Depok, 23 Juni 2026 — Stunting masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Berbagai kebijakan percepatan penurunan stunting telah dijalankan oleh pemerintah pusat maupun daerah, namun efektivitas program di tingkat lokal tetap membutuhkan pendekatan yang lebih kontekstual, kolaboratif, dan sesuai dengan karakter sosial budaya masyarakat.
Berangkat dari persoalan tersebut, Fitrah Reynaldi berhasil meraih gelar Doktor dalam Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia melalui disertasi berjudul “Integrasi Kearifan Lokal untuk Penguatan Kolaborasi Polisentris dalam Penanganan Stunting di Provinsi Aceh: Pengembangan Kebijakan Berbasis Collaborative Governance Plus.” Sidang promosi doktor tersebut diketuai oleh Prof. Dr. Ede Surya Darmawan, S.K.M., M.D.M
Dalam penelitiannya, Fitrah menyoroti bahwa penanganan stunting tidak cukup hanya bertumpu pada program pemerintah yang bersifat administratif. Di daerah dengan kekuatan sosial budaya dan kelembagaan lokal yang kuat seperti Aceh, intervensi stunting perlu melibatkan aktor-aktor lokal yang memiliki legitimasi di tengah masyarakat, termasuk lembaga adat dan lembaga keagamaan.
Dalam pemaparannya, Fitrah menjelaskan bahwa program penurunan stunting akan lebih efektif apabila tidak hanya dirancang dari atas, tetapi juga mampu menyerap nilai, praktik, dan struktur sosial yang dipercaya masyarakat.
“Kearifan lokal perlu diintegrasikan secara institusional agar kolaborasi penanganan stunting tidak berhenti pada simbol, tetapi benar-benar menjadi bagian dari kerja bersama di tingkat masyarakat,” ujarnya.
Dari hasil analisis, Fitrah menemukan bahwa keterlibatan lembaga adat dan keagamaan tidak dapat diposisikan hanya sebagai pelengkap kegiatan. Keduanya perlu diberi ruang dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga penguatan pesan kesehatan di masyarakat. Dengan cara tersebut, penanganan stunting dapat lebih mudah diterima karena disampaikan melalui mekanisme sosial yang sudah dikenal dan dipercaya masyarakat.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan penanganan stunting membutuhkan lebih dari sekadar program teknis. Diperlukan tata kelola yang mampu menghubungkan data, kebijakan, aktor lokal, dan kepercayaan masyarakat. Dengan demikian, intervensi stunting dapat berjalan lebih kontekstual, berkelanjutan, dan berdampak nyata.
Melalui disertasi ini, Fitrah Reynaldi memberikan kontribusi penting dalam pengembangan kebijakan kesehatan masyarakat, khususnya dalam penanganan stunting berbasis kolaborasi dan kearifan lokal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan masyarakat dalam memperkuat strategi percepatan penurunan stunting di Aceh maupun daerah lain yang memiliki karakter sosial budaya serupa.
Dengan diraihnya gelar Doktor dalam Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Fitrah Reynaldi diharapkan dapat terus berkontribusi dalam pengembangan kebijakan kesehatan masyarakat yang tidak hanya berbasis bukti, tetapi juga peka terhadap konteks lokal dan kebutuhan masyarakat. (SHF)

