Depok, 3 Juli 2026 – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) kembali menghasilkan inovasi berbasis riset dalam penguatan sistem kesehatan melalui sidang terbuka promosi doktor. Pada kesempatan tersebut, Siti Khodijah Parinduri berhasil mempertahankan disertasinya yang mengembangkan Model Social Capital sebagai strategi untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan ketahanan rumah sakit dalam menghadapi bencana. Penelitian disertasi yang berjudul “Pengembangan Model Social Capital untuk Peningkatan Kesiapsiagaan dan Ketahanan Rumah Sakit dalam Menghadapi Bencana di Provinsi Jawa Barat Tahun 2026” ini menawarkan perspektif baru bahwa ketahanan rumah sakit tidak hanya bergantung pada infrastruktur, sumber daya, maupun prosedur teknis, tetapi juga pada kekuatan jejaring sosial, kepercayaan, kolaborasi, dan kemitraan lintas sektor.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya frekuensi bencana alam maupun non-alam di Indonesia yang menuntut rumah sakit tetap mampu memberikan pelayanan kesehatan secara optimal dalam situasi krisis. Selama ini, berbagai upaya penguatan kesiapsiagaan rumah sakit lebih banyak berfokus pada aspek teknis, seperti penyediaan sarana, pelatihan, dan prosedur operasional. Padahal, pengalaman berbagai bencana menunjukkan bahwa keberhasilan rumah sakit bertahan dalam kondisi darurat juga sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan sosial, koordinasi, dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Menggunakan pendekatan exploratory sequential mixed methods, penelitian dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu eksplorasi bersama para pakar kebencanaan dan kesehatan, pengembangan model pada lima rumah sakit di Jawa Barat, serta validasi model bersama perwakilan rumah sakit. Analisis kuantitatif dilakukan terhadap 110 tenaga kesehatan dan manajemen rumah sakit menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menguji hubungan antara modal sosial, kesiapsiagaan, dan ketahanan rumah sakit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial menjadi faktor utama yang memengaruhi kesiapsiagaan sekaligus ketahanan rumah sakit. Analisis SEM-PLS memperlihatkan bahwa modal sosial memiliki pengaruh positif yang sangat kuat terhadap kesiapsiagaan rumah sakit, sekaligus berpengaruh langsung terhadap ketahanan organisasi. Kesiapsiagaan juga terbukti menjadi variabel mediasi yang memperkuat hubungan tersebut, sehingga rumah sakit dengan modal sosial yang kuat memiliki kemampuan lebih baik dalam beradaptasi, mempertahankan pelayanan, serta mempercepat pemulihan saat maupun setelah terjadi bencana.
Salah satu kebaruan penelitian ini adalah keberhasilan mengembangkan Model Social Capital yang mengintegrasikan tiga dimensi utama, yaitu bonding, bridging, dan linking social capital. Dimensi bonding memperkuat solidaritas, kepercayaan, komunikasi, kepemimpinan, dan budaya organisasi di lingkungan internal rumah sakit. Dimensi bridging memperluas jejaring horizontal melalui kolaborasi dengan rumah sakit lain, puskesmas, perguruan tinggi, organisasi kemanusiaan, sektor swasta, media, dan komunitas. Sementara itu, dimensi linking membangun hubungan strategis dengan pemerintah, kementerian, BPBD, BNPB, TNI, Polri, serta berbagai lembaga pendukung lainnya guna memperkuat akses terhadap kebijakan, pendanaan, logistik, dan sumber daya ketika terjadi bencana.
Berbeda dengan model kesiapsiagaan yang selama ini lebih berorientasi pada aspek teknis, Model Social Capital menempatkan jejaring sosial sebagai fondasi utama dalam membangun rumah sakit yang tangguh. Model tersebut mengintegrasikan strategi penguatan modal sosial pada seluruh fase manajemen bencana, mulai dari prabencana melalui investasi modal sosial, saat bencana melalui optimalisasi jejaring dan kolaborasi, hingga pascabencana melalui penguatan kembali hubungan sosial dan kelembagaan. Pendekatan ini memungkinkan rumah sakit tidak hanya mampu merespons keadaan darurat, tetapi juga beradaptasi dan berkembang menjadi organisasi pembelajar (learning organization) yang semakin tangguh menghadapi krisis di masa mendatang.
Penelitian ini juga menghasilkan delapan strategi implementasi untuk memperkuat kesiapsiagaan rumah sakit, meliputi penguatan regulasi dan kebijakan internal, perencanaan kebencanaan, koordinasi lintas sektor, komunikasi efektif, pengelolaan sumber daya, sistem evakuasi, pelayanan medis darurat, serta manajemen logistik dan relawan. Seluruh strategi tersebut dirancang untuk mendukung terciptanya rumah sakit yang aman bencana (safe hospital) dan mampu mempertahankan keberlangsungan pelayanan kesehatan pada berbagai kondisi kedaruratan.
Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan rekomendasi strategis bagi Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, rumah sakit, organisasi profesi, lembaga akreditasi, hingga perguruan tinggi. Model yang dikembangkan direkomendasikan sebagai dasar penyusunan kebijakan penguatan Hospital Disaster Plan, pengembangan jejaring kemitraan lintas sektor, serta penyempurnaan standar akreditasi rumah sakit melalui penguatan aspek modal sosial dalam manajemen bencana.
Model Social Capital yang dikembangkan diharapkan dapat menjadi acuan bagi rumah sakit di Indonesia dalam membangun sistem pelayanan kesehatan yang lebih tangguh, adaptif, dan berkelanjutan dalam menghadapi berbagai ancaman bencana di masa depan.
Sidang terbuka promosi doktor Siti Khodijah Parinduri dipimpin oleh Prof. Dr. Ede Surya Darmawan, S.K.M., M.D.M. selaku Ketua Tim Penguji. Bertindak sebagai promotor Prof. Dr. drg. Wahyu Sulistiadi, M.A.R.S., didampingi ko-promotor Prof. Dr. Dra. Dumilah Ayuningtyas, M.A.R.S. Adapun tim penguji terdiri atas Prof. Dr. Drs. Sutanto Priyo Hastono, M.Kes.; Brigjen TNI Purn. Dr. dr. Soroy Lardo, Sp.PD., K.PTI., FINASIM.; Dr. Sumarjaya, S.K.M., M.M., M.F.P., C.F.A.; Dr. Hermawan Saputra, S.K.M., M.A.R.S., serta Ns. Maryami Yuliana Kosim, S.Kep., M.Kep., Ph.D. (wrk)

