Rancang Inovasi Personal Health Record untuk Orang dengan Lupus, Mahasiswa FKM UI Raih Juara 3 di CIMSAThon 2026

Jakarta Pusat, 24 Mei 2026 — Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI). Tiga mahasiswa Program Studi S-1 Reguler Kesehatan Masyarakat angkatan 2023, Rebecca Renaning Pertiwi, Shesy Budiyawati, dan Lyandra Syahsabila Adhi, berhasil meraih Juara 3 dalam ajang CIMSAThon 2026, sebuah kompetisi hackathon teknologi kesehatan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh CIMSA Indonesia.

CIMSAThon merupakan kompetisi inovasi digital di bidang kesehatan yang mengajak mahasiswa untuk merancang solusi berbasis teknologi dalam menjawab tantangan sistem kesehatan di Indonesia. Mengangkat tema “Merancang Solusi Digital untuk Sistem Kesehatan Indonesia”, kompetisi ini menjadi ruang bagi peserta untuk mengembangkan gagasan inovatif yang tidak hanya kreatif, tetapi juga relevan dengan kebutuhan layanan kesehatan saat ini.

Dalam kompetisi tersebut, tim FKM UI mengembangkan gagasan berupa sistem informasi Personal Health Record (PHR) terintegrasi dengan pilot project bagi Orang dengan Lupus (Odapus). Sistem ini dilengkapi dengan Clinical Decision Support System (CDSS) yang dirancang untuk membantu tindakan klinis tenaga kesehatan, meningkatkan pemahaman pasien terhadap kondisi kesehatannya, serta menjadi bahan advokasi bagi Yayasan Lupus Indonesia.

Rebecca menjelaskan bahwa ide tersebut berangkat dari persoalan data kesehatan pasien yang kerap tersebar dalam berbagai format, seperti laporan rawat jalan, radiologi, laboratorium, dan dokumen medis lainnya. Kondisi ini membuat pasien kesulitan menyimpan dan mengakses riwayat kesehatannya secara optimal dan konsisten. Tim menilai bahwa penyakit kronis, termasuk diabetes, autoimun, dan khususnya Lupus SLE, membutuhkan wadah digital yang mampu mendukung keberlanjutan perawatan atau continuity of care.

Berada di tengah kompetisi yang banyak diikuti oleh mahasiswa dengan latar belakang kedokteran dan teknologi menjadi tantangan tersendiri bagi tim FKM UI. Rebecca mengungkapkan bahwa timnya sempat merasa berada di posisi yang tidak mudah karena tidak mendalami aspek klinis sedalam peserta dari kedokteran dan memiliki keterbatasan dalam pengembangan prototipe dibandingkan tim yang beranggotakan mahasiswa ilmu komputer. Namun, keterbatasan tersebut justru menjadi dorongan bagi tim untuk terus belajar dan memaksimalkan sumber daya yang dimiliki. 

Menurut Lyandra, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi tim adalah keterbatasan waktu presentasi. “Di kompetisi ini, waktu presentasinya hanya tujuh menit. Jadi kami harus memastikan inovasi yang dibawa bisa tersampaikan dengan baik, jelas, dan tetap menarik dalam waktu yang singkat,” jelasnya.

“Kami berharap pencapaian ini bisa menjadi motivasi untuk terus belajar dan berkembang menjadi lebih baik lagi ke depannya. Kami juga berharap kompetisi ini dapat membuka peluang baru, menambah relasi, serta memberikan kontribusi positif,” tutur Shesy.

Rebecca juga berpesan agar mahasiswa tidak berhenti berkarya hanya di ruang kelas. Menurutnya, proyek akhir mata kuliah dapat dikembangkan kembali menjadi karya yang lebih luas selama tetap mengedepankan integritas dan kebermanfaatan.

Keberhasilan tiga mahasiswa ini menunjukkan bahwa mahasiswa FKM UI mampu menghadirkan perspektif kesehatan masyarakat dalam pengembangan inovasi digital. Capaian ini sekaligus menjadi bukti bahwa kolaborasi, keberanian mencoba, dan kemauan untuk terus belajar dapat membuka jalan bagi mahasiswa untuk berprestasi di tingkat nasional. (SHF)