Kembangkan Model Prediksi Progresivitas Limfoma Hodgkin, Wulyo Rajabto Raih Gelar Doktor di FKM UI

Depok, 23 Juni 2026 – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) kembali meluluskan doktor baru melalui sidang terbuka promosi doktor yang diselenggarakan di Kampus FKM UI. Pada kesempatan tersebut, Wulyo Rajabto berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Model Prediksi Progression-Free Survival Dua Tahun dan Analisis Biaya Kemoterapi Lini Pertama pada Pasien Limfoma Hodgkin di Lima Rumah Sakit Umum Pusat Vertikal Kementerian Kesehatan Republik Indonesia”.

Dalam penelitiannya, Wulyo mengangkat isu penting terkait limfoma Hodgkin, salah satu jenis kanker sistem limfatik yang umumnya menyerang usia produktif. Meskipun tingkat keberhasilan terapi terus meningkat, sebagian pasien masih mengalami progresivitas penyakit setelah menjalani kemoterapi lini pertama. Hingga saat ini, Indonesia belum memiliki model prognostik yang dikembangkan berdasarkan karakteristik pasien lokal untuk memprediksi risiko progresivitas penyakit tersebut. 

Penelitian menggunakan desain kohort retrospektif terhadap 300 pasien limfoma Hodgkin yang menjalani kemoterapi lini pertama dengan regimen ABVD di lima rumah sakit rujukan nasional, yaitu RSCM Jakarta, RSKD Jakarta, RSHS Bandung, RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, dan RSUP Dr. Kariadi Semarang pada periode 2019–2023.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 53 persen pasien limfoma Hodgkin di Indonesia tidak mengalami perburukan atau kekambuhan penyakit dalam dua tahun setelah menjalani pengobatan pertama. Penelitian ini juga menemukan beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko penyakit berkembang lebih cepat, seperti penyebaran kanker ke banyak kelenjar getah bening, adanya tanda-tanda peradangan yang tinggi dalam tubuh, ukuran tumor yang besar, kadar protein darah yang rendah, serta stadium kanker yang sudah lanjut saat pertama kali didiagnosis.

Berdasarkan temuan tersebut, Wulyo mengembangkan sebuah sistem penilaian risiko (skoring) yang dapat membantu dokter mengelompokkan pasien ke dalam kategori risiko rendah atau tinggi mengalami perburukan penyakit setelah terapi. Sistem ini terbukti memiliki tingkat akurasi yang sangat baik dalam memprediksi perkembangan penyakit. Dengan adanya sistem skoring ini, dokter dapat lebih dini mengenali pasien yang memerlukan pemantauan dan penanganan yang lebih intensif, sehingga peluang keberhasilan pengobatan dapat ditingkatkan.

Selain aspek klinis, penelitian ini juga menelaah biaya kemoterapi lini pertama pada pasien limfoma Hodgkin. Temuan menunjukkan bahwa biaya radiologi, khususnya pemeriksaan CT scan, merupakan komponen biaya terbesar dalam tata laksana pasien. Melalui penerapan sistem skoring yang dikembangkan, pasien dengan risiko rendah dapat menjalani evaluasi CT scan yang lebih sederhana tanpa mengurangi kualitas pemantauan klinis. Strategi ini berpotensi menghasilkan penghematan biaya sekitar Rp14,7 juta per pasien atau sebesar 33,3 persen dibandingkan pola pemantauan konvensional.

Menurut Wulyo, model yang dihasilkan tidak hanya berkontribusi dalam meningkatkan ketepatan prediksi prognosis pasien, tetapi juga dapat mendukung penerapan risk-adapted therapy dan risk-adapted monitoring yang lebih efisien serta sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan kanker sekaligus mengoptimalkan penggunaan sumber daya kesehatan di Indonesia.

Melalui penelitian ini, FKM UI kembali menunjukkan kontribusinya dalam menghasilkan inovasi berbasis bukti ilmiah yang mendukung penguatan sistem kesehatan nasional. Temuan yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan kebijakan klinis, mendukung efisiensi pembiayaan kesehatan, serta memperkuat tatalaksana limfoma Hodgkin di berbagai rumah sakit rujukan di Indonesia.

Dalam sidang promosi doktor yang diselenggarakan pada 23 Juni 2026 tersebut, Wulyo Rajabto dibimbing oleh Prof. dr. Asri C. Adisasmita, M.P.H., M.Phil., Ph.D. sebagai Promotor, dengan Prof. Dr. dr. Ratna Djuwita, M.P.H., dan Prof. Dr. dr. Noorwati Soetandyo, Sp.PD-KHOM sebagai Ko-Promotor. Tim penguji terdiri atas Dr. dr. Agnes Stephanie Harahap, Sp.PA selaku Ketua Tim Penguji, serta Prof. Dr. drg. Mardiati Nadjib, M.Sc., dr. Syahrizal Syarif, M.P.H., Ph.D., dan Dr. dr. Amaylia Oehadian, Sp.PD-KHOM sebagai anggota penguji. (wrk)