Depok, 23 Desember 2025 — Program Studi S3 Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), menyelenggarakan sidang terbuka Promosi Doktor Epidemiologi dengan promovendus Hashem Sulaiman Hasan Arkok, mahasiswa asing asal Yaman yang menempuh pendidikan doktoralnya di UI melalui skema beasiswa KNB (Kemitraan Negara Berkembang). Promosi doktor ini mencerminkan komitmen FKM UI dalam mengembangkan pendidikan dan riset kesehatan masyarakat berkelas dunia serta memperkuat jejaring akademik global.
Sidang terbuka dipimpin oleh Prof. drg. Nurhayati A. Prihartono, M.P.H., M.Sc., Sc.D., selaku Ketua Sidang sekaligus Ko-Promotor, dengan Dr. dr. Tri Yunis Miko Wahyono, M.Sc. sebagai Promotor dan Dr. Dipo Aldila, S.Si., M.Si. sebagai Ko-Promotor. Bertindak sebagai Ketua Tim Penguji adalah Dr. Dian Ayubi, S.K.M., MQIH., dengan anggota penguji dr. Syahrizal Syarif, M.P.H., Ph.D.; Dr. dr. Hariadi Wibisono, M.P.H.; Dr. Soewarta Kosen, M.P.H., Dr.PH.; serta Dr. dr. Vivi Setiawaty, M.Biomed., Ph.D.
Dalam sidang tersebut, Hashem mempertahankan disertasi berjudul “Kemajuan Menuju Eliminasi Hepatitis B di Indonesia pada Tahun 2030: Studi Penilaian Komprehensif yang Dilakukan pada Tahun 2025.”
Dalam pemaparan ringkasan disertasinya, Hashem menjelaskan bahwa hepatitis B masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia dan merupakan tantangan besar dalam mencapai target eliminasi pada tahun 2030 sebagaimana ditetapkan oleh World Health Organization (WHO). Meskipun berbagai upaya pengendalian telah dilakukan, kemajuan yang dicapai belum merata antarwilayah dan masih menghadapi hambatan dari aspek epidemiologis, efektivitas intervensi program, serta pemahaman masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk menilai secara komprehensif kemajuan Indonesia menuju eliminasi hepatitis B melalui pendekatan terintegrasi, meliputi analisis temporal dan spasial kejadian hepatitis B, pengembangan dan penerapan model matematika SIVRM sebagai model baru (novel) yang dikembangkan oleh promovendus, serta studi Knowledge, Attitudes, and Practices (KAP) di kalangan pasien hepatitis B di Jakarta.
Hasil analisis temporal dan spasial menunjukkan bahwa kejadian hepatitis B di Indonesia masih bersifat fluktuatif, dengan peningkatan kasus kembali terlihat pada periode 2021–2022. Selain itu, terdapat ketimpangan geografis yang nyata antarprovinsi, khususnya di Papua Barat dan Papua Selatan, yang masih mencatat angka kejadian hepatitis B tinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa capaian eliminasi hepatitis B di Indonesia belum merata dan membutuhkan penguatan intervensi yang lebih berkeadilan.
Melalui pemodelan matematika SIVRM, hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pengendalian yang saat ini diterapkan belum cukup untuk mencapai target eliminasi hepatitis B WHO 2030, yakni penurunan 90% infeksi baru dan 65% kematian akibat hepatitis. Proyeksi model menunjukkan bahwa eliminasi hepatitis B berpotensi dicapai apabila cakupan vaksinasi dewasa mencapai minimal 59% dan cakupan vaksinasi bayi minimal 70%. Selain itu, ditemukan potensi reaktivasi hepatitis B pada sekitar 30% individu yang telah pulih, sehingga menegaskan pentingnya pemantauan klinis jangka panjang.
Sementara itu, studi KAP pada pasien hepatitis B di Jakarta mengungkapkan masih adanya kesenjangan pengetahuan dan literasi kesehatan, termasuk kesalahpahaman terkait penularan dan perilaku pencegahan. Sebagian besar pasien belum pernah mengikuti kegiatan edukasi atau kampanye kesadaran hepatitis B. Analisis menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan, sikap, dan praktik, di mana tingkat pengetahuan yang lebih baik berkorelasi dengan sikap dan praktik pencegahan yang lebih positif.
Berdasarkan keseluruhan temuan tersebut, Hashem menyimpulkan bahwa kemajuan Indonesia menuju eliminasi hepatitis B pada tahun 2030 masih belum optimal dan belum merata antarwilayah. Oleh karena itu, diperlukan penguatan strategi pengendalian hepatitis B yang terintegrasi dan berbasis data, peningkatan cakupan vaksinasi, perluasan skrining, penguatan edukasi pasien, serta pemerataan akses layanan pencegahan dan pengobatan.
Berdasarkan hasil disertasinya tersebut, Hashem berhasil dinyatakan sebagai Doktor dalam Bidang Epidemiologi dengan yudisium cum laude. Hashem adalah lulusan S3 Epidemiologi tahun 2025 ke-19, lulusan S3 Epidemiologi ke 134 dan lulusan S3 di FKM UI secara keseluruhan yang ke-485.
Keberhasilan promosi doktor mahasiswa internasional ini sekaligus menegaskan peran strategis FKM UI sebagai pusat unggulan pendidikan dan riset kesehatan masyarakat di tingkat nasional dan global, yang berkontribusi aktif dalam menjawab tantangan kesehatan dunia melalui kolaborasi lintas negara dan pendekatan ilmiah yang inovatif. (promovendus/wrk)

