komprehensif. Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami bahwa permasalahan nikotin tidak dapat hanya dilihat dari aspek kesehatan, tetapi juga berkaitan erat dengan kebijakan fiskal, perlindungan anak dan remaja, advokasi kesehatan masyarakat, serta perkembangan komunikasi kesehatan di ruang digital. Diskusi dipandu oleh Dr. Wahyu Septiono, S.K.M., M.I.H., dosen FKM UI sekaligus Ketua Social Determinants of Health Universitas Indonesia bersama Dien Anshari, S.Sos., M.Si., Ph.D., Ketua Departemen Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku sekaligus Ketua Pusat Penelitian Kesehatan FKM UI.
Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber dari latar belakang yang berbeda. Suci Puspita Ratih, S.K.M., M.K.M., Ph.D., Student di Universiti Malaya sekaligus dosen Universitas Negeri Malang, hadir untuk memberikan perspektif akademik dan kesehatan masyarakat terkait dampak konsumsi tembakau dan nikotin. Dari sisi ekonomi dan kebijakan publik, hadir I Dewa Gede Karma Wisana, S.E., M.Sc., Ph.D., Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), yang membahas keterkaitan antara konsumsi produk tembakau, fiskal negara, dan beban sosial ekonomi yang ditimbulkan.
“Negara memungut triliunan untuk asap rokok, tetapi membayar dua kali lipat bahkan lebih untuk memadamkannya,” ujar I Dewa Gede Karma Wisana.
Kondisi ini semakin mengkhawatirkan ketika rokok tetap mudah dijangkau oleh kelompok ekonomi rentan dan berpotensi menggeser kebutuhan pokok rumah tangga. Perspektif advokasi turut disampaikan oleh Nina Samidi, Praktisi Advokasi dari Komnas Pengendalian Tembakau. Kehadirannya menyoroti pentingnya kebijakan pengendalian tembakau yang berpihak pada perlindungan masyarakat, terutama anak dan generasi muda. Sementara itu, dr. Samuel Josafat Olam, M.P.H., Praktisi Kesehatan sekaligus Digital Health Influencer, membahas isu nikotin dari sisi kesehatan dan komunikasi publik, termasuk bagaimana pesan kesehatan dapat menjangkau masyarakat luas di era digital. Dokter Samuel Josafat Olam menambahkan bahwa pesan edukasi tidak cukup hanya benar secara substansi, tetapi juga harus sesuai dengan karakteristik sasaran.
“Komunikasi harus disesuaikan dengan subjek sasaran,” jelas dr. Samuel. Hal ini menjadi penting terutama ketika rokok elektrik semakin banyak menyasar generasi muda, khususnya generasi Z dan milenial.
Melalui seminar ini, peserta diajak memahami bahwa pengendalian nikotin membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan lintas sektor. Persoalan rokok tidak hanya berkaitan dengan kesehatan individu, tetapi juga menyentuh aspek ekonomi rumah tangga, kebijakan fiskal, perlindungan anak, hingga strategi komunikasi publik. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, praktisi kesehatan, advokat, dan masyarakat untuk menciptakan kebijakan yang lebih berpihak pada kesehatan masyarakat.
Melalui penyelenggaraan Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat ini, FKM UI kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan ruang diskusi berbasis bukti ilmiah untuk menjawab berbagai tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Diharapkan, kegiatan ini dapat memperkuat kesadaran bersama bahwa penyelamatan masa depan generasi muda dari dampak nikotin merupakan investasi penting bagi kesehatan bangsa di masa mendatang. (SHF)

