#Publikasi, Posyandu Tetap Bergerak di Tengah Pandemi: Pelajaran dari Surveilans Kesehatan Ibu dan Anak Berbasis Komunitas

Ketika pandemi COVID-19 melanda, hampir seluruh tatanan layanan kesehatan mengalami tantangan yang luar biasa. Layanan kesehatan formal sempat kewalahan, sementara kegiatan komunal yang menjadi tulang punggung kesehatan masyarakat seperti Posyandu harus dihentikan sementara demi alasan keamanan. Namun, di tengah keterbatasan tersebut, muncul berbagai inovasi yang justru memperkuat peran masyarakat dalam menjaga kesehatan ibu dan anak. Fenomena inilah yang menjadi fokus utama dalam penelitian mengenai praktik surveilans kesehatan ibu dan anak (KIA) berbasis komunitas selama dan setelah masa pandemi di Indonesia.

Penelitian mendalam ini dilakukan oleh Wahyu Septiono, Ferdinand Pangihutan Siagian, Lutfan Lazuardi, Samsriyaningsih Handayani, dan Sabarinah Prasetyo. Studi mereka yang berjudul Lessons of Practices of Community-Based Maternal and Child Health Surveillance System During and Post COVID-19 in Indonesia telah diterbitkan pada jurnal bereputasi Q1, Global Health Action. Dengan mengambil lokus di Kota Depok, Jawa Barat, para peneliti melibatkan kader Posyandu, tokoh masyarakat, aparat wilayah, hingga petugas Puskesmas untuk memotret bagaimana sistem pemantauan kesehatan warga tetap berjalan meskipun interaksi tatap muka sangat dibatasi.

Hasil studi menunjukkan bahwa kader Posyandu berperan sebagai ujung tombak yang sangat krusial dalam surveilans KIA. Di saat krisis, mereka mampu beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi sederhana seperti grup WhatsApp dan formulir digital untuk memastikan data kesehatan tetap mengalir. Selain itu, strategi kunjungan rumah ke rumah secara terbatas dan penguatan komunikasi antarwarga menjadi kunci agar kondisi ibu hamil serta anak-anak tetap terpantau dengan baik. Pendekatan ini terbukti membantu mempercepat pelaporan dan memberikan respons cepat terhadap kondisi kesehatan yang berisiko di lingkungan sekitar.

Meski demikian, proses adaptasi ini tentu memiliki tantangan tersendiri. Para peneliti mencatat adanya kendala dalam kesiapan digital, di mana tidak semua kader memiliki keterampilan yang sama sehingga sering terjadi beban kerja ganda akibat pencatatan manual dan digital yang dilakukan bersamaan. Selain itu, banyaknya aplikasi pelaporan yang belum terintegrasi sering kali menambah beban administrasi bagi para kader. Tantangan sosial seperti stigma di masyarakat juga sempat menjadi penghambat bagi warga untuk terbuka mengenai kondisi kesehatan mereka yang sebenarnya.

Studi ini menegaskan bahwa sistem surveilans berbasis komunitas memiliki peran vital dalam menjaga keberlanjutan layanan kesehatan, terutama di masa krisis. Ke depan, penguatan kapasitas kader dan penyederhanaan sistem pelaporan menjadi prioritas yang perlu segera diwujudkan. Melalui integrasi data yang lebih baik, inovasi yang lahir dari tekanan pandemi ini diharapkan dapat terus dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk memperkuat sistem kesehatan nasional kita. (dpw/cin)

Informasi Publikasi: Artikel ini disusun berdasarkan penelitian oleh Wahyu Septiono, Ferdinand Pangihutan Siagian, Lutfan Lazuardi, Samsriyaningsih Handayani, dan Sabarinah Prasetyo dengan judul Lessons of practices of community-based maternal and child health surveillance system during and post COVID-19 in Indonesia. Publikasi ini terbit di Jurnal Q1 Global Health Action dan dapat diakses melalui tautan https://doi.org/10.1080/16549716.2025.2547438.