Depok, 5 Mei 2026—Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) resmi menggelar pertemuan Dekan dari masa ke masa sebagai ajang silaturahmi sekaligus diskusi strategis yang diselenggarakan pada 5 Mei 2026 di Amanaia D’Mall. Kegiatan ini mempertemukan pimpinan fakultas saat ini dengan para Dekan terdahulu untuk membahas arah pengembangan FKM UI ke depan, serta berbagi pengalaman, refleksi, dan gagasan mengenai kontribusi dalam pembangunan kesehatan masyarakat di Indonesia.
Dalam suasana yang hangat ini, pertemuan dihadiri oleh Prof. dr. Kemal N. Siregar, S.K.M., M.A, Ph.D., Dekan FKM UI periode 1990–1993; Prof. dr. Ascobat Gani, M.P.H., Dr.PH., Dekan FKM UI periode 1993–1996 dan 1996-1999; Prof. Dr. dr. Sudarto Ronoatmodjo, S.K.M., M.Sc., Dekan FKM UI periode 1999–2004; dr. Hasbullah Thabrany, M.P.H., Dr.PH., Dekan FKM UI periode 2004–2008; Prof. drs. Bambang Wispriyono, Apt., Ph.D., Dekan FKM UI periode 2008-2013; dr. Agustin Kusumayati, M.Sc., Ph.D., Dekan FKM UI periode 2013–2017 dan 2017–2019; Prof. Dr. dr. Sabarinah, M.Sc., Dekan FKM UI periode 2019–2021 serta Prof. dr. Mondastri Korib Sudaryo, M.S., D.Sc., Dekan FKM UI periode 2021–2025. Kegiatan ini dibuka dengan tujuan mempererat hubungan Dekan FKM UI dari masa ke masa sekaligus mengajak para Dekan terdahulu untuk berkontribusi dalam agenda besar fakultas, termasuk peringatan Dies Natalis ke-61 FKM UI yang akan diselenggarakan pada 1 Juli 2026.
Dekan FKM UI saat ini, Prof. Dr. Indri Hapsari Susilowati, S.K.M., M.K.K.K., menyampaikan rencana peluncuran buku yang akan merekam kontribusi FKM UI selama lebih dari enam dekade. “Seiring dengan perjalanan 61 tahun FKM UI, saya bermaksud menyusun sebuah karya literatur yang merangkum jejak langkah dan dampak positif fakultas ini terhadap kesehatan masyarakat Indonesia. Usia enam dekade ini merupakan bukti nyata bahwa kehadiran FKM UI senantiasa menjadi motor penggerak dalam transformasi kesehatan di tanah air,” ujar Prof. Indri. Ia juga menekankan pentingnya dokumentasi yang berbasis bukti. “Kalau tidak dibukukan, rasanya menjadi sia-sia. Kita sering menyebut FKM itu pionir, tetapi mana evidence base-nya? Karena itu, buku ini diharapkan menjadi bukti nyata kontribusi FKM UI bagi kesehatan masyarakat di Indonesia,” tambah Prof. Indri.
Selain membahas rencana peluncuran buku, Prof. Indri juga memaparkan perkembangan terkini fakultas, termasuk penyesuaian struktur organisasi sesuai regulasi universitas serta arah strategis FKM UI periode 2025–2029. Salah satu fokus yang disoroti adalah penguatan program kesehatan mental sebagai respons terhadap isu kesehatan masyarakat yang semakin meningkat dan belum sepenuhnya terakomodasi dalam kebijakan sebelumnya.
Di bidang pendidikan, FKM UI menyikapi dinamika kompetisi global dan pertumbuhan program studi kesehatan masyarakat dengan melakukan transformasi strategis. Sebagai langkah nyata, fakultas memperkuat jangkauan melalui pengembangan Program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) serta memperkaya diversifikasi keilmuan melalui pembukaan program studi baru guna mengukuhkan posisi FKM UI sebagai pemimpin pasar. Sementara itu, di bidang penelitian, FKM UI didorong meningkatkan publikasi ilmiah dan luaran riset guna mendukung target universitas dalam peningkatan peringkat global. Kolaborasi riset serta penguatan kontribusi dalam bentuk publikasi dan hak kekayaan intelektual menjadi fokus utama.
Diskusi semakin hidup dengan turut urun rembugnya ppparra Dekan terdahulu. Prof. Ascobat Gani membagikan refleksi historis mengenai perjalanan panjang institusi serta kontribusinya dalam kebijakan kesehatan nasional. “Peraturan Presiden, Peraturan Menteri, hingga berbagai kebijakan kesehatan yang ada, banyak diantaranya melibatkan kontribusi dari FKM UI,” ujar Prof. Ascobat.
Para Dekan terdahulu juga menekankan pentingnya mendokumentasikan sejarah dan kontribusi tersebut secara sistematis agar tidak hilang dan dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi selanjutnya. Selain itu, diskusi turut menyinggung pengelolaan sumber daya, termasuk pengembangan dana abadi (endowment fund) sebagai upaya menjaga keberlanjutan program akademik dan mendukung mahasiswa secara finansial.
Menjelang penutup, para Dekan menyampaikan refleksi dan harapan terhadap masa depan FKM UI. Terdapat tiga poin utama yang menjadi penekanan. Pertama, pentingnya memperjelas identitas dan posisi keilmuan kesehatan masyarakat agar tidak lagi dipandang sebagai bidang yang berada “di antara”, melainkan sebagai disiplin dengan landasan ilmiah yang kuat dan khas.
Kedua, perlunya memperkuat kontribusi nyata bagi masyarakat dan kebijakan publik, sehingga kehadiran FKM UI semakin dirasakan manfaatnya secara luas, tidak hanya dalam ranah akademik. Ketiga, optimalisasi pemanfaatan sumber daya dan aset fakultas agar dapat memberikan dampak yang lebih besar serta mendukung keberlanjutan institusi di masa depan.
Refleksi dan harapan tersebut menjadi penutup diskusi yang tidak hanya bernuansa nostalgia, tetapi juga sarat dengan arah dan komitmen untuk menjaga relevansi serta kontribusi FKM UI dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. (EAR)

